Pdt. Ayub Sugiharto, S.Th., M.Ag. 

Pendahuluan Keberadaan minyak urapan begitu dikenal oleh gereja dan orang Kristen pada umumnya, namun pada kenyataannya banyak orang Kristen, bahkan Hamba Tuhan yang tidak tahu atau tidak mengerti ajaran Alkitabiah mengenai minyak urapan. Akibatnya tidak sedikit orang Kristen yang mengajarkan tentang pengurapan hanya dengan menggunakan cara pandang Perjanjian Lama tanpa melihat arti dan penggunaannya dalam Perjanjian Baru. Selain itu juga muncul pengajaran dan praktik pengurapan yang salah, yakni dengan menganggap bahwa “minyak urapan” itu identik dengan karya Roh Kudus. Akibatnya, muncul anggapan dikalangan jemaat bahwa minyak urapan seakan-akan mengandung semacam kekuatan supranatural. Kesalahan pengajaran ini menimbulkan dampak luar biasa dalam kehidupan orang Kristen itu sendiri, terutama terjadinya kemunduran rohani dalam kehidupan orang percaya. Contoh nyata adalah dengan adanya orang-orang Kristen yang menjadikan “minyak urapan” sebagai jimat pengasihan, untuk penglaris, untuk mendapat jodoh, untuk kesuksesan, dan lain-lain. Itulah sebabnya perlu bagi penulis untuk secara khusus membahas arti dan fungsi minyak urapan dalam perspektif Alkitab. Perspektif Perjanjian Lama Arti Minyak Urapan Perjanjian Lama menggunakan dua kata Ibrani untuk istilah minyak urapan, yaitu : Shemen dan Mishchah. Kata “shemen” diterjemahkan dengan kata “minyak”. Namun secara umum, ”shemen usually refers to olive oil which was prepared for various purposes.” Pada masa itu penggunaan minyak zaitun merupakan hal biasa bagi masyarakat Yahudi. Minyak digunakan dalam banyak hal, baik menyangkut urusan pribadi dalam keseharian maupun yang berhubungan dengan ibadah kepada Tuhan. Biasanya orang Israel menggunakan minyak ketika memberikan persembahan. Tentu mereka akan kesulitan membakar ternak kurban jika tidak ada minyak (Keluaran 22:29), minyak juga dipakai untuk memberi persembahan berupa roti (Keluaran 29:40), dan untuk lampu rumah Tuhan (Keluaran 25:6). Dalam kehidupan sehari-hari, minyak dipakai untuk pengobatan (Yesaya 1:6), dan utuk mengolah makanan (1 Raja-raja 17:12-16). Jadi, kata Shemen menunjuk pada minyak Dalam Perspektif Alkitab dan Relevansinya Pada Masa Kini Pdt. Ayub Sugiharto, S.Th., M.Ag. Pendahuluan Keberadaan minyak urapan begitu dikenal oleh gereja dan orang Kristen pada umumnya, namun pada kenyataannya banyak orang Kristen, bahkan Hamba Tuhan yang tidak tahu atau tidak mengerti ajaran Alkitabiah mengenai minyak urapan. Akibatnya tidak sedikit orang Kristen yang mengajarkan tentang pengurapan hanya dengan menggunakan cara pandang Perjanjian Lama tanpa melihat arti dan penggunaannya dalam Perjanjian Baru. Selain itu juga muncul pengajaran dan praktik pengurapan yang salah, yakni dengan menganggap bahwa “minyak urapan” itu identik dengan karya Roh Kudus. Akibatnya, muncul anggapan dikalangan jemaat bahwa minyak urapan seakan-akan mengandung semacam kekuatan supranatural. Kesalahan pengajaran ini menimbulkan dampak luar biasa dalam kehidupan orang Kristen itu sendiri, terutama terjadinya kemunduran rohani dalam kehidupan orang percaya. Contoh nyata adalah dengan adanya orang-orang Kristen yang menjadikan “minyak urapan” sebagai jimat pengasihan, untuk penglaris, untuk mendapat jodoh, untuk kesuksesan, dan lain-lain. Itulah sebabnya perlu bagi penulis untuk secara khusus membahas arti dan fungsi minyak urapan dalam perspektif Alkitab. Perspektif Perjanjian Lama Arti Minyak Urapan Perjanjian Lama menggunakan dua kata Ibrani untuk istilah minyak urapan, yaitu : Shemen dan Mishchah. Kata “shemen” diterjemahkan dengan kata “minyak”. Namun secara umum, ”shemen usually refers to olive oil which was prepared for various purposes.” Pada masa itu penggunaan minyak zaitun merupakan hal biasa bagi masyarakat Yahudi. Minyak digunakan dalam banyak hal, baik menyangkut urusan pribadi dalam keseharian maupun yang berhubungan dengan ibadah kepada Tuhan. Biasanya orang Israel menggunakan minyak ketika memberikan persembahan. Tentu mereka akan kesulitan membakar ternak kurban jika tidak ada minyak (Keluaran 22:29), minyak juga dipakai untuk memberi persembahan berupa roti (Keluaran 29:40), dan untuk lampu rumah Tuhan (Keluaran 25:6). Dalam kehidupan sehari-hari, minyak dipakai untuk pengobatan (Yesaya 1:6), dan utuk mengolah makanan (1 Raja-raja 17:12-16). Jadi, kata Shemen menunjuk pada minyak Dalam Perspektif Alkitab dan Relevansinya Pada Masa Kini Pdt. Ayub Sugiharto, S.Th., M.Ag. Minyak Urapan Abstrak Polemik penggunaan minyak urapan masih menjadi perbincangan menarik sampai saat ini. Ada begitu banyak diskusi dan argumentasi tentang penggunaan “minyak urapan tertentu” yang dipakai oleh sekelompok atau sebagian gereja Tuhan. Sebagian memakai Alkitab sebagai dasar penggunaan minyak urapan tersebut, dan sebagian lagi hanya karena ikut-ikutan saja tanpa memiliki dasar yang jelas. Artikel ini akan membahas minyak urapan dalam perspektif Alkitab. Dengan demikian, Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mutlak menjadi referensi utama dalam penulisan makalah ini. Apa yang dimaksud dengan minyak urapan dan bagaimana fungsi serta penggunaannya akan menjadi tekanan utama dalam pembahasan makalah ini. Kunci: arti, penggunaan minyak urapan 11BERITA MIMBAR edisi 305 | April 2021 Zaitun yang umum dipakai oleh orang Israel dalam kehidupan mereka sehari-hari untuk berbagai tujuan. Kata kedua adalah Mishchah. Kata ini adalah kata khusus yang dibedakan dari kata Shemen. The Complete Word Study Old Testament menulis arti kata Ibrani mishchah yang lazim diterjemahkan dengan kata “urapan” sebagai berikut: It means the act of anointing, an unction, ointment, anointing oil, anointment; a consecratory gift; part, portion. Mishchah refers to the oil which was used in the anointing ritual. The oil was prepared in a prescribed manner. Secara spesifik, kata Mishchah menunjuk pada minyak yang digunakan pada upacara pengurapan, yang dipersiapkan dengan ketentuan-ketentuan khusus pula. Jadi, minyak urapan ini berbeda dari shemen atau minyak pada umumnya yaitu minyak zaitun, karena minyak urapan dibuat secara khusus. Namun kedua kata tersebut juga dipakai bersamaan untuk menunjuk pada “minyak urapan”. Ketentuan Pembuatan Minyak Urapan Dari berbagai bagian dalam Perjanjian Lama, Keluaran 30:22-33 memberikan gambaran yang paling jelas tentang berbagai ketentuan berkaitan dengan minyak urapan. Pertama, Tuhan memerintahkan secara langsung kepada Musa untuk membuat minyak urapan (ayat 22). Kedua, Tuhan sendiri yang menentukan bahan-bahan dan jumlah atau takaran untuk pembuatan minyak urapan (ayat 23-24). Matthew Henry berpendapat bahwa minyak urapan kudus dibuat dari bahan-bahan ramuan yang jenis dan jumlahnya sudah ditentukan yaitu berupa: rempah-rempah pilihan, mur tetesan (500 syikal), kayu manis yang harum (250 syikal), tebu yang baik (250 syikal), kayu teja (500 syikal), dan minyak zaitun satu hin. Jika dihitung dengan takaran yang berlaku sekarang ini, maka komposisi bahan pembuatan minyak urapan adalah sebagai berikut: “Rempahrempah pilihan, Mur tetesan 500 syikal (5,7 Kg), Kayu manis yang harum 250 syikal (2,85 Kg), Tebu yang baik 250 syikal (2,85 Kg), Kayu teja 500 syikal (5,7 Kg) ditimbang menurut syikal kudus, Minyak zaitun 1 hin (6 liter).” Dilihat dari bahannya, minyak urapan terdiri dari berbagai macam bahan yang diramu sesuai dengan takaran yang juga ditentukan secara khusus. Kemudian yang ketiga, ramuan minyak urapan harus dibuat secara cermat oleh seorang ahli (ayat 25), bukan sembarang orang boleh membuatnya. Jika seseorang yang bukan ahli, mencoba meramu minyak urapan, maka dia harus dihukum mati (Keluaran 30:33). Ketentuan Penggunaan Minyak Urapan Perjanjian Lama secara jelas juga memberikan gambaran tentang penggunaan minyak urapan. Ada beberapa ketentuan berkaitan dengan penggunaan minyak urapan: 1. Minyak urapan dipakai untuk mengurapi Kemah Pertemuan, tabut Hukum, kandil, Mezbah dan semua perkakas di dalam Kemah Pertemuan. Tujuannya adalah untuk menguduskan Kemah Pertemuan dan semua perkakas. Akibatnya, umat yang memegang perkakas-perkakas itupun menjadi kudus. (Keluaran 30:26-29). 2. Minyak urapan dipakai untuk mengurapi para Imam dan keturunannya sehingga mereka menjadi kudus (Keluaran 30:30). 3. Minyak urapan itu kudus, maka tidak boleh dipakai untuk mengurapi sembarang orang atau orang awam (Keluaran 30:32-33, 37-38). Mengenai hal ini Matthew Henry memberi penegasan sebagai berikut: Concerning both these preparations the same law is here given (v. 32, 33, 37, 38), that the like should not be made for any common use. Thus God would preserve in the people’s minds a reverence for his own institutions, and teach us not to profane nor abuse any thing whereby God makes himself known, as those did who invented to themselves (for their common entertainments) instruments of music like David, Amos 6:5. It is a great affront to God to jest with sacred things, articularly to make sport with the word and ordinances of God, or to treat them with lightness, Mt. 22:5. That which is God’s peculiar must not be used as a common thing. Karena minyak urapan dipakai untuk menguduskan barang atau orang, maka setiap barang atau orang yang diurapi akan menjadi kudus dan dipisahkan untuk tujuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan sendiri. Oleh karena itu minyak urapan tidak boleh digunakan secara bebas atau dipakai sembarangan orang. Penyalahgunaan minyak urapan kudus merupakan pelanggaran langsung terhadap perintah Tuhan dan dianggap kriminal serta diancam hukuman mati. 4. Minyak urapan juga digunakan untuk mengurapi Raja. Raja-raja Israel mulai Saul (1 Samuel 10:1), Daud serta Salomo dan raja-raja lainnya diurapi dengan minyak (1 Samuel 16; 1 Raja-raja 1:39; 16:19; 2 Rajaraja 9:3; 11:12). Jika dilihat dari segi penggunaannya, bisa dikatakan bahwa ada dua fungsi utama minyak urapan dalam tradisi Israel yaitu: pertama untuk mengurapi benda-benda seperti tabut dan perkakasnya, dan yang kedua untuk mengurapi manusia yang dipilih Allah secara khusus yakni imam besar dan keturunannya (Kel 28:41), Raja (Hak 9:8; 2 Sam 2:4; 1 Raja 1:34), dan Nabi (1 Raja 19:16). Di luar hal yang telah disebutkan di atas, BERITA MIMBAR edisi 305 | April 202112 penggunaan minyak urapan tidak dilakukan. Tidak ada dalam Alkitab yang mengatakan bahwa minyak urapan untuk keperluan lain selain untuk hal itu. Minyak urapan adalah minyak yang khusus bagi orang yang bertugas bagi Tuhan secara khusus. Secara asasi pengurapan adalah tindakan Allah (1Sam 10:1) karena itu istilah “diurapi” dapat berarti sudah menerima karunia ilahi (Maz 23:5, 29:10) atau sudah diberi tempat atau fungsi yang istimewa dalam rencana Allah, sehingga orang tersebut melayani Tuhan secara khusus di dalam Tuhan. Jadi istilah minyak urapan yang dipakai untuk orang sakit atau saat sakit atau untuk mengusir hantu atau untuk dapat jodoh sangat tidak tepat dan tidak alkitabiah. Jadi jelas bahwa minyak urapan tidak digunakan untuk hal-hal di luar ritual keagamaan dan kenegaraan. Dengan demikian, dalam konteks Perjanjian Lama, harus dibedakan antara minyak biasa dan minyak urapan yang kudus karena bahan (ramuan) yang dipakai untuk minyak urapan itu berbeda dari minyak biasa, lagi pula tujuan penggunaan minyak urapan yang kudus bersifat khusus dan berbeda dengan tujuan pemakaian minyak biasa. Berkaitan dengan tujuan penggunaan minyak urapan, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini menulis sebagai berikut: Dalam Perjanjian Lama, orang atau benda diurapi untuk menandakan kesuciannya atau pengkhususannya bagi Allah, misalnya : tugu (kejadian 28:18), tabut dan perkakasnya (Keluaran 30:22-38), perisai, yang mungkin digunakan untuk mentahirkannya dalam perang suci (2 Samuel 1:21; Yesaya 21:5; Ulangan 23:9), raja (hakim-hakim 9:8; 2 Samuel 2:4; 1 Raja-raja 1:34), imam besar (Keluaran 28:41), nabi (1 Raja-raja 19:16). Khidmat dan pentingnya pengurapan itu diperlihatkan dalam hal : (1) bahwa adalah merupakan kriminal (kejahatan) bila menggunakan minyak kudus untuk pengurapan yang biasa (keluaran 30:32-33); (2) oleh kekuasaan dampak pengurapan itu (misalnya, 2 Raja-raja 9:11-13). Walaupun teman-teman Yehu menghina seorang nabi sebagai orang gila, mereka tidak berani menentang dampak tindakannya, bahkan mereka menerima begitu saja bahwa barangsiapa diurapi menjadi raja, ia sah menjadi raja; (3) pengurapan itu menghasilkan sesuatu atas yang diurapi, orang atau barang menjadi kudus (keluaran 30:22-33) dan keramat / tak boleh dilukai (1 Samuel 24:7). Dengan demikian pengurapan dalam Perjanjian Lama biasanya berarti dua hal berikut, yakni: pertama, memisahkan seseorang atau sesuatu sebagai kudus atau untuk dikuduskan. Ketika minyak urapan dipercikkan maka segala sesuatu yang terkena percikan itu menjadi kudus dan mutlak terpisah untuk Allah saja (Kel 25:6; Im 8:30; Bil 4:16). Kedua, menganugerahkan otoritas Allah atas seseorang yang diurapi. Kekudusan dan otoritas dalam ritual pengurapan dianggap dianugerahkan oleh Allah, meskipun diperantarai oleh seorang manusia yang bertindak atas nama Allah. Masa Pemakaian Minyak Urapan Lalu, apakah minyak urapan dalam pengertian Perjanjian Lama masih dibuat dan digunakan pada masa sekarang ini? Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, dikatakan bahwa pembuatan minyak urapan dan penggunaannya merupakan perintah langsung dari Tuhan kepada orang Israel tertentu, dengan tujuan tertentu pula. Pada masa sekarang ini Tuhan tidak lagi berfirman atau memberikan perintah-Nya secara langsung, tetapi melalui Alkitab yang tertulis. Dengan demikian maka penggunaan minyak urapan sebagaimana dilakukan dalam Perjanjian Lama tidak perlu lagi untuk dilakukan pada masa kini. Alasan lainnya adalah bahwa: Aturan hukum-hukum upacara agama Yahudi berlaku hanya bagi mereka sebelum Yesus mati di kayu salib. Yesus sudah menggenapi hukum Taurat dalam diriNya, sehingga kita yang percaya kepada-Nya beroleh keberanian masuk ruang maha suci dan berhak disebut umat Allah tanpa harus mengerjakan aturanaturan hukum upacara agama Yahudi lagi. Pendapat di atas menyatakan bahwa kematian Yesus di kayu salib telah menutup ruang bagi pelaksanaan aturan-aturan ritual agama Yahudi. Sementara itu Matthew Henry bahkan berpendapat bahwa, tradisi pengurapan dengan minyak urapan khusus tidak lagi dilakukan sebelum kematian Yesus di kayu salib. With this oil God’s tent and all the furniture of it were to be anointed; it was to be used also in the consecration of the priests, v. 26-30. It was to be continued throughout their generations, v. 31. The tradition of the Jews is that this very oil which was prepared by Moses himself lasted till near the captivity. But bishop Patrick shows the great improbability of the tradition, and supposes that it was repeated according to the prescription here, for Solomon was anointed with it (2 Ki. 1:39), and some other of the kings; and all the high priests with such a quantity of it that it ran down to the skirts of the garments; and we read of the making up of this ointment (1 Chr. 9:30): yet all agree that in the second temple there was none of this holy oil, which he supposes was owing to a notion they had that it was not lawful to make it up. . . . Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa tradisi pengurapan dengan minyak urapan seperti yang dilakukan Musa, masih dilakukan oleh generasi berikutnya, bahkan pelantikan raja-raja dan imam juga 13BERITA MIMBAR edisi 305 | April 2021 masih menggunakan minyak urapan itu. Namun, tradisi pengurapan itu tidak ditemukan lagi pada masa Bait Allah Kedua. Perspektif Perjanjian Baru Penggunaan Minyak dalam Perjanjian Baru Bagaimanakah pernyataan Perjanjian Baru tentang penggunaan minyak yang sangat lazim dipakai pada masa Perjanjian Lama? Rupanya, penggunaan minyak juga dilakukan pada masa Perjanjian Baru. Penggunaan minyak dalam Perjanjian Baru terutama dikaitkan dengan penyegaran tubuh, pengurapan orang sakit untuk menyembuhkan mereka dan pengurapan tubuh (mayat) yang akan dikuburkan. Dalam Lukas 7:46, Yesus berkata: “Engkau tidak meminyaki kepalaKu dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.” Kata Yunani yang diterjemahkan dengan “minyak” dalam ayat tersebut adalah elaiôn yang berarti: “Oil, originally the express use of the oil of the olive.” Kata elaion mengacu pada minyak biasa yang umum dipakai oleh orang Yahudi, yaitu minyak zaitun. Kata elaiôn ini memiliki makna yang sepadan dengan kata Ibrani shemen dalam Perjanjian Lama. Mengenai arti dan penggunaannya, Vine menulis sebagai berikut: Elaion, olive oil. In the New Testament the uses mentioned were (a) for lamps, in which the oil is a symbol of The Holy Spirit, Matt 25:3,4,8; (b) as a medicinal agent, for healing, Luke 10:34; (c) for anointing at feasts, Luke 7:46; (d) on festive occasions, Heb. 1:9, where the reference is probably to the consecration of kings; (e) as an accompaniment of miraculous power, Mark 6:13, or of the prayer of faith. Bible Works juga mendefinisikan kata Elaion (e;laion) sebagai minyak Zaitun: “Meaning: olive oil: for fuel for lamps, for healing the sick, for anointing the head and body at feasts, mentioned among articles of commerce.” Semakin jelas bahwa yang dimaksud dengan “minyak” dalam Perjanjian Baru adalah minyak zaitun yang biasa dipakai secara umum dalam kehidupan masyarakat Yahudi. Dari segi penggunaannya bisa disebutkan bahwa minyak dipakai untuk: 1. Menyalakan lampu (Matius 25:3,4,8) 2. Sarana kesembuhan bagi orang sakit (Markus 6:13) 3. Mengurapi kepala, rambut dan tubuh pada saat pesta (Lukas 7:46) 4. Menyegarkan tubuh. 5. Mengurapi mayat yang akan dikuburkan (Markus 14:8) Contoh penggunaan minyak zaitun untuk mengoles atau memijit bagian tubuh yang sakit terdapat dalam Lukas 10:33-34. Ayat ini berbicara mengenai perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati, yang bersedia mengoleskan minyak dan anggur pada luka orang Yahudi yang dirampok. Markus 6:13 juga menelaskan pemakaian minyak untuk menyembuhkan orang sakit Arti Kata Mengurapi Perjanjian Baru menggunakan beberapa kata kerja Yunani yang biasa diartikan dengan istilah “mengurapi.” Aleiphó, is a general term used for an anointing of any kind, whether of physical refreshment after washing (Matt 6:17; Luke 7:38, 46; John 11:2; 12:3; or of the sick, Mark 6:13; Jas 5:14 or a dead body, Mark 16:1. The material used was either oil, or ointment, as in Luke 7:38, 46. . . . . Chrio, is more limited in its use than Aleipho; it is confined to sacred and symbolical anointings; of Christ as the Anointed of God, Luke 4:18; Acts 4:27; 10:38, and Heb 1:9, where it is used metaphorically in connection with “the oil of gladness.” Note: Aleipho is the mundane and profane, Chrio the sacred and religious word. . . . . Murizo, is used of anointing the body for burial, in Mark 14:8. Dari ketiga kata tersebut, Aleipho sebagai kata sekuler atau duniawi adalah yang paling umum dipakai untuk berbagai jenis pengurapan tubuh dengan minyak. Tujuannya adalah untuk membawa penyegaran bagi tubuh dan juga digunakan untuk orang sakit . Kata kedua, Chrio, sebuaha kata yang religious, penggunaannya terbatas, untuk hal yang sakral dan bersifat simbolik. Kata ini secara khusus dipakai untuk menunjuk kepada Kristus yang Diurapi. Kata ketiga, Murizo, hanya digunakan untuk pengurapan tubuh orang mati atau mayat yang akan dikuburkan (Markus 14:8). Dalam penggunaannya, ketiga kata Yunani di atas yang berarti “mengurapi” ternyata tidak diikuti dengan ketentuan pemakaian minyak yang dikhususkan sebagai sarana pengurapan. Benar bahwa Perjanjian Baru mencatat tentang tindakan mengurapi, tetapi dalam pengurapan tersebut tidak mengenal apa yang disebut sebagai minyak urapan. Mengolesi dengan Minyak dalam Yakobus 5:14 Ini adalah ayat Perjanjian Baru yang paling sering disebut dalam kaitan dengan fenomena penggunaan apa yang dinamakan sebagai “minyak urapan” oleh gereja dan orang Kristen. Dalam Alkitab Indonesia Terjemahan Baru, ayat tersebut berbunyi sebagai berikut: ”Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.” Jika Alkitab Indonesia Terjemahan Baru menggunakan BERITA MIMBAR edisi 305 | April 202114 kata “mengolesi”, maka terjemahan King James Version menggunakan kata “mengurapi” (anointing). “ Is any sick among you? Let him call the elders of the church; and let them pray over him, anointing him with oil in the name of the Lord.” Demikian juga dengan beberapa terjemahan lainnya seperti New King James Version, New International Version, dan New American Standart , semuanya menggunakan kata “mengurapi” untuk ayat ini. Kata Yunani yang diterjemahkan dengan kata “mengolesi” adalah aleipsantes, biasa diterjemahkan dengan kata “mengurapi”, berbentuk participle, kata sekunder yang mengikuti kata kerja utama yaitu mendoakan (proseuxasthosan). Ini berarti bahwa tekanan utama ayat ini adalah tindakan mendoakan dalam nama Tuhan, yang harus dilakukan oleh para penatua ketika ada orang percaya yang sakit. Para penatua disarankan mengoleskan minyak kepada orang sakit itu sebelum mendoakannya, sebagaimana lazim dilakukan pada masa itu karena minyak juga dipercaya sebagai obat bagi orang yang sakit. Zodhiates menjelaskan: There are qualifying statements to be understood in regard to the application of medicine as opposed to offering of prayer for a sick believer. Before prayer is to be offered, the elders were to provide any medical assistance necessary. The specific order these two things were to be performed is clarified in the Greek text. The word translated “anointing him” is the aorist participle, aleipsantes (from aleipho). This term describes an act which preceded the prayer and should be translating “having anointed.” Therefore, this instance denotes the application of medicine first, then the elders are commanded to pray for the sick person. In addition to this, prayer is to be made “in the name of the Lord,” not necessarily the anointing act. This is explained by the aorist imperative verb, proseuxasthosan (from proseuchomai) translated “let them pray.” Also the verb proskalesastho (from proskaleomai), meaning “let him call” denotes the aorist tense. In both cases reference is made to one action at one point in the past, not a repetitive connotation. The participle, aleipsantes, does not refer back to the main verb or the main action in the clause. The application of medicine can be rendered by both believers and unbelievers, but prayer as an exercise of faith is the key to seeking God’s will in regard to healing. Furthermore, the phrase “in the name of the Lord” does not refer to a matter of habit by which one must close his prayers. Rather, it indicates a willingness to place prayer into the the sovereign will and purpose of God. Beberapa hal penting yang harus menjadi perhatian dari ayat tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, Alkitab mengajarkan kepada orang percaya untuk memanggil para penatua jemaat supaya mereka mendoakan orang yang sakit, disertai dengan pengolesan minyak. Kata “sakit” dalam ayat ini adalah asthenei dari kata kerja astheneo yang berarti menjadi sakit atau menjadi lemah. Dengan demikian kemungkinannya adalah seorang yang sakit parah, sangat lemah secara fisik. Karena kondisi yang demikian, maka seharusnya orang sakit itu memanggil para penatua untuk datang mendoakan. Para penatua yang dimaksud adalah orang-orang yang telah diberi otoritas untuk memimpin jemaat, yang pada umumnya juga memiliki otoritas untuk mengajar jemaat, juga dianggap lebih dewasa secara rohani. Kedua, yang dilakukan para penatua terhadap orang sakit tersebut adalah mendoakan sambil mengolesnya dengan minyak. Mendoakan merupakan kata kerja utama, sedangkan mengoles dengan minyak merupakan kata kerja partisip atau sekunder yang mengikuti kata kerja utama. Penekanan dalam ayat ini adalah tindakan mendoakan, bukan pada minyak yang dioleskan atau proses pengolesan itu sendiri, meskipun ada kemungkinan bahwa pengolesan minyak di sini memiliki makna simbolis sebagai “lambang perkenanan Tuhan, maka yang paling tepat untuk melakukan tindakan ini adalah para penatua, karena merekalah yang sudah dewasa dalam Tuhan.” Konteks ayat-ayat selanjutnya juga tidak menyinggung tentang pengolesan dengan minyak. Jadi tekanan dalam ayat ini bukan pada minyak yang mengandung unsur obat-obatan yang dianggap bisa menyembuhkan, tetapi Yakobus justru menekankan kualitas doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang yang sakit itu (ayat 15). Dapat dikatakan bahwa bahwa minyak untuk mengurapi atau mengoles orang sakit bukanlah faktor terpenting tetapi sekunder. Yang terpenting dari proses ini adalah doa yang sungguh-sungguh dari orang-orang beriman. Ketiga, berdasarkan kajian eksegetis dari kata elaion maka dapat diketahui hasilnya adalah: “noun dative neuter singular.” Artinya, kata minyak merupakan kata benda datif yang berarti berfungsi sebagai alat atau instrumen dan bersifat tunggal. Ini menunjukkan bahwa minyak bukanlah yang terutama dalam ayat ini melainkan hanya sebagai alat bantu. Bentuk singular disini dapat berarti bahwa elaion bukanlah suatu racikan atau ramuan yang terdiri dari campuran berbagai bahan-bahan rempah, tetapi menunjuk pada satu materi saja, yaitu pure oil, minyak murni tanpa campuran apa pun. 15BERITA MIMBAR edisi 305 | April 2021 Hal ini menegaskan bahwa pengolesan dengan minyak dalam Yakobus 5:14 sama sekali berbeda dan tidak ada hubungannya dengan minyak urapan seperti yang dimaksud dalam Perjanjian Lama. Karya Roh Kudus sebagai Pengurapan Allah Perjanjian Baru memang masih dilakukan, namun disting dari Perjanjian Lama, pengurapan bisa dilakukan untuk siapa saja atau untuk semua orang sebagai tanda perkenanan Allah. Pengurapan dalam Perjanjian Baru merupakan karya Roh Kudus sendiri. Istilah pengurapan memiliki arti yang khusus untuk menyatakan pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan seseorang. Beberapa ayat di bawah ini menunjukkan pekerjaan Roh Kudus yang bisa diartikan sebagai pengurapan langsung dari Allah: 1. Karya Roh Kudus dalam proses penyelamatan: Roh Kudus melahirbarukan seseorang yang percaya kepada Kristus (Yoh 3:3-8); Roh Kudus membaptis orang percaya ke dalam tubuh Kristus (Matius 3:11; 1 Korintus 12:13); Roh Kudus memeteraikan orang percaya (Efesus 1:13,14; 4:30); Roh Kudus berdiam dalam orang percaya (Yohanes 14:17) 2. Roh Kudus terus melakukan pelayanan aktif dalam kehidupan orang percaya antara lain: memenuhi orang percaya (Kisah Para Rasul 2:4; 6:3; 11:24; Efesus 5:18); membimbing orang percaya (Galatia 5:16,25); Roh Kudus mengajar orang percaya (Yohanes 14:26; 16:13; 1 Yohanes 2:20,27 3. Roh Kudus memberi karunia dan kuasa bagi pelayanan tubuh Kristus (2 Korintus 1:21; 1 Yohanes 2:20,27) Karya-karya Roh Kudus itulah yang dimaksud dengan pengurapan dalam Perjanjian Baru. Dalam hal ini, pengurapan Roh Kudus tidak ada hubungannya dengan penggunaan minyak urapan yang lazim dipakai dalam Perjanjian Lama. Perintah untuk membuat minyak urapan juga tidak ditemukan. Dalam Perjanjian Baru tidak ditemukan ayat yang secara khusus mengajarkan agar orang percaya membuat minyak urapan. Minyak dalam hal untuk mengurapi memang masih terindikasi. Tetapi minyak urapan seperti dalam konteks Kitab Keluaran sudah tidak lagi. Ada kemungkinan karena umat Kristen memang sudah tidak lagi terikat dengan ritual di Bait Suci. Tidak ada bukti dalam Perjanjian Baru, bahkan petunjuk pun tidak ada, bahwa penerimaan Roh Kudus atau pengurapan memiliki hubungan dengan penggunaan minyak urapan. Bahkan sebelum memulai pelayanan-Nya, Yesus juga tidak diurapi dengan minyak urapan. Tetapi justru dalam peristiwa pembaptisan air oleh Yohanes, Yesus diurapi oleh Roh Kudus, dan sejak saat itu Ia selalu berada “dalam kuasa Roh” atau pengurapan Allah (Kisah Para Rasul 10:38; Bandingan Matius 3:16;4:1; Lukas 4:1). Mengenai hal ini Beker berpendapat bahwa: Minyak urapan dalam Perjanjian Lama adalah lambang dari Roh Kudus. Yesus bukan diurapi dengan minyak, yakni lambangnya, tetapi dengan Roh Kudus, kenyataannya. Dengan demikian pengurapan dengan Roh Kudus tersebut menjadi dasar untuk memahami ajaran tentang pengurapan ketika ajaran itu diaplikasikan kepada orang-orang percaya. Pengurapan dalam Perjanjian baru adalah tindakan Allah yang berhubungan dengan orang percaya yang didiami oleh Roh Kudus dan diberi otoritas maupun karunia rohani bagi pelayanan tubuh Kristus. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa setiap orang yang lahir baru, yang percaya dan menerima Kristus, dia telah diurapi (Yohanes 1:20; 2 Korintus 1:20-22) dan pengurapan itu bersifat menetap atau permanen (Yohanes 1:27). Kesimpulan Dengan melihat perspektif Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tentang minyak urapan melalui pembahasan di atas, maka penulis menyimpulkan: Pertama, minyak urapan dalam Perjanjian Lama adalah minyak yang khusus: Dibuat atas perintah langsung dari Tuhan; diramu secara cermat oleh ahli ramuan menggunakan bahan-bahan dan takaran yang ditentukan oleh Allah sendiri; digunakan untuk tujuan tertentu, yakni untuk mengurapi orang tertentu (Imam, raja, nabi) dan benda tertentu (Kemah Pertemuan, tabut hukum, kendil, mezbah, dan semua perkakas dalam Kemah Pertemuan). Tujuannya adalah menguduskan bagi Allah, semua orang atau benda-benda yang diurapi. Oleh karena itu, pembuatan maupun penggunaan minyak urapan oleh orang awam tidak diperkenankan dan diancam dengan hukuman mati. (Keluaran 30:22-33). Kedua, penggunaan minyak urapan secara khusus hanya bagi orang Israel. Minyak urapan tidak berlaku dan tidak pernah digunakan oleh bangsa lain di luar Israel karena penggunaan yang demikian jelas keliru dan melanggar perintah Tuhan dalam Keluaran 30. Ketiga, penggunaan minyak urapan hanya berlaku pada masa Perjanjian Lama, bahkan ada yang berpendapat bahwa pemakaian minyak urapan sudah berakhir pada masa Bait Allah Kedua. Keempat, tradisi pengurapan dengan minyak masih terjadi pada masa Perjanjian Baru. Pengurapan dilakukan dengan tujuan untuk penyegaran tubuh dan kesehatan, mengoleskan pada orang sakit, dan pengurapan pada tubuh orang mati yang akan dikuburkan. Gereja atau orang Kristen pada masa kini boleh memakai mengoleskan minyak pada orang BERITA MIMBAR edisi 305 | April 202116 sakit sebagaimana dianjurkan Alkitab. Kelima, Minyak yang dipakai dalam pengurapan menurut Perjanjian Baru adalah minyak murni, bukan hasil ramuan dari beberapa bahan yang berbeda. Pada umumnya minyak yang dimaksud adalah minyak zaitun. Oleh karena itu orang Kristen tidak boleh menggunakan terminology “minyak urapan” ketika mengoleskan minyak pada orang sakit, karena minyak urapan tidak ada lagi pada masa sekarang. Yang benar adalah minyak biasa atau minyak murni. Tidak ada catatan Alkitab bahwa Yesus pernah menggunakan minyak urapan untuk mengurapi para murid-Nya dengan minyak urapan. Demikian pula Para Rasul tidak menggunakan minyak urapan untuk mengurapi orang-orang percaya agar menerima Roh Kudus. Keenam, Pemberian Roh Kudus sebagai jaminan bagi orang percaya menurut 2 Korintus 1:21 dan 1 Yohanes 2:20-27, itulah yang dimaksud dengan pengurapan yang sebenarnya bagi orang percaya, dan akibat dari pengurapan itu tetap atau permanen dalam kehidupan orang percaya. Dengan demikian pengurapan memiliki makna baru dalam Perjanjian Baru.@