Pdt. Wahyu Wahono AK, M.Th.

Hubungan antara umat atau seseorang dengan Allah Di bawah ini akan ditinjau secara singkat makna istilah itu dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru. Kata “iman” yang dipakai dalam Perjanjian Baru merupakan terjemahan dari kata Yunani πίστις (pistis), sedangkan kata kerja¬nya “percaya” adalah terjemahan dari kata πιστεύω (pisteuoo). Kata-kata ini sudah dipakai dalam Septuaginta, Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) dalam bahasa Yunani, sebagai terjemahan kata Ibrani aman, yang berarti keadaan yang benar dan dapat dipercayai/ diandalkan. Kata ini dan kata-kata sekelompoknya dalam Alkitab Ibrani sering digunakan untuk menyatakan rasa percaya kepada Allah dan percaya kepada firman-Nya. Percaya kepada Allah mencakup arti percaya bahwa Ia benar dan dapat diandalkan, mempercayakan diri kepada-Nya, dan taat serta setia kepada-Nya. Percaya pada firmanNya berarti percaya dan menerima apa yang sudah difirmankan-Nya itu. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa istilah iman dan percaya dalam Alkitab sering mengandung komponen berikut: 1. percaya dan menerima bahwa sesuatu itu benar, 2. mengandalkan/mempercayakan diri 3. setia, 4. taat. Dalam konteks tertentu hanya satu atau dua komponen makna yang difokuskan, dan komponen lainnya tidak ditekankan, atau malahan tidak berlaku. Dalam Perjanjian Baru, “iman” terutama ditujukan kepada Yesus, yaitu percaya kepada-Nya dan perkataan-Nya, bahwa Dia adalah Tuhan dan Juruselamat, dan mempercayakan diri kepadaNya, serta juga percaya dan menerima kebenaran Injil. Berikut ini kita akan memeriksa arti pistis dan pisteuoo dalam terjemahan Perjanjian Baru bahasa Indonesia versi Terjemahan Baru (TB): Matius 9:22 “Imanmu telah menyelamatkan engkau!” Iman di sini berarti percaya kepada perkataan Yesus dan mem¬percayakan diri kepada-Nya. Bandingkan terjemahan dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS): “Karena engkau percaya kepada-Ku, engkau sembuh!” Markus 1:15 “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Kata percaya di sini menekankan komponen makna pertama, yakni bahwa Injil itu
benar dan dapat dipercaya, sehingga dapat juga diterjemahkan, “Percayalah dan terimalah Injil!” Galatia 2:16 Kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan karena iman dalam Kristus. Dalam ayat ini “percaya” dan “iman”, keduaduanya memiliki seluruh komponen makna-nya. “Iman dalam Kristus” berarti percaya bahwa Injil tentang Yesus itu benar, dan mempercayakan diri kepada Yesus dengan komitmen akan setia dan taat kepada-Nya. Roma 10:9 “Sebab jika engkau mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dengan hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia… “Percaya” di sini adalah percaya akan berita tentang kebangkitan-Nya, dan menerimanya dengan segala konsekuensinya. Kata paralel “mengaku menunjukkan bahwa percaya itu bermuara dalam perbuatan pengakuan. Ungkapan “percaya dalam hati” menandakan bahwa percaya itu harus kuat dan teguh. Yohanes 2:24 “Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka.” Terjemahan Baru menekankan komponen makna yang kedua dalam konteks ini, yakni komponen “mempercayakan diri.” Begitu juga Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari menerjemahkannya: “Tetapi Yesus sendiri tidak percaya mereka.” Selain arti yang pokok seperti diuraikan dengan beberapa contoh di atas, “iman” dalam Perjanjian Baru menurut konteksnya kadangkadang mempunyai arti yang berbeda,yaitu: 1. kemampuan atau sifat baik orang Kristen, 2. agama Kristen, atau juga 3. ajaran atau doktrin Kristen.

Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. (Ibrani 11:6). Sebagai orang percaya, iman kita dibangun di atas fondasi keberadaaan Allah, dan perlakuanNya terhadap orang yang mencariNya berbeda dengan perlakuanNya terhadap
19BERITA MIMBAR edisi 305 | April 2021
orang yang tidak mencariNya. Segera setelah benar-benar mempercayai kedua hal itu, kita mulai menyenangkan Allah, karena kita segera mencariNya. Makna dari mencari Allah adalah: mempelajari kehendakNya, menaati-Nya, dan percaya janji-janjiNya. Ketiga makna itu hendaknya menjadi komponen perjalanan kita sehari-hari.

Telaah Tentang Pandemik
Wabah adalah istilah umum untuk menyebut kejadian tersebarnya penyakit pada daerah yang luas dan pada banyak orang, maupun untuk menyebut penyakit yang menyebar tersebut. Ada beberapa istilah yang berkaitan dengan Pandemik:

1. Endemik Penyakit endemik muncul di suatu area tertentu dan tidak menyebar ke area lain dengan cepat. Penyakit endemik kemunculannya terjadi secara konstan dan bisa diprediksi. Contoh penyakit endemik adalah malaria di Papua atau DBD yang dialami berbagai provinsi Indonesia saat musim hujan tiba. Jumlah penderita penyakit endemik pun biasanya tidak akan terlalu jauh berbeda dari tahun ke tahun. Saat jumlah penderita penyakit endemik jumlahnya meningkat di luar prediksi tapi kejadiannya masih bertahan di area yang sama, maka penyakit tersebut bisa dikategorikan sebagai hiperendemik.

2. Epidemik Suatu penyakit dikatakan sebagai epidemik apabila sudah mewabah ke lebih dari satu area, dengan tingkat penyebaran yang cepat dan sulit diprediksi.
Hal tersebut terjadi pada kasus infeksi Covid-19, misalnya. Saat baru tersebar di Tiongkok dan negara-negara sekitarnya seperti Hongkong dan Taiwan, maka penyakit ini masih disebut sebagai epidemik. Contoh epidemik lain yang pernah atau masih terjadi adalah penyebaran penyakit Ebola di negara-negara Afrika Barat dan penyebaran virus Zika di negara-negara Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Bisa dilihat, bahwa penye-baran kedua penyakit ini “hanya” terjadi di negara-negara dalam satu wilayah.

3. Pandemik Pandemik adalah tingkat penyebaran penyakit yang paling tinggi. Suatu penyakit dikatakan pandemik apabila sudah menyebar secara cepat ke seluruh dunia dengan tingkat infeksi yang tinggi. Infeksi Covid-19 bukanlah penyakit pandemik yang pertama kali terjadi. Sebelum ini, dunia sudah melewati beberapa pandemik, seperti pandemik flu babi akibat virus H1N1 pada 2009. Kala itu, flu babi menginfeksi kurang lebih 1,4 miliar orang di seluruh dunia dan membuat ratusan ribu orang meninggal dunia. Lalu pada tahun 1918-1920, dunia juga mengalami pandemik spanish flu yang diperkirakan menginfeksi 500 juta orang di seluruh dunia. Sementara itu, salah satu pandemik terburuk yang pernah tercatat dalam sejarah adalah pandemik Black Plague atau yang sering juga disebut sebagai Black Death. Pandemik ini menewaskan lebih dari setengah populasi benua Eropa kala itu.

Telaah Tentang Pandemik Virus Corona 19 Dan Dampaknya

Pandemi COVID-19 , juga dikenal sebagai pandemi coronavirus , adalah pandemi penyakit coronavirus yang terjadi sejak tahun 2019 (COVID-19), yang disebabkan oleh sindrom pernafasan akut corona virus 2 (SARS-CoV-2). Wabah ini pertama kali diidentifikasi di Wuhan , Cina, pada Desember 2019. Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan wabah itu sebagai Kesehatan Masyarakat Darurat dari Kepedulian Internasional pada 30 Januari, dan pandemi pada 11 Maret.

Pada 22 Mei 2020, lebih dari 5,2 juta kasus COVID-19 telah dilaporkan di lebih dari 188 negara dan wilayah , yang mengakibatkan lebih dari 337.000 kematian . Lebih dari 2,05 juta orang telah pulih dari virus. Virus ini terutama menyebar di antara orang-orang selama kontak dekat, paling sering melalui tetesan kecil yang dihasilkan oleh batuk, bersin, dan berbicara. Tetesan itu biasanya jatuh ke tanah atau ke permukaan, bukannya melayang di udara dalam jarak yang jauh. Orang dapat terinfeksi dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh wajah mereka. Ini paling menular selama tiga hari pertama setelah timbulnya gejala, meskipun penyebaran
BERITA MIMBAR edisi 305 | April 202120
mungkin terjadi sebelum gejala muncul, dan dari orang yang tidak menunjukkan gejala. Gejala umum termasuk demam, batuk, kelelahan , sesak napas , dan tidak bisa mencium bau. Komplikasi mungkin termasuk pneumonia dan sindrom gangguan pernapasan akut . Waktu dari paparan hingga timbulnya gejala biasanya sekitar lima hari tetapi dapat berkisar dari dua hingga empat belas hari. Tidak ada vaksin yang diketahui atau pengobatan antivirus khusus. Pengobatan primer adalah terapi simtomatik dan suportif . Langkah-langkah pencegahan yang disarankan termasuk mencuci tangan, menutup mulut saat batuk, menjaga jarak dari orang lain, mengenakan masker di tempat umum, dan pemantauan dan isolasi diri untuk orang yang mencurigai mereka terinfeksi. Otoritas di seluruh dunia telah merespons dengan menerapkan pembatasan perjalanan , penguncian , pengendalian bahaya di tempat kerja , dan penutupan fasilitas . Banyak tempat juga bekerja untuk meningkatkan kapasitas pengujian dan melacak kontak orang yang terinfeksi. Pandemi telah menyebabkan gangguan sosial dan ekonomi global, termasuk resesi global terbesar. Ini telah menyebabkan penundaan atau pembatalan acara olahraga, agama, politik, dan budaya, kekurangan pasokan yang meluas yang diperburuk oleh pembelian panik , dan penurunan emisi polutan dan gas rumah kaca. Sekolah, universitas, dan perguruan tinggi saat ini ditutup baik secara nasional maupun lokal di 177 negara, mempengaruhi sekitar 98,6 persen populasi siswa dunia. Informasi yang salah tentang virus telah menyebar secara online, dan telah ada insiden xenophobia dan diskriminasi terhadap orang - orang Cina dan terhadap mereka yang dianggap orang Cina atau berasal dari daerah dengan tingkat infeksi tinggi. Diperburuk oleh pembelian panik, dan penurunan emisi polutan dan gas rumah kaca. Sekolah, universitas, dan perguruan tinggi saat ini ditutup baik secara nasional maupun lokal di 177 negara, mempengaruhi sekitar 98,6 persen populasi siswa dunia. [Informasi yang salah tentang virus telah menyebar secara online, dan telah ada insiden xenophobia dan diskriminasi terhadap orang - orang Cina dan terhadap mereka yang dianggap orang Cina atau berasal dari daerah dengan tingkat infeksi
tinggi.

Bagaimana Sikap Kita? Pandemi virus korona mem -bingungkan dan menakutkan bagi ratusan juta orang. Hal ini tentu tidak mengejutkan. Banyak orang di dunia sakit dan banyak yang meninggal. Kecuali jika situasi berubah secara drastis, akan banyak lagi yang akan jatuh sakit dan mati di seluruh dunia. Krisis ini menimbulkan pertanyaan medis, etika, dan logis yang serius. Tetapi hal itu juga menimbulkan pertanyaan tambahan bagi orang beriman. Dalam sebuah artikel yang dimuat di America Magazine, Pastor James Martin, SJ menawarkan beberapa langkah yang bisa dilakukan orang percaya dalam menghadapi situasi ini.

Jangan Panik Ini bukan untuk mengatakan tidak ada alasan untuk khawatir, atau bahwa kita harus mengabaikan nasihat yang baik dari para profesional medis dan ahli kesehatan. Namun, kepanikan dan ketakutan bukan dari Tuhan. Tetaplah tenang dan berharap. Mari menanggapi krisis dengan serius, sambil mempertahankan rasa tenang dan harapan kita. Ignatius Loyola, pendiri Yesuit, sering berbicara tentang dua kekuatan dalam kehidupan batin kita: yang menarik kita ke arah Tuhan dan yang lain menjauhkan kita dari Tuhan. Yang menjauhkan kita dari Allah, yang ia namai roh jahat, ”menyebabkan kegelisahan yang menggerogoti, menyedihkan dan membuat rintangan. Dengan cara ini hal itu meresah-kan orang dengan alasan palsu yang bertujuan mencegah kemajuan mereka.” Jangan memercayai kebohongan atau desas-desus, atau menyerah pada kepanikan. Percayai apa yang dikatakan para ahli medis. Ada alasan mereka menyebut Setan “Pangeran Kebohongan.” Panik, dengan membingungkan dan menakuti Anda, menarik Anda menjauh dari bantuan yang Tuhan ingin berikan kepada Anda. Itu tidak datang dari Tuhan. Lantas apa yang datang dari Tuhan? St. Ignatius memberi tahu kita: Roh Allah “membangkitkan keberanian dan kekuatan, penghiburan, inspirasi dan ketenangan.” Jadi percayalah pada Roh Allah, dan jadilah tenang. “Jangan takut !,” seperti yang Tuhan Yesus katakan
21BERITA MIMBAR edisi 305 | April 2021
berkali-kali.

Jangan Mengkambinghitamkan
Suatu hari seorang lelaki Tionghoa tua naik ke mobil subway di New York City, mobil itu menjadi kosong dan orang-orang mulai meneriaki dia, menyalahkan negaranya karena menyebarkan virus. Tahan godaan untuk menjelekkan atau mengkambing hitamkan, yang membuat kita stres. Covid-19 bukan penyakit Cina; itu bukan penyakit “asing”. Itu bukan salah siapa-siapa. Demikian juga, orang yang terinfeksi tidak bisa disalahkan. Ingatlah bahwa Yesus ditanya tentang orang buta: “Siapa yang berdosa, bahwa orang ini dilahirkan buta?” Tanggapan Yesus: “Tidak seorang pun” (Yoh 9: 2). Penyakit bukanlah hukuman. Jadi, jangan menjelekkan dan jangan membenci. Covid 19 telah membuat banyak hal berubah, namun biarlah kasih kita kepada sesame tetap ada.

Rawatlah yang Sakit Pandemi ini mungkin membutuhkan waktu yang lama; Lakukan apa yang dapat Anda lakukan untuk membantu orang lain, terutama orang lanjut usia, orang cacat, orang miskin dan terisolasi. Ambil tindakan pencegahan yang diperlukan; jangan sembrono dan jangan berisiko menyebarkan penyakit, tetapi juga jangan lupa tugas dasar Kristen untuk membantu orang lain. “Aku sakit, dan kamu datang mengunjungi aku,” kata Yesus (Mat 25). Mengunjungi dan merawat orang sakit memang bisa membahayakan tetapi inilah yang harus dilakukan sebagai bukti kasih kita. Jangan metutup hati Saudara. Biarkan hatimu terbuka untuk semua yang membutuhkan. Jangan biarkan hati nurani Saudara terinfeksi.

Berdoa Gereja-gereja Katolik di seluruh dunia ditutup, ibadah dan layanan paroki lainnya dibatalkan oleh banyak uskup. Ini adalah langkah bijak sana untuk menjaga orang tetap sehat. Tetapi mereka harus membayar harga: Bagi banyak orang, ini menghilangkan salah satu bagian yang paling
menghibur dalam hidup mereka yaitu Ibadah atau persekutuan bersama. Apa yang bisa dilakukan seseorang? ada banyak ibadah yang disiarkan televisi, radio, atau melalui internet.. Tetapi bahkan jika Anda tidak dapat menemukannya, Anda dapat berdoa sendiri. Ketika Anda melakukannya, ingatlah bahwa Anda masih merupakan bagian dari persekutuan umat Allah.
Anda dapat merenungkan Firman Tuhan secara pribadi atau mengumpulkan keluarga Anda untuk berbicara tentang Injil dan berdoa bersama. Anda juga bisa membagikan pengalaman kita kepada teman tentang bagaimana Allah hadir bagi Anda, bahkan di tengah krisis. Orang-orang Kristen yang dianiaya di gereja mula-mula berdoa dan membagikan iman mereka kepada orang di sekelilingnya, dan kita dapat melakukan hal yang sama. Ingatlah bahwa Yesus berkata, “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku di sana di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20). Ingat juga bahwa gereja bukanlah bangunan. Gereja adalah orangnya . Percayalah bahwa Tuhan Menyertai Anda Saat ini masih banyak orang, terutama mereka yang sakit yang merasakan perasaan terisolasi sehingga menambah ketakutan mereka. Ketakutan juga dialami oleh orang yang tidak terinfeksi, yang pada saat yang sama mulai bertanya: Mengapa ini terjadi? Tidak ada jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan itu, namun ada pertanyaan lain yang bisa menyadarkan kita: Bisakah Anda tetap percaya pada Tuhan dalam kondisi seperti ini? Kita tahu bahwa Yesus memahami penderitaan kita dan menemani kita dengan cara yang paling intim. Ingatlah bahwa selama pelayanan-Nya, Yesus menghabiskan banyak waktu dengan mereka yang sakit. Yesus memahami semua ketakutan dan kekhawatiran yang Anda miliki. Yesus memahami Anda, bukan hanya karena Ia Ilahi dan memahami segala sesuatu tetapi karena ia adalah manusia dan mengalami semua hal. Pergi kepada-Nya dalam doa. Dan percayalah bahwa dia mendengar Anda.@