Pojok Misi

Apakah INJIL Itu?
Apa itu Injil? Ini nampak seperti sebuah pertanyaan sederhana dan bisa dijawab dengan mudah. Namun pada kenyataanya masih banyak kesalahmengertian dan ketidakmengertian orang tentang Injil tersebut. Berikut ada beberapa kesalahan konsep tentang Injil, antara lain: Presentasi Penginjilan Formal seperti: Evangelism Explotion (EE), Way of the Master, Four Spiritual Laws (Empat Hukum Rohani), FAITH, PRAY dan lain-lain bukanlah Injil. Bukan karena materi tersebut tidak alkitabiah, tetapi masalahnya pada kenyataan banyak orang memahami tentang kebenaran tetapi tidak hidup dalam kebenaran. Banyak orang yang memiliki tidak berada dalam Injil tersebut. Ketika kita melakukan pendekatan-pendekatan metode penginjilan dari church dan parachurch, kita harus memahami bahwa itu hanyalah sarana, bukan tujuan. Oleh karena itu metodenya harus dilakukan secara fleksibel dan kontekstual dan dalam sebuah pertanggungjawaban iman. Tanggung jawab iman sebagai gereja yang dipanggil keluar untuk masuk ke dalam God’s teamwork (Kawan sekerja Allah). Sebagai bagian dari teamwork, untuk merespon pelayanan dan permasalahan yang ada, kita harus berkomunikasi dengan anggota tim yang lain. Oleh karena itu, setiap kita, setiap gereja-Nya harus menempatkan pendekatan-pendekatan itu dengan tepat dan tidak menggeser pesan utama yang akan disampaikan, Injil yang menyelamatkan. Doktrin-doktrin Kristen yang penting adalah buah pemikiran teologis yang sangat baik, tetapi itu bukanlah Injil. Ini bukan berarti bahwa doktrin itu tidak penting. Doktrin Kristen merupakan fondasi dasar iman Kristen, tetapi doktrin-doktrin Kristen tidak bisa disama kan dengan Injil. Doktrin tentang Alkitab, keselamatan, gereja, akhir zaman dan lain-lain bukanlah Injil itu sendiri. Kita harus hati-hati memahami apa yang dimaksud Injil itu. Ketika Alkitab berisi Injil, Alkitab bukanlah Injil. Ketika doktrin keselamatan termasuk dan
berhubungan dengan Injil, doktrin keselamatan bukan saja memperhatikan Injil tetapi juga isu-isu lain yang berkaitan dengan keselamatan. Implikasi Injil bukanlah Injil itu sendiri. Memang, pengenalan kita akan Allah dan pemahaman kita akan kebenaran haruslah berdampak dalam kehidupan. Namun, sekali lagi, akibat atau dampak dari Injil tidak boleh ditafsirkan sebagai Injil. Ada beberapa kesalahan komunikasi tentang Injil. Injil tidak bisa dipahami hanya dari sisi intelektual dan perspektif akademis saja, tetapi Injil juga harus dipahami dalam sebuah pandangan yang holistik (menyeluruh) termasuk dari sisi para pemberita atau pengabar Injil. I Korintus 15:1-5 menjelaskan tentang natur dan isi Injil. Kita melihat Injil tidak hanya diberitakan oleh Paulus tetapi juga dihidupi dalam seluruh kehidupannya. Demikian juga dalam pe- layanannya, Injil ditempatkan sebagai inti dari beritanya dan secara konsisten diwartakan oleh gereja mula-mula, yakni tentang pribadi dan karya Kristus. Jadi hanya ada satu Injil, yang disepakati oleh semua rasul (I Kor 15:11), dan rasul Paulus meminta kutuk Allah atas siapa saja – termasuk dirinya sendiri - yang memberitakan sebuah Injil “lain” dari Injil rasuli asli Allah yang penuh anugerah (Gal 1:6-8). Namun para rasul mengungkapkan Injil yang satu ini dengan berbagai cara – kadang berkaitan dengan pengorbanan (penumpahan dan pemercikan darah Kristus), kadang mesianis (kedatangan pemerintahan yang dijanjikan Allah), kadang berkaitan dengan hukum (Hakim yang menyatakan bahwa yang tidak benar itu dibenarkan), kadang personal (Bapa yang mendamaikan anak-anakNya yang menyimpang, kadang berkaitan dengan penyelamatan (Pembebas surgawi yang datang untuk menyelamatkan yang tidak berdaya), dan kadang kosmis (Tuhan universal yang mengklaim kekuasaan universal). Doktrin-doktrin Kristen yang penting adalah buah pemikiran teologis yang sangat baik, tetapi itu bukanlah Injil
Blake Newsom
7BERITA MIMBAR edisi 305 | April 2021
Apa sebenarnya pesan inti dari Injil? Menurut I Korintus 15:3-5 inti dari pesan Injil meliputi elemen-elemen berikut: Kematian Kristus untuk dosa-dosa kita; Kristus dikuburkan; Kristus bangkit dan menampakkan diri sesuai dengan Kitab Suci. Hal tersebut bisa dibagi menjadi dua kategori: Pribadi dan Karya Kristus seperti yang dituliskan dalam Kitab Suci dan Penerapannya bagi kemanusiaan. Kita tidak dapat memahami Injil tanpa pribadi Yesus. Identitas dan natur dari Kristus menjadi sarana bagi kita untuk memahami Injil secara utuh Pengampunan dari dosa adalah berita Injil. Pengampunan itu memulihkan kemanusiaan melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Itulah anugerah Injil yang memberi kehidupan dan pengharapan baru bagi manusia. Kita selalu berada dalam pergumulan terus menerus (dengan doa, studi dan diskusi) untuk menghubungkan Injil yang dikaruniakan (given gospel) dengan situasi yang kita temui (given situation). Karena Injil berasal dari Allah, kita harus menjaganya; karena dimaksudkan untuk orang modern, kita harus menafsirkannya. Kita harus mengombinasikan ketepatan (terus menerus mempelajari Alkitab) dengan kepekaan (terus menerus mempelajari situasi kontemporer). Hanya dengan demikian, kita dapat berharap dengan penuh kepercayaan dan relevansi untuk menghubungkan Firman dengan dunia, Injil dengan konteks, Kitab Suci dengan kebudayaan. Allah berkata kepada kita dalam Kitab Suci, Ia menggunakan bahasa manusia, dan ketika ketika berkata kepada kita dalam Kristus, Ia mengambil rupa manusia. Untuk menyatakan dirinya, Ia mengosongkan dan juga merendahkan diri-Nya (Fil 2:7-8). Inilah model penginjilan yang diberikan oleh Alkitab. Dalam semua penginjilan yang autentik, terdapat pengosongan diri dan perendahan diri; tanpa itu kita menyangkal Injil dan menggambarkan Kristus yang kita beritakan secara keliru. Injil sebenarnya adalah sesuatu yang sederhana. Jika ditanyakan, apa yang menjadi isi utama dari Injil? Apa yang seharusnya kita beritakan dan bagikan? Sederhana saja, Injil adalah kisah tentang Yesus. Banyak orang mengalami kesulitan dalam memahami Injil karena pendekatan yang salah. Dibutuhkan ketulusan dan hati yang terbuka untuk sungguh-sungguh kita bisa memahami Injil dengan benar. Dalam pemberitaan Injil sebagai kabar baik, kita membutuhkan pemahaman dan panduan untuk bisa mengerti konteks dimana kita berada sebelum Injil disampaikan. Ketika kita mengerti konteks tertentu, maka kita dapat menentukan strategi pendekatan yang khusus dan tepat yang bisa kita lakukan dalam pemberitaan Injil.
Memahami Konteks Dalam pemberitaan Injil sebagai kabar baik, kita membutuhkan pemahaman dan panduan untuk bisa mengerti konteks dimana kita berada sebelum Injil disampaikan. Ketika kita mengerti konteks tertentu, maka kita dapat menentukan strategi pendekatan yang khusus dan tepat yang bisa kita lakukan dalam pemberitaan Injil. Alkitab memberi kita model untuk menginjili. Di samping berita (apa yang kita katakan) kita membutuhkan sebuah model (bagaimana mengatakannya). Alkitab juga memberikan model: karena Alkitab tidak sekadar berisi Injil; ia adalah Injil itu sendiri. Melalui Alkitab, Allah sendiri sesungguhnya menginjili, yaitu mengkomunikasikan kabar baik kepada dunia. Seluruh Kitab Suci memberitakan Injil; Allah menginjili melalui Kitab Suci itu. Jika Kitab Suci itu sendiri adalah penginjilan Ilahi, adalah wajar bahwa kita dapat belajar bagaimana mem-beritakan Injil dengan mempelajari bagaimana Allah melakukannya. Dalam pengilhaman Alkitab, Ia telah memberi kita sebuah model pemberitaan Injil yang indah. Hal yang langsung membuat kita takjub dan berkesan adalah betapa Allah yang besar dan agung yang kita sembah, sungguhsungguh Allah yang datang merendahkan diri. Ia mempunyai kebenaran yang mulia ntuk menyingkapkan diri-Nya sendiri di dalam Kristus, rahmat-Nya dan keadilan-Nya, penyelamatan-Nya yang total. Dan Ia memilih melakukan penyingkap an ini melalui manusia: melalui citra dan kebudayaan manusia. Inkarnasi adalah puncak dari Allah yang mengkomunikasikan diri-Nya sendiri (the self-communicating God). “Firman itu telah menjadi manusia” (Yoh 1:14). Itulah Firman abadi Allah, yang sejak kekekalan bersama-sama dengan Allah Pada dasarnya, prinsip serupa digambarkan
Pengampunan dari dosa adalah berita Injil. Pengampunan itu memulihkan kemanusiaan melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Itulah anugerah Injil yang memberi kehidupan dan pengharapan baru bagi manusia.
BERITA MIMBAR edisi 305 | April 20218
baik dalam pengilhaman Kitab Suci maupun inkarnasi Anak. Firman telah menjadi manusia. Yang Ilahi dikomunikasikan melalui yang manusiawi. Ia menjadi sama dengan kita, walau tanpa melepaskan identitasNya. Dan prinsip “identifikasi tanpa kehilangan identitas” ini adalah model untuk semua penginjilan, khususnya penginjilan lintas budaya di mana pemahaman akan konteks setempat sangat dibutuhkan. Dengan demikian para pemberita Injil bisa menentukan suatu strategi penginjilan yang tepat, yang bisa diterima masyarakat, dan yang membawa hasil. Kita percaya
bahwa pemberitaan Injil kebenaran yang dilakukan oleh orang–orang dari berbagai kalangan adalah suatu usaha yang penting dan harus dihargai karena hanya melalui pemberitaan Injil maka dunia bisa berubah.
Disarikan dari: Blake Newsom, “What Is The Gospel” dalam Journal of Baptist Theology and Ministry, oleh I Gede Puji Arysantosa


Apa itu Injil? Ini nampak seperti sebuah pertanyaan sederhana dan bisa dijawab dengan mudah. Namun pada kenyataanya masih banyak kesalahmengertian dan ketidakmengertian orang tentang Injil tersebut. Berikut ada beberapa kesalahan konsep tentang Injil, antara lain: Presentasi Penginjilan Formal seperti: Evangelism Explotion (EE), Way of the Master, Four Spiritual Laws (Empat Hukum Rohani), FAITH, PRAY dan lain-lain bukanlah Injil. Bukan karena materi tersebut tidak alkitabiah, tetapi masalahnya pada kenyataan banyak orang memahami tentang kebenaran tetapi tidak hidup dalam kebenaran. Banyak orang yang memiliki tidak berada dalam Injil tersebut. Ketika kita melakukan pendekatan-pendekatan metode penginjilan dari church dan parachurch, kita harus memahami bahwa itu hanyalah sarana, bukan tujuan. Oleh karena itu metodenya harus dilakukan secara fleksibel dan kontekstual dan dalam sebuah pertanggungjawaban iman. Tanggung jawab iman sebagai gereja yang dipanggil keluar untuk masuk ke dalam God’s teamwork (Kawan sekerja Allah). Sebagai bagian dari teamwork, untuk merespon pelayanan dan permasalahan yang ada, kita harus berkomunikasi dengan anggota tim yang lain. Oleh karena itu, setiap kita, setiap gereja-Nya harus menempatkan pendekatan-pendekatan itu dengan tepat dan tidak menggeser pesan utama yang akan disampaikan, Injil yang menyelamatkan. Doktrin-doktrin Kristen yang penting adalah buah pemikiran teologis yang sangat baik, tetapi itu bukanlah Injil. Ini bukan berarti bahwa doktrin itu tidak penting. Doktrin Kristen merupakan fondasi dasar iman Kristen, tetapi doktrin-doktrin Kristen tidak bisa disama kan dengan Injil. Doktrin tentang Alkitab, keselamatan, gereja, akhir zaman dan lain-lain bukanlah Injil itu sendiri. Kita harus hati-hati memahami apa yang dimaksud Injil itu. Ketika Alkitab berisi Injil, Alkitab bukanlah Injil. Ketika doktrin keselamatan termasuk dan
berhubungan dengan Injil, doktrin keselamatan bukan saja memperhatikan Injil tetapi juga isu-isu lain yang berkaitan dengan keselamatan. Implikasi Injil bukanlah Injil itu sendiri. Memang, pengenalan kita akan Allah dan pemahaman kita akan kebenaran haruslah berdampak dalam kehidupan. Namun, sekali lagi, akibat atau dampak dari Injil tidak boleh ditafsirkan sebagai Injil. Ada beberapa kesalahan komunikasi tentang Injil. Injil tidak bisa dipahami hanya dari sisi intelektual dan perspektif akademis saja, tetapi Injil juga harus dipahami dalam sebuah pandangan yang holistik (menyeluruh) termasuk dari sisi para pemberita atau pengabar Injil. I Korintus 15:1-5 menjelaskan tentang natur dan isi Injil. Kita melihat Injil tidak hanya diberitakan oleh Paulus tetapi juga dihidupi dalam seluruh kehidupannya. Demikian juga dalam pe- layanannya, Injil ditempatkan sebagai inti dari beritanya dan secara konsisten diwartakan oleh gereja mula-mula, yakni tentang pribadi dan karya Kristus. Jadi hanya ada satu Injil, yang disepakati oleh semua rasul (I Kor 15:11), dan rasul Paulus meminta kutuk Allah atas siapa saja – termasuk dirinya sendiri - yang memberitakan sebuah Injil “lain” dari Injil rasuli asli Allah yang penuh anugerah (Gal 1:6-8). Namun para rasul mengungkapkan Injil yang satu ini dengan berbagai cara – kadang berkaitan dengan pengorbanan (penumpahan dan pemercikan darah Kristus), kadang mesianis (kedatangan pemerintahan yang dijanjikan Allah), kadang berkaitan dengan hukum (Hakim yang menyatakan bahwa yang tidak benar itu dibenarkan), kadang personal (Bapa yang mendamaikan anak-anakNya yang menyimpang, kadang berkaitan dengan penyelamatan (Pembebas surgawi yang datang untuk menyelamatkan yang tidak berdaya), dan kadang kosmis (Tuhan universal yang mengklaim kekuasaan universal). Doktrin-doktrin Kristen yang penting adalah buah pemikiran teologis yang sangat baik, tetapi itu bukanlah Injil
Blake Newsom
7BERITA MIMBAR edisi 305 | April 2021
Apa sebenarnya pesan inti dari Injil? Menurut I Korintus 15:3-5 inti dari pesan Injil meliputi elemen-elemen berikut: Kematian Kristus untuk dosa-dosa kita; Kristus dikuburkan; Kristus bangkit dan menampakkan diri sesuai dengan Kitab Suci. Hal tersebut bisa dibagi menjadi dua kategori: Pribadi dan Karya Kristus seperti yang dituliskan dalam Kitab Suci dan Penerapannya bagi kemanusiaan. Kita tidak dapat memahami Injil tanpa pribadi Yesus. Identitas dan natur dari Kristus menjadi sarana bagi kita untuk memahami Injil secara utuh Pengampunan dari dosa adalah berita Injil. Pengampunan itu memulihkan kemanusiaan melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Itulah anugerah Injil yang memberi kehidupan dan pengharapan baru bagi manusia. Kita selalu berada dalam pergumulan terus menerus (dengan doa, studi dan diskusi) untuk menghubungkan Injil yang dikaruniakan (given gospel) dengan situasi yang kita temui (given situation). Karena Injil berasal dari Allah, kita harus menjaganya; karena dimaksudkan untuk orang modern, kita harus menafsirkannya. Kita harus mengombinasikan ketepatan (terus menerus mempelajari Alkitab) dengan kepekaan (terus menerus mempelajari situasi kontemporer). Hanya dengan demikian, kita dapat berharap dengan penuh kepercayaan dan relevansi untuk menghubungkan Firman dengan dunia, Injil dengan konteks, Kitab Suci dengan kebudayaan. Allah berkata kepada kita dalam Kitab Suci, Ia menggunakan bahasa manusia, dan ketika ketika berkata kepada kita dalam Kristus, Ia mengambil rupa manusia. Untuk menyatakan dirinya, Ia mengosongkan dan juga merendahkan diri-Nya (Fil 2:7-8). Inilah model penginjilan yang diberikan oleh Alkitab. Dalam semua penginjilan yang autentik, terdapat pengosongan diri dan perendahan diri; tanpa itu kita menyangkal Injil dan menggambarkan Kristus yang kita beritakan secara keliru. Injil sebenarnya adalah sesuatu yang sederhana. Jika ditanyakan, apa yang menjadi isi utama dari Injil? Apa yang seharusnya kita beritakan dan bagikan? Sederhana saja, Injil adalah kisah tentang Yesus. Banyak orang mengalami kesulitan dalam memahami Injil karena pendekatan yang salah. Dibutuhkan ketulusan dan hati yang terbuka untuk sungguh-sungguh kita bisa memahami Injil dengan benar. Dalam pemberitaan Injil sebagai kabar baik, kita membutuhkan pemahaman dan panduan untuk bisa mengerti konteks dimana kita berada sebelum Injil disampaikan. Ketika kita mengerti konteks tertentu, maka kita dapat menentukan strategi pendekatan yang khusus dan tepat yang bisa kita lakukan dalam pemberitaan Injil.
Memahami Konteks Dalam pemberitaan Injil sebagai kabar baik, kita membutuhkan pemahaman dan panduan untuk bisa mengerti konteks dimana kita berada sebelum Injil disampaikan. Ketika kita mengerti konteks tertentu, maka kita dapat menentukan strategi pendekatan yang khusus dan tepat yang bisa kita lakukan dalam pemberitaan Injil. Alkitab memberi kita model untuk menginjili. Di samping berita (apa yang kita katakan) kita membutuhkan sebuah model (bagaimana mengatakannya). Alkitab juga memberikan model: karena Alkitab tidak sekadar berisi Injil; ia adalah Injil itu sendiri. Melalui Alkitab, Allah sendiri sesungguhnya menginjili, yaitu mengkomunikasikan kabar baik kepada dunia. Seluruh Kitab Suci memberitakan Injil; Allah menginjili melalui Kitab Suci itu. Jika Kitab Suci itu sendiri adalah penginjilan Ilahi, adalah wajar bahwa kita dapat belajar bagaimana mem-beritakan Injil dengan mempelajari bagaimana Allah melakukannya. Dalam pengilhaman Alkitab, Ia telah memberi kita sebuah model pemberitaan Injil yang indah. Hal yang langsung membuat kita takjub dan berkesan adalah betapa Allah yang besar dan agung yang kita sembah, sungguhsungguh Allah yang datang merendahkan diri. Ia mempunyai kebenaran yang mulia ntuk menyingkapkan diri-Nya sendiri di dalam Kristus, rahmat-Nya dan keadilan-Nya, penyelamatan-Nya yang total. Dan Ia memilih melakukan penyingkap an ini melalui manusia: melalui citra dan kebudayaan manusia. Inkarnasi adalah puncak dari Allah yang mengkomunikasikan diri-Nya sendiri (the self-communicating God). “Firman itu telah menjadi manusia” (Yoh 1:14). Itulah Firman abadi Allah, yang sejak kekekalan bersama-sama dengan Allah Pada dasarnya, prinsip serupa digambarkan
Pengampunan dari dosa adalah berita Injil. Pengampunan itu memulihkan kemanusiaan melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Itulah anugerah Injil yang memberi kehidupan dan pengharapan baru bagi manusia.
BERITA MIMBAR edisi 305 | April 20218
baik dalam pengilhaman Kitab Suci maupun inkarnasi Anak. Firman telah menjadi manusia. Yang Ilahi dikomunikasikan melalui yang manusiawi. Ia menjadi sama dengan kita, walau tanpa melepaskan identitasNya. Dan prinsip “identifikasi tanpa kehilangan identitas” ini adalah model untuk semua penginjilan, khususnya penginjilan lintas budaya di mana pemahaman akan konteks setempat sangat dibutuhkan. Dengan demikian para pemberita Injil bisa menentukan suatu strategi penginjilan yang tepat, yang bisa diterima masyarakat, dan yang membawa hasil. Kita percaya
bahwa pemberitaan Injil kebenaran yang dilakukan oleh orang–orang dari berbagai kalangan adalah suatu usaha yang penting dan harus dihargai karena hanya melalui pemberitaan Injil maka dunia bisa berubah.
Disarikan dari: Blake Newsom, “What Is The Gospel” dalam Journal of Baptist Theology and Ministry, oleh I Gede Puji Arysantosa