Dr. Spiros Zodhiates
Selama prosesi pemakaman Abraham Lincoln, seorang ibu Negro, berdiri di belakang kerumunan orang-orang kulit putih, mengangkat bayinya tinggi-tinggi di atas kepala tatkala jenazah Presiden yang mati sahid itu lewat, dan berkata, ”Pandanglah kepadanya nak; dialah orang yang mati untukmu,” Itu sebenarnya yang hendak dikatakan oleh Rasul Paulus waktu ia menulis kepada orang Kristen di Korintus; itu yang hendak dikatakannya kepada semua orang Kristen: ”Pandanglah kepada Kristus. Dialah yang mati untukmu,” Maukah anda melakukan itu? Dan bolehkan saya mengundang semua, terutama yang untuk siapa kematian Kristus masih belum berarti apa-apa secara pribadi, untuk memandang kepada-Nya? Pemandangan itu boleh jadi akan memperhatikan kepada anda kebebasan yang ada hasrati tanpa sadar dan kedamaian hati yang anda tidak bisa temukan di mana pun dan di dalam apa pun. Bahwa Kristus telah mati merupakan suatu kenyataan sejarah. Kematian itu terjadi sekitar tahun 30 Masehi, sebagaimana dicatat oleh ahli sejarah kafir Tacitus, yang menulis tujuh puluh atau delapan puluh tahun kemudian, bahwa seorang Kristus telah dibunuh pada waktu Romawi berada dibawah pemerintahan kaisar Tiberius oleh Pontius Pilatus. Dua ahli sejarah
kuno lainnya, Suetonius dan Pllini, juga menghunjuk kepada Dia. Dan sekarang, di dalam Pertama Korintus, kita memiliki sebuah surat yang ditulis oleh rasul Paulus pada tahun 55 Masehi, yang keasliannya diakui, bahkan oleh ahli-ahli sejarah dan theologia liberal yang skeptis. Kristus telah mati. Tetapi bagaimana bisa dikatakan bahwa kita yang menyebabkan peristiwa ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menggemparkan sepanjang dua puluh abad? Kita menemukan peristiwa kepada sejarah ini, bersama-sama dengan kebangkitan Tuhan kita, menjadi pusat dan kenyataan yang sangat menyolok dari Perjanjian Baru. Seperempat Injil dicurahkan pada cerita kematian Kristus. Ribuan peristiwa menarik dari karir-Nya dilampaui, ribuan khotbah dan percakapanNya tidak pernah disebutkan, supaya tersedia berlimpah ruang untuk menceritakan kematian-Nya. Tentu saja hal ini sangat aneh, kalau Yesus bukan apa-apa selain sebagai seorang guru yang ilustratif. Pada kenyataannya, dalam surat-surat yang menggenapkan paro akhir dari Perjanjian Baru, hampir tidak ada kutipan dari bibir Yesus. Sekali lagi, betapa aneh, kalau Yesus hanyalah guru dunia yang terhebat. Suratsurat ini nampaknya sama sekali tidak menyangkut dengan kenyataan bahwa Dia adalah seorang guru dan pembaharu, tetapi
“Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah aku terima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,” (1 Korintus 15:3)
Dr. Spiros Zodhiates
Bahwa Kristus telah mati merupakan suatu kenyataan sejarah.

Apa alasan bagi penekanan-penekanan tertentu ini? Suatu telaah terhadap Perjanjian Baru akan meyakinkan kita bahwa Yesus telah melatih murid-murid-Nya untuk melihat penderitaan-penderitaan-Nya dan kematian-Nya sebagai klimaks dari pernyataan kasih Allah kepada dunia. Inti keseluruhan cerita Injil digaris bawahi oleh Yohanes Pembabtis dalam pernyataannya yang tegas mengenai Kristus, ”Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia,”(Yohanes 1:29). Domba di Palestina merupakan hewan korban yang khusus, dipergunakan dalam upacara penebusan dosa. Sesegera Yesus memulai pelayananNya kepada umum, Ia mulai menghunjuk pada ucapan yang mengandung teka-teki ihwal kematianNya. Ia tidak menyatakan itu secara terbuka, karena pikiran bebas orang banyak belum siap untuk menghargai Mesias sebagai domba korban tetapi sebagai raja duniawi. Namun, gagasan mengenai kematian-Nya telah terbungkus di dalam keseluruhan perkataan Yesus. Waktu Nikodemus datang kepada-Nya di malam hari untuk berbicara dengan Dia mengenai pekerjaanNya, Yesus berkata kepadanya, ”Seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,”(Yohanes 3:14). Ungkapan ini menunjukan pada penggantungan-Nya di kayu salib. Tuhan pergi ke Bait Allah dan mengusir para penukar uang yang membuat Bait Allah itu seperti sarang penyamun; dan tatkala gerombolan orang banyak itu marah, Ia dengan kalem berkata, ”Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikan kembali,” (Yohanes2:19). Orang banyak itu berpikir Ia menunjuk pada bangunan Bait itu, tetapi Ia sebenarnya berbicara tentang kekudusan tubuh-Nya, kematian tubuh-Nya, dan kebangkitan tubuh-Nya. Sementara di Kapernaum Ia berkata, ”Roti yang Kuberikan untuk hidup dunia,” (Yohanes 6:5). Di Yerusalem Ia berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi dombadombanya,” (Yohanes 10:11). Kepada orang-orang Yunani yang datang untuk melihat-Nya, Dia berkata, ”… dan aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu.” (Yohanes 12:32). Orang-orang kepada siapa Ia berbicara bisa sangat sukar memahami Dia, tetapi belakangan mereka menyadari bahwa Ia menunjuk kepada penyalibanNya. Tetapi kepada sahabat-sahabat terdekat-Nya, Yesus berbicara lebih terbuka. ”Sejak waktu itu,” tulis Matius, ”Yesus mulai menyatakan kepada muridmurid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh
dan dibangkitkan pada hari ketiga,” Matius 16:21). Sungguh-sungguh mengejutkan betapa banyak kali dimuatkan di dalam Injil bahwa Yesus mengatakan di dalam Injil bahwa Yesus mengatakan kepada muridmurid-Nya bahwa Ia harus di bunuh. “Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang,” (Matius 20:28), ”Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalib,” (Matius 26:2). ”Inilah tubuhKu yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah menjadi peringatan akan Aku,” (Lukas 22:19). ”Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (Matius 26:28). Inilah bukti bahwa Tuhan Yesus ingin memberi kesan yang sangat kuat ke atas pengikut-pengikut-Nya kenyataan bahwa Ia menyerahkan hidup-Nya untuk mereka. Rasul Paulus juga menekankan kematian Kristus didalam surat-suratnya: ”Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kamu terima sendiri,” tulisnya kepada orang-orang percaya di Korintus, “ialah bahwa Kritus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci.”(1 Korintus 15:3). Kata kerja Yunani apethanen, ”mati” berbentuk aorist tense, indicative mood, yang mengindikasikan
bahwa Kristus melakukan ini sekali untuk semua, di dalam dunia sejarah. Sepanjang yang menyangkut DiriNya, sudah berlalu dan sudah dilaksanakan. Ia tidak akan melakukan lagi. Hal itu merupakan suatu kenyataan yang positif, absolut yang tercatat didalam surat-surat abadi pada lembaran-lembaran waktu, yang tak satupun diskusi atau argumen pernah dapat menghapusnya. Tetapi di sini Paulus tidak semata-mata mengajarkan sejarah. Lebih dari pada itu, ia mengajarkan doktrin. Doktrin ini merupakan tujuan untuk apa Kristus mati, yaitu membuat penyaliban sebagai sesuatu yang vital dan penting bagi anda dan saya.
Ia tidak menyatakan itu secara terbuka, karena pikiran bebas orang banyak belum siap untuk menghargai Mesias sebagai domba korban tetapi sebagai raja duniawi.
5BERITA MIMBAR edisi 305 | April 2021
“Kristus mati karena dosa-dosa kita.” Itulah beban dari pesan Pontius, orang-orang Kafir dan umat Israel saja, yang membawa Kristus kepada maut. Dosadosa kita, dosa-dosa anda, dosa-dosa saya dan dosadosa setiap orang, juga, yang telah membawa Dia ke salib Golgota. Dosa dari semua kita yang telah membunuh Dia. Di dalam diri-Nya sendiri kesalahan dan hukuman bagi dosa-dosa kita. Dengan memikul dosa-dosa kita, Ia membebaskan kita dari beban dosa-dosa itu. Ia mati untuk dosa-dosa kita supaya kita tidak mati di dalam dosa-dosa kita. Ia diizinkan untuk dibunuh oleh dosadosa kita, supaya dosa-dosa itu tidak bisa membunuh kita. Rasul Paulus menyatakan hal ini dengan jelas tatkala ia mengatakan “Kristus telah mati karena dosadosa kita adalah menjadi sasaran kutukan Hukum Taurat; menanggung murka dari pemberi dan hakim dari hukum itu. Betapa sangat menyedihkan apa yang Kristus derita tatkala Ia memanjatkan teriakan yang sangat pahit, ”Allahku, mengapa engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46). Ada tiga sikap ditujukan oleh mereka yang menyaksikan penyaliban Kristus.
Beberapa orang, seperti serdadu-serdadu itu memandang penderitaan-Nya dengan apati dan ketidakacuhan. Kelompok kedua para iman, orang-orang Parisi dan berbagi pengejek berteriak “Menjauhlah dari Dia!” Sikap mereka itu adalah salah satu bentuk ungkapan kebencian. Dan kelompok ketiga, kelompok yang kecil, terdiri atas mereka yang memandang kematian Kristus dengan simpati sepenuh hati. Beberapa di antara mereka bahkan akan dengan senang hati mau menggantikan tempat-Nya kalau mereka bisa. Apati, antipati, simpati! Di mana anda cocok? Dengan para serdadu, bersama para pengejek, atau ikut para murid? Apakah anda tidak acuh kepada-Nya, apakah anda cinta kepadaNya? Pilihan tergantung pada anda.Pula terpulang kepada anda sendiri apakah anda mau menerima Dia dengan iman yang bersahaja dan mempercayai Dia sebagai Juruselamat anda dari anda dibebaskan dari kesalahan, kuasa dan hukuman dosa? Atau tidak, dan anda nanti diharuskan menanggung kesalahan, kuasa dan hukuman terhadap dosa anda. @
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. Matius 28:19-20