Pdt. Hardi Budiyana

 

MAKNA KEMERDEKAAN

 

Bagi para pejuang dan orang-orang yang hidup pada masa perjuangan kemerdekaan, makna paling nyata dari kemerdekaan adalah lepasnya cengkeraman para penjajah dari bumi pertiwi. Seperti pada generasi pertama setelah kemerdekaan, perjuangan nyata yang dihadapi adalah menjaga kestabilan keamanan bangsa. Perjuangan masa lalu mengingatkan seluruh masyarakat agar dapat memaknai hari kemerdekaan dengan bekerjasama membangun negeri ini dan terus mengembangkan diri terutama generasi muda untuk belajarsemakin giat guna membangun sumber daya manusia yang berguna bagi Bangsa dan Negara. Selain itu, pemerintah juga menekankan bahwa makna kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika rakyat merdeka dalam segala hal.Tidak hanya merdeka dari penjajahan, tapi juga bebas dalam seluruh aspek kehidupan.Seluruh aspek kehidupan harus dapat dinikmati rakyat, yakni ekonomi, sosial, keamanan, ketahanan pangan, dan seluruh aspek kehidupan lainnya, Pemerintah menekankan bahwa proklamasi kemerdekaan bukanlah tujuan akhir.Melainkan sebuah alat untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia, yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.Kemerdekaan bukan hanya membebaskan kita dari ketertindasan.Namun juga harus mendorong kita untuk bekerja keras, inovatif, kreatif dan bekerja lebih baik lagi.  Pemerintah juga mengajak kepada seluruh warga dan masyarakat Indonesia untuk terus memupuk semangat kebersamaan dan sikap saling menghormati satu sama lain. Nilai kebersamaan ini harus terus tumbuh dalam dada setiap bangsa Indonesia.Terciptanya moderasi keagamaan sangat dibutuhkan di negera Pancasila.Bagaimana kemerdekaan menurut pandangan Alkitab, berikut ulasan kemerdekaan menurut Alkitab.

 

Yesus Kristus Membawa Kemerdekaan Sejati

 

Kristus datang untuk membebaskan umat manusia dari dosa melalui korban penebusan-Nya.Ibrani 2:14-15memberi tahu  bahwa Yesus "..menjadi sama dalam kemanusiaan mereka sehingga dengan kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut, dan membebaskan mereka yang sepanjang hidup mereka berada dalam perhambaan oleh karena takut kepada maut."Upah dosa adalah maut (Roma 6:23).Kristus membayar hukuman mati bagi kita, membebaskan kita dari hukuman mati melalui pengorbanan-Nya.Kita telah dibebaskan, tetapi, seperti yang ditulis Paulus, kebebasan ini tidak memberikan lisensi atau izin untuk terus melakukan hal-hal yang membawa pada hukuman kematian (Roma 6:11-22). Paulus menulis dalam Galatia 5:13, "Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih" (Galatia 5:13).

Panggilan Tuhan membebaskan kita dari konsep-konsep rohani yang salah.Galatia 4:3-7 mengatakan: "Demikian pula kita: selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia. Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: 'ya Abba, ya Bapa!' Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah".Seorang Kristen dipanggil keluar dari takhayul, kesalahan, perbudakan, penipuan, rasa bersalah, kebejatan, kebodohan, dan kehidupan destruktif, dari menjadi tawanan Setan dan menghadapi kematian kekal. Dia dipanggil menuju kemerdekaan dalam Kristus, menerima pengampunan dosa melalui darah-Nya yang tercurah, sekarang mengetahui kebebasan dari rasa bersalah, kesadaran akan kebenaran Allah, dan sebagai pemberian cuma-cuma, pengharapan hidup yang kekal.Namun, Kitab Suci memang menunjukkan bahwa kebebasan rohani yang sesungguhnya harus mencakup kriteria berikut, yang terkait dengan pengorbanan Yesus untuk dosa-dosa kita. Mari secara singkat kita melihat kriteria yang dimaksud.

Kemerdekaan melalui kebenaran Allah.Kristus berdiskusi dengan sekelompok orang yang menipu diri mereka sendiri untuk mengira bahwa mereka bebas."Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya. Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: 'Jika kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan membebaskan kamu." Mereka menjawab, "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Jadi, mengapa Engkau berkata, 'Kamu akan bebas?'" (Yohanes 8:31-33).

Jelas, mereka menipu diri mereka sendiri, tidak mengakui bahwa bahkan pada waktu itu tanah mereka tidak lebih dari wilayah yang diduduki di bawah penaklukan Kekaisaran Romawi yang perkasa.Semua orang sangat menyadari bahwa mereka adalah orang-orang tawanan.

Dalam tiga ayat berikutnya, Yesus menjawab, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah.Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka."Menurut Kristus, seseorang tidak bisa bebas secara rohani kecuali dia memiliki kebenaran, yang adalah firman Tuhan (Yohanes 17:17).Jelas, orang itu harus mengerti kebenaran itu.Banyak orang memiliki Alkitab di dalam rumah mereka, tetapi tidak membacanya ataupun tidak bisa memahaminya. Hanya sedikit orang menyadari tentang kemerdekaan yang datang dari pemahaman akan firman Tuhan.

Kemerdekaan melalui Roh Kudus.Kitab Suci menunjukkan bahwa Roh Allah menuntun kita kepada kebenaran (Yohanes 16:13).Hal ini membantu kita memahami Alkitab (1 Korintus 2:10-14).Pemahaman rohani ini mengarah kepada kemerdekaan.Paulus menulis dalam 2 Korintus 3:17, " Tuhan adalah Roh dan di tempat Roh Tuhan hadir, di sana ada kemerdekaan.".

Kita tahu bahwa Roh Kudus adalah karunia yang berharga yang diberikan oleh Allah berdasarkan pertobatan, penerimaan Kristus, baptisan air, kesediaan untuk taat dan penumpangan tangan (Kisah Para Rasul 2:38; 5:32; 8:14-17).

Kemerdekaan melalui hukum Allah.Semua orang sangat membutuhkan kebebasan, tetapi kita dengan cepat menyadari bahwa kebebasan menuntut harga. Seseorang dengan nada bercanda berkata, "kebebasan mutlak adalah mampu melakukan apa yang anda mau tanpa mempertimbangkan siapa pun kecuali pasangan anda dan anak-anak anda, perusahaan dan bos, tetangga dan teman-teman, polisi dan pemerintah, dokter dan gereja."

 

Latar Belakang Moderasi Beragama

 

Kontek Alkitab menuliskan dalam Kolose 1:16 ; ..karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di Sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Dalam Roma 13:4, karena pemerintah merupakan hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang, pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka atas mereka berbuat jahat. Karena Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23).

Dari nats tersebut di atas, pada mulanya manusia hidup rukun, tetapi oleh karena dosa tanpa kecuali, semua orang telah kehilangan kemuliaan Allah.Dari sini kita memahami bahwa manusia sejak awal dipandang memiliki potensi berbuat jahat, sedangkan Allah memandang, manusia memiliki potensi kepemimpinan dan berbuat kebajikan. Dalam kontek bernegara yang berdasarkan Pancasila, pemerintah telah mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara karena aneka ragam suku, agama dan ras,  maka diwadahi sebuah semboyan Bhineka Tunggal Ika, yang mampu menyatukan keberanekaragaman tersebut. Memang pejuang bangsa telah memikirkan cara menyatukan keragaman terutama dalam hal agama. Maka pemerintah selalu menyuarakan tolerasi beragama. Kenyataannya akhir-akhir ini munculnya gerakan-gerakan radikalisme, yang menganggap ajarannya paling benar, agama yang lain salah atau kafir, toleransi umat beragama mulai retak. Akhir-akhir ini, terutama mantan menteri agama RI, Lukman Hakim, perlu menyuarakan “Moderasi Keagamaan” kepada umat seluruh Indonesia.Faktanya, dalam kehidupan sehari-hari, potensi manusia berbuat jahat dan kebajikan saling berpacu. Namun, tidak dapat dimungkiri pula, sesungguhnya manusia memiliki naluri berbuat kebajikan, tolong-menolong dalam kebaikan

 

Makna Moderasi Keagamaan

 

Berdasarkan uraian mantan Menteri Agama RI Lukman Hakim pada era pemerintahan Jokowi dalam Kabinet Kerja jilid I periode 2014-2019, Mengenai Moderasi Keragaman umat, Jadi ada istilah “Moderasi Beragama untuk Kebersamaan Umat”.Kita harus memahami makna Moderasi Keagamaan. Menurut Lukman Hakim saat menjabat Menteri Agama RI dihadapan para guru-guru, mengatakan bahwa: Moderasi beragama itu adalah meyakini secara absolut ajaran agama yang kita yakini dan memberikan ruang terhadap agama yang diyakini oleh orang lain, dengan saling menghargai dan menghormati satu sama lain.Dalam kancah keberagaman dan juga keberagaman dalam kehidupan masyarakat dan multicultural seperti Indonesia. Moderasi harus dipahami sebagai komitmen bersama untuk menjaga keseimbangan dimana setiap warga masyarakat apapun suku, etnis, budaya, agama dan pilihan politiknya harus mau saling mendengarkan satu sama lain serta saling belajar melatih kemampuan mengelola dan mengatasi perbedaan diantara masyarakat. Sebagian besar manusia selalu ingin bermanfaat bagi orang lain, di luar diri dan keluarganya.Bertikai bukanlah sifat dasar manusia. Potensi negatif muncul saat terpengaruh bisikan orang-orang yang tidak bertanggung jawab ketika ego dan nafsunya ingin berkuasa dan menonjolkan dirinya atau menonjolkan kelompoknya secara ekstrem..Dalam hal ini, terkadang seseorang (kelompok) bersikap dan berperilaku ekstrem (fanatik), Kefanatikan umat bukan membuat kedamaian dan kerukunan Sebaliknya, justru dapat menjadi perusak alam dan tatanan kehidupan sosial yang telah terbentuk toleransi kerukunanumat beragama yang berdasar pada falsafah Pancasila dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.
Keragaman di Indonesia merupakan kekayaan dan keindahan bangsa.Dasar negara inilah yang mempersatukan keberagaman tadi, termasuk keberagaman dalam memeluk agama dan dalam mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

Dengan demikian, pemerintah harus bisa mendorong keberagaman tersebut menjadi suatu kekuatan untuk bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan nasional menuju Indonesia yang lebih baik.Di Indonesia, dalam mengayomi umat beragama dan pembinaan umat memahami dan menjalankan ajaran agama, posisi dan fungsi Kementerian Agama (Kemenag) sangat strategis.
Di sinilah Kemenag harus mampu memosisikan diri di tengah-tengah keragaman agama dan penganutnya, sekaligus menjadi penengah dalam wujud moderasi dari kelompok ekstrem dan fanatik.

Prinsip Moderasi Keagamaan

 

Pada pembukaan Raker Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Agama akhir Januari 2019 di Jakarta, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin memerintahkan jajarannya agar dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab memegang tiga prinsip dalam Moderasi Keagamaan, yaitu:
Pertama, memahami moderasi beragama yang beraneka ragam penganut agama, harus menjalankan keyakinan sesuai agama masing-masing,, kedua terkait kebersamaan, hidup bergotong royong saling toleransi, saling bekerja sama, saling menghormati satu sama lain. ketiga, agar pejabat Kemenag dan para guru agama, pemuka agama, mampu meningkatkan kualitas pelayanan kepada umat beragama. Terkait prinsip pertama, pemerintah menegaskan, pada dasarnya semua agama mengajarkan moderasi. Tuhan menghendaki, dengan adanya agama melalui para pemimpin untuk menjaga harkat dan martabat manusia yang harus dilindungi sesuai konteks kemanusiaan.Namun, Indonesia mengakui adanya enam agama dan memberi hak kepada setiap pemeluknya melaksanakan ibadah dan ajarannya.Jadi, Indonesia pada dasarnya, memegang moderasi beragama sejak dulu.Kita jarang menemukan ada negara begitu kental dan kuat nilai-nilai agama ikut memengaruhi kehidupan masyarakatnya.Nilai itu menjadi landasan utama dan pijakan dasar dalam kemajemukan kita.Dalam menjalani kehidupan bersama.pemimpin dalam lembaga sebagai wakil pemerintah dalam mengejawantahkan moderasi beragama, berkepentingan dalam menjaga keutuhan bangsa yang beragam ini.Program berkesinambungan dan terukur sesuai beradaban masayarakat dan rakyat Indonesia.

Bhineka Tunggal Ika dan Toleransi.Bhineka Tunggal Ika berarti  "berbeda-beda tetapi tetap satu" adalah falsafah yang digali dari kekayaaan bumi nusantara yang sejak dulu sudah berhasil mempersatukan kemajemukan suku, bangsa, dan agama-agama yang ada.  Falsafah ini telah sejak dulu berhasil mempersatukan  Nusantara (Sriwijaya di abad ke-7) meskipun kemudian falsafah tersebut dituliskan oleh Mpu Tantular pada zaman Kerajaan Majapahit  dalam buku Sutasoma lalu dicetuskan kembali oleh Bung Karno, Bung Hatta dan para pemimpin lainnya  saat mendirikan Republik Indonesia yang ber Bhineka Tunggal Ika  ini. Selama ribuan tahun Bhineka Tunggal Ika adalah falsafah atau semboyan hidup bahwa pluralistik adalah realitas Indonesia yang menuntut satu toleransi yang tinggi (intelek).Walaupun Indonesia terdiri dari banyak suku, agama, ras, kesenian, adat, bahasa, dan lain sebagainya, namun tetap satu dalam kesatuan, yaitu sebangsa dan setanah air.Dipersatukan dengan satu nasionalisme Indonesia untuk mencapai cita-cita masyarakat adil dan makmur. Keanekaragaman termasuk dalam agama,  tidak boleh menjadi sumber pertikaian atau perpecahan tetapi sebaliknya justru keanekaragaman haruslah dapat diterima sebagai asset pemersatu bangsa. Perbedaan haruslah dipandang sebagai suatu hal yang wajar  dan perlu agar dapat menjadi harmonis dan serasi  dalam satu masyarakat majemuk.

 

 

Refleksi Ketaatan  Umat kepada Pemerintah

 

"Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah."  Roma 13:1.  Orang Kristen sejati adalah orang yang benar-benar hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, menjadi pelaku firman.  Salah satu wujud nyata kita terhadap kehendak Tuhan adalah taat kepada pemerintah.

  1. Taat kepada pemerintah berarti kita menghormati ketetapan Tuhan!

Mengapa kita harus taat kepada pemerintah?  Sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Tuhan  (Roma 13:1).  Tuhan menetapkan pemerintah-pemerintah di atas muka bumi ini dengan maksud agar manusia hidup secara tertib dan teratur.  Dengan kata lain pemerintah adalah wakil Tuhan di bumi.  Jadi tujuan utama Tuhan mendirikan pemerintah-pemerintah sesungguhnya adalah demi kepentingan manusia itu sendiri.  Maka dari itu Tuhan tidak menghendaki umat-Nya menentang, memusuhi atau melawan pemerintah yang sedang berotoritas, sebab  "...barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya." (ayat 2).Kita tidak perlu takut kepada pemerintah asal kita hidup sesuai aturan-aturan yang ada, melakukan hal-hal yang baik,  "Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat."  (ayat 3a).  Perhatikan firman Tuhan ini!  "Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita."  (ayat 5).  Apa maksudnya?  Seringkali suara hati kita sudah memeringatkan bahwa apa yang kita perbuat adalah sebuah pelanggaran terhadap Tuhan atau pemerintah, namun kita tetap saja melakukannya. 

  1. Taat kepada pemerintah berarti kita ikuti Protokol Kesehatan yang benar.

Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan yang memperbolehkan masyarakat usia di bawah 45 tahun untuk kembali menjalankan aktivitasnya dengan tetap menjalankan new normal seperti yang dicanangkan pemerintah. Hal itu salah satunya untuk menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.  Sebelumnya, semua orang tanpa memandang kelas usia, diminta untuk tetap tinggal di rumah demi memotong rantai persebaran virus corona penyebab Covid-19.

Untuk itu, kini sebagian masyarakat yang dipandang lebih aman terhadap risiko infeksi virus ini, diperkenankan untuk kembali bekerja dan melakukan aktivitasnya sekaligus dalam rangka menyambut  new normal.  Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Menurut Wiku, prinsip utama dari new normal itu sendiri adalah dapat menyesuaikan dengan pola hidup. "Secara sosial, kita pasti akan mengalami sesuatu bentuk new normal atau kita harus beradaptasi dengan beraktifitas, dan bekerja, dan tentunya harus mengurangi kontak fisik dengan orang lain, dan menghindari kerumunan, serta bekerja, bersekolah dari rumah," kata Wiku seperti dalam keterangan yang diterima Apa saja protokol kesehatan Covid-19 yang harus ditaati masyarakat? Berikut ini rinciannya, berdasarkan informasi yang dimiliki oleh Kementerian Kesehatan dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Penerapan protokol kesehatan tak bisa ditawar, adapun protokoler kesehatan penangan Covid 19, sebagai berikut:

  1. Jaga Kebersihan denganTetap Mencuci Tangan
  • Bersihkan tangan dengan cairan pencuci tangan atau hand sanitizer, apabila permukaan tangan tidak terlihat kotor. Namun, apabila tangan kotor maka bersihkan menggunakan sabun dan air mengalir. Cara mencucinya pun harus sesuai dengan standar yang ada, yakni meliputi bagian dalam, punggung, sela-sela, dan ujung-ujung jari.
  1. Jangan Menyentuh Wajah
  • Dalam kondisi tangan yang belum bersih, sebisa mungkin hindari menyentuh area wajah, khususnya mata, hidung, dan mulut. Mengapa? Tangan kita bisa jadi terdapat virus yang didapatkan dari aktivitas yang kita lakukan, jika tangan kotor ini digunakan untuk menyentuh wajah, khususnya di bagian yang sudah disebutkan sebelumnya, maka virus dapat dengan mudah masuk ke dalam tubuh.
  1. Terapkan Etika Batuk dan Bersin
  • Ketika kita batuk atau bersin, tubuh akan mengeluarkan virus dari dalam tubuh. Jika virus itu mengenai dan terpapar ke orang lain, maka orang lain bisa terinfeksi virus yang berasal dari tubuh kita. Terlepas apakah kita memiliki virus corona atau tidak, etika batuk dan bersin harus tetap diterapkan. Caranya, tutup mulut dan hidung menggunakan sapu tangan atau menutup dengan bagian lengan atas dalam. Bagian ini dinilai aman menutup mulut dan hidung dengan optimal, selain itu bagian lengan atas dalam ini tidak digunakan untuk beraktivitas menyentuh wajah. Sehingga relatif aman. Selain dengan lengan, sapu tangan, bisa juga menutup mulut dan hidung menggunakan kain tisu yang setelahnya harus langsung dibuang ke tempat sampah.
  1. Pakai Masker
  • Bagi anda yang memiliki gejala gangguan pernapasan, kenakanlah masker medis ke mana pun saat anda keluar rumah atau berinteraksi dengan orang lain. Setelah digunakan (masker medis hanya bisa digunakan 1 kali dan harus segera diganti), jangan lupa buang masker di tempat sampah yang tertutup dan cuci tangan setelah itu atau masker kain yang bias dipakai hanya untuk sehari setelah itu dapat dicuci. Namun, bagi anda yang tidak memiliki gejala apapun, cukup gunakan masker non-medis, karena masker medis jumlahnya lebih terbatas dan diprioritaskan untuk mereka yang membutuhkan.
  1. Jaga Jarak (Phyisical Distancing / Social Distancing))
  • Untuk menghindari terjadinya paparan virus dari orang ke orang lain, kita harus senantiasa menjaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter. Terlebih, jika orang tersebut menunjukkan gejala gangguan pernapasan. Jaga jarak juga dikenal dengan istilah physical distancing. Kita dilarang untuk mendatangi kerumunan, meminimalisir kontak fisik dengan orang lain, dan tidak mengadakan acara yang mengundang banyak orang.
  1. Isolasi Mandiri (Stay at Home/ di rumah Saja)

Bagi anda yang merasa tidak sehat, seperti mengalami demam, batuk/pilek/nyeri tenggorokan/sesak napas, diminta untuk secara sadar dan sukarela melakukan isolasi mandiri di dalam rumah. Tetap berada di dalam rumah dan tidak mendatangi tempat kerja, sekolah, atau tempat umum lainnya karena memiliki risiko infeksi Covid-19 dan menularkannya ke orang lain.

  1. Jaga kesehatan

Selama berada di dalam rumah atau berkegiatan di luar rumah, pastikan kesehatan fisik tetap terjaga dengan berjemur sinar matahari pagi selama beberapa menit, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan melakukan olahraga ringan.Istirahat yang cukup juga sangat dibutuhkan dalam upaya menjaga kesehatan selama masa pandemi ini.

Pesan Alkitab

Dari kasus pandemic Covid 19 yang sedang menghantui kini, masih banyak orang mencari sebuah ayat Alkitab yang meyakinkannya untuk memberi mereka harapan terhadap beberapa sumber ketegangan dan peristiwa yang terjadi di belahan dunia.Bagaimana kita menghadapi virus yang menyebar ke seluruh dunia ini.Alkitab sebenarnya sudah meramalkan bagaimana wabah penyakit akan bermunculan di akhir zaman ini. Yesus sendiri menjelaskan kepada murid-murid-Nya tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di akhir zaman,dalam Lukas 21:11 (BIS)  “di mana-mana akan terjadi gempa bumi yang hebat, bahaya kelaparan dan wabah penyakit. King James Version, YouVersion, aplikasi Alkitab populer, baru saja mengumumkan bahwa ayat Alkitab yang paling banyak digunakan pada tahun 2019 adalah Filipi 4:6: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”Namun apakah kita akan dibiarkan binasa oleh wabah penyakit yang belum ada vaksinnya ini? Tentu tidak, Alkitab juga sudah memberikan kita cara supaya terhindar dari wabah penyakit di akhir zaman ini dengan memberikan kita petunjuk pola hidup sehat. Salah satunya adalah petunjuk pola makanan taman eden yang terdiri dari buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, dan sayuran.Perintah ini terdapat di dalam Kejadian 1:29, “berfirmanlah Allah: “lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu”” dan Kejadian 3:18 “tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu.”

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan baru-baru ini menanggapi berita wabah virus Corona dengan memberikan saran bagi masyarakat bahwa virus Corona bisa dicegah dengan kondisi badan yang sehat dan imunitas yang baik.Lakukan perilaku hidup sehat dan olah raga ringan yang teratur setiap hari.

 

 

Penutup

 

Sebagai penutup, umat Kristen harus mentaati apa yang diajarkan Yesus. Yesus Kristus memerintahkan agar pemberitaan Kabar Baik (Injil) dimana saja di seluruh dunia harus ditopang oleh kesaksian perbuatan yang baik (kebaikan hati)  sebagaimana tertulis : Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang,  supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan  Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16). Demikianlah orang Kristen dapat memainkan peranannya hidup didalam masyarakat pluralistik dengan memberikan kontribusi terbaik dalam masyarakat.Umat Kristiani harus mentaati pemerintah, karena pemerintah adalah wakil Allah di bumi.Apa yang dihimbau oleh pemerintah menyangkut kebersamaan dan persatuan dalam keberagaman dalam segala kehidupan, dan taat pada pemerintah sehubungan aturan new normal di masa pandemic covid 19. Tuhan  pasti memberkati kehidupan kita bersama.