Spiros Zodhiates

KELEMAHAN DAN SAKITNYA DIA, KESUNGGUHAN KEMANUSIAANNYA

Spiros “Kalau ada seorang diantara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.” (Yakobus 5:14).

 

Apakah orang Kristen pernah sakit?


Tentu saja pernah. Kenyataan ini membuktikan kepada kita bahwa penerimaan Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi sama sekali tidak mengecualikan seseorang dari kerentanan terhadap sakit penyakit jasmani. Sayangnya ada banyak orang yang salah informasi yang mencoba mengkhotbahkan sebaliknya, dan orang-orang seperti itu menimbulkan kebingungan besar yang bisa saja mendatangkan bencana. Kalau seseorang yakin bahwa ia tidak mungkin sakit, dan ia sakit, ia mengembangkan kompleks-kompleks (sistem ide yang tertekan atau dikuasai oleh emosi sehingga dapat menimbulkan tingkah laku yang tidak wajar) salah yang mungkin menjerumuskannya ke dalam kekacauan mental dan keruntuhan rohani. Oleh karenanya, pokok ini merupakan persoalah yang ekstrim dan mendasar karena merupakan pemaksaan masa kini terhadap ketidaktahuan hati nurani. 
Di dalam teks asli Alkitab tidak terdapat tanda baca (versi Indonesia kita juga demikian, tapi dalam berbagai Versi bahasa Inggris ada dibubuhi tanda baca tanda tanya dibelakang kata “sakit”, Red). Tanda tanya ini bukan diinspirasikan. Dari segi tata bahasa, kalimat ini dapat diterima sebagai salah satu dari pernyataan atau pernyataan mengenai suatu fakta. Kita berpendapat bahwa baik dalam ayat 14 maupun ayat 15, Yakobus tidak hanya mengajukan pertanyaan tetapi juga pernyataan mengenai fakta yang ada. Kita juga harus ingat bahwa surat ini dialamatkan kepada orang Kristen dan membicarakan kekristenan. Kalau kita menerima bagian pertama dari ayat ini sebagai suatu pernyataan mengenai kenyataan yang ada ketimbang pertanyaan, maka kita sampai pada kesimpulan bahwa tentu ada seseorang yang sakit di antara orang-orang Kristen yang disurati Yakobus, “Seseorang di antaramu yang sakit.” Dan kalaupun itu diterima sebagai pernyataan, maka kenyataan akan adanya sakit penyakit diisyaratkan. Itu tidak diragukan. Selalu ada yang sakit di antara kita. Hanya, sedikit tergesa-gesa untuk menyimpulkan bahwa mereka sakit mereka tentunya penuh dosa dan karena itu mereka berada di luar kehendak Allah. Kadang-kadang bisa saja terjadi kasus begitu, tetapi tidak selalu. 
Hal pertama yang kita lakukan dalam usaha kita untuk menjelaskan ayat ini ialah pengertian yang terang mengenai kata-kata kunci yang dipergunakan dalam teks asli Yunani . Di dalam pernyataan pertama yang diberikan oleh Yakobus kita membaca kata kerja athenelm, artinya “yang sakit”. ”. Seseorang yang sakit di antara kamu. Kata kerja Yunani asthene-oo berasal dari privatif a sebagai awalan yang artinya “tanpa” dan kata kerja stheno-oo dari kata benda sthenos, yang artinya “kekuatan, tenaga” dan terutama “kekuatan badaniah”.

Jadi kata kerja ini artinya “tanpa kekuatan, dan terutama secara fisik, tanpa kekuatan badaniah, menjadi lemah secara jasmaniah.”


Pasti ada beberapa orang di antara jemaat orang percaya pada zaman Yakobus yang menderita kelemahan badani. Kalau mereka menderita karena dosa pribadi, Yakobus akan mengatakannya dan menegur mereka atas dosatersebut, sebagaimana dilakukannya untuk dosa-dosa lain di sepanjang suratnya ini.


Tetapi ia tidak masuk ke dalam penyebab kelemahan fisik. Ini persoalan pemahaman umum bahwa semua penderitaan, badani dan sebaliknya, adalah akibat dari dosa mula-mula yang diwariskan Adam. Dan karena itu, kematian yaitu akhir dari kelemahan fisik pasti akan tiba. 
Ada beberapa orang yang berpendapat bahwa Yesus Kristus melalui darah salibNya sepenuhnya telah memulihkan diri-Nya dalam diri manusia, termasuk memberikan kepada diri-Nya kekebalan dari kelemahan dan sakit penyakit fisik. Ayat utama yang dikedepankan untuk menyokong argumen ini ialah Matius 8:17, yang berbunyi: “Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” Tapi kita tahu bahwa ada kesalahpahaman besar mengenai ayat ini. Apa yang dimaksud ayat ini sebenarnya ialah bahwa Yesus Kristus yang telah berada di dalam kemanusiaan yang sesungguhnya, tunduk kepada semua kelemahan dan sakit penyakit yang menyerang tubuh kita. Benar, kelemahan-kelemahan dan sakit-penyakit ini adalah konsekwensi dari dosa di dalam kehidupan kita - - namun tidak selalu karena dosa pribadi kita, melainkan dosa asal, dosa Adam, Kristus di dalam penjelmaanNya tidak mengenakan kepada diriNya sendiri tabiat dan keikatan terhadap dosa, meskipun Ia mengembankan kepada diriNya sendiri konsekwensi-konsekwensi dosa Adam, yakni, kelemahan-kelemahan fisik.

 

DiembankanNya kepada diriNya sendiri konsekwensi-konsekwensi dosa, tapi bukan dosa. Dan tentu saja, konsekwensi akhir dari dosa adalah kematian. 
Waktu menciptakannya, Allah bermaksud supaya manusia hidup kekal. Hukuman mati fisik telah dijatuhkan sebagai akibat dari ketidak-taatan, dari dosa. Akibat dosa manusia yang dipikulNya mestinya bukan konsekwensi dari dosaNya sendiri, karena Ia mutlak tidak berdosa. Namun Ia secara sukarela tunduk kepada kematian. Kristus, kalau Ia mau, bisa memilih tidak pernah bisa mati. Ia tidak mati karena memang harus mati. 
Ia memilih mati meski seharusnya Ia tidak mati. Sebaliknya saya dan anda mati karena kita harus mati. Di dalam salib Kristus kita belum mendapatkan penebusan terhadap kelemahan kita seluruhnya dalam hidup ini, karena penebusan tubuh itu akan termasuk dalam penebusan akhir, yaitu setelah kematian tubuh. Kalau melalui pengorbanan kematian Kristus kita telah memperoleh seluruh kebebasan dari sakit penyakit atau kelemahan badani, mengapa tidak juga bebas dari kematian? Kalau Kritus memerdekakan kita dari konsekwensi akhir dosa, yaitu kematian, Ia mestinya juga memerdekakan kita dari konsekwensi akhir dosa, yaitu kematian, Ia mestinya juga memerdekakan kita dari penyebab yang mengakibatkan kematian, seperti sakit-penyakit dari kelemahan fisik. Kita orang Kristen, kemudian harus secara masuk akal dibebaskan dari kematian kalau kita telah dibebaskan dari kematian kalau kita telah dibebaskan dari kelemahan badani. Sebenarnya yang dimaksud oleh Matius 8:17 ini ialah bahwa Kristus telah dengan sukarela menanggungkan kepada diriNya sendiri konsekwensi-konsekwensi dosa warisan kita dari Adam, tanpa akibat-akibat itu menjadi konsekwensi dari dosa pribadiNya; karena kepada kita dikatakan bahwa Ia tidak mempunyai dosa pribadi. 

Marilah kita berpikir logis tatkala kita mempelajari Alkitab. Kalau satu tambah satu sama dengan dua, maka dua tambah dua harus sama dengan empat. Kalau melalui kematian Kristus kita memperoleh pembebasan dari sakit-penyakit dan kelemahan fisik, kita juga memperoleh pembebasan dari kematian fisik; tetapi tidak demikian kenyataannya, setidak-tidaknya dalam hidup ini. Bahkan apa yang dinamakan penyembuhan-penyembuhan ilahi yang sangat fanatik tidak dapat memperoleh jaminan bebas dari kematian. Mengapa mereka tidak memasukkan kematian sebagai salah satu kelemahan jasmaniah, yang ekstrim, diantara yang sudah ditaklukan? Itu bukan yang tidak kita percaya mengenai kuasa Allah untuk menyembuhkan. Kita tentunya mempercayainya, kalau kita tidak meyakininya kita tidak bisa percaya bahwa Allah itu mahakuasa dan sanggup menyembuhkan semua jenis sakit penyakit, tetapi kita disini sedang membicarakan hubungan dosa pribadi dengan sakit-penyakit. 
Ada inferensi/keterlibatan lain dalam keseluruhan persoalan kelemahan badan dan sakit-penyakit. Kalau, sebagaimana diklaim beberapa orang, kelemahan badani merupakan konsekwensi dosa pribadi, mengapa ada begitu banyak orang Kristen yang secara terbuka berbuat dosa namun hampir tidak pernah sakit; sementara di pihak saleh tapi sakit-sakitan terus. Rasul Paulus adalah salah satu di antara mereka. Ia mengalami kelemahan badani. Ada duri didalam dagingnya, apa pun adanya duri itu. Apakah itu karena dosa dalam hidupnya, disengaja, dosa pribadi? Dan karena duri itu terus-menerus tertanam dalam tubuhnya, apakah lantas karena ia terus-menerus berbuat dosa? Dapatkah seorang di antara kita, dapatkah seorang di antara penyembuh modern, benar-benar mengajukan tuduhan ini kepada rasul terbesar yang pernah hidup? Kalau orang-orang Kristen yang menderita sakit menderita karena dosa mereka, maka mereka yang tidak menderita sakit berarti bebas dari dosa.

Tetapi setiap orang yang jujur dan setia tahu bahwa hal ini tidak benar. 
Pernahkah anda dalam hubungan ini memikirkan Ibrani 4:15, ayat yang sangat menghibur, penting, dan kerap dikutip: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan (dan tolong catat bahwa ini kata Yunani yang sama astheneias) kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Marilah kita menanyai diri kita sendiri dengan sebuah pertanyaan yang sangat tajam di sini. Mengapa harus Yesus Kristus sebagai Imam Besar kita menaruh perhatian kepada sesuatu yang dianggap menjadi konsekwensi dari dosa pribadi? Kalau melalui kematianNya Ia telah membebaskan kita secara sempurna dari kerentanan terhadap kelemahan badani, mengapa Ia jatuh kasihan kepada kita? Mestinya Ia malah menghukum kita dan menyerukan kepada kita untuk bertobat. Mengapa harus Ia sebagai Imam Besar menaruh simpati dan menggantikan kita dalam suatu hal yang apakah tidak ada atau mestinya tidak ada, bagi kita sebagai orang Kristen yang baik? 
Karena itu, kita simpulkan bahwa asthenia yang artinya kelemahan badani, kelemahan fisik tidak selalu dapat dianggap sebagai konsekwensi dari dosa pribadi. Ia telah menanggung kepada diriNya sendiri, di dalam inkarnasi dan di kayu salib, konsekwensi-konsekwensi dari dosa Adam. Dalam hal yang sama, kita juga mengalami kelemahan badani, bukan karena suatu dosa pribadi dan khusus yang mungkin telah mengikat kita (meskipun kadang-kadang kita melakukannya), tetapi karena kerentanan umum kita kepada kelemahan fisik, yang diwariskan dari Adam. Mengapa Allah mengizinkan sakit penyakit dialami oleh beberapa orang, sementara yang lain tidak, merupakan suatu hal yang mustahil kita selaku manusia bisa mengertinya. Ia mengetahui yang terbaik. Sungguh menyakitkan buat Dia untuk memilih jalan salib, 

Marilah kita berpikir logis tatkala kita mempelajari Alkitab. Kalau satu tambah satu sama dengan dua, maka dua tambah dua harus sama dengan empat. Kalau melalui kematian Kristus kita memperoleh pembebasan dari sakit-penyakit dan kelemahan fisik, kita juga memperoleh pembebasan dari kematian fisik; tetapi tidak demikian kenyataannya, setidak-tidaknya dalam hidup ini. Bahkan apa yang dinamakan penyembuhan-penyembuhan ilahi yang sangat fanatik tidak dapat memperoleh jaminan bebas dari kematian. Mengapa mereka tidak memasukkan kematian sebagai salah satu kelemahan jasmaniah, yang ekstrim, diantara yang sudah ditaklukan? Itu bukan yang tidak kita percaya mengenai kuasa Allah untuk menyembuhkan. Kita tentunya mempercayainya, kalau kita tidak meyakininya kita tidak bisa percaya bahwa Allah itu mahakuasa dan sanggup menyembuhkan semua jenis sakit penyakit, tetapi kita disini sedang membicarakan hubungan dosa pribadi dengan sakit-penyakit. 
Ada inferensi/keterlibatan lain dalam keseluruhan persoalan kelemahan badan dan sakit-penyakit. Kalau, sebagaimana diklaim beberapa orang, kelemahan badani merupakan konsekwensi dosa pribadi, mengapa ada begitu banyak orang Kristen yang secara terbuka berbuat dosa namun hampir tidak pernah sakit; sementara di pihak saleh tapi sakit-sakitan terus. Rasul Paulus adalah salah satu di antara mereka. Ia mengalami kelemahan badani. Ada duri didalam dagingnya, apa pun adanya duri itu. Apakah itu karena dosa dalam hidupnya, disengaja, dosa pribadi? Dan karena duri itu terus-menerus tertanam dalam tubuhnya, apakah lantas karena ia terus-menerus berbuat dosa? Dapatkah seorang di antara kita, dapatkah seorang di antara penyembuh modern, benar-benar mengajukan tuduhan ini kepada rasul terbesar yang pernah hidup? Kalau orang-orang Kristen yang menderita sakit menderita karena dosa mereka, maka mereka yang tidak menderita sakit berarti bebas dari dosa.

Tetapi setiap orang yang jujur dan setia tahu bahwa hal ini tidak benar. 
Pernahkah anda dalam hubungan ini memikirkan Ibrani 4:15, ayat yang sangat menghibur, penting, dan kerap dikutip: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan (dan tolong catat bahwa ini kata Yunani yang sama astheneias) kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Marilah kita menanyai diri kita sendiri dengan sebuah pertanyaan yang sangat tajam di sini. Mengapa harus Yesus Kristus sebagai Imam Besar kita menaruh perhatian kepada sesuatu yang dianggap menjadi konsekwensi dari dosa pribadi? Kalau melalui kematianNya Ia telah membebaskan kita secara sempurna dari kerentanan terhadap kelemahan badani, mengapa Ia jatuh kasihan kepada kita? Mestinya Ia malah menghukum kita dan menyerukan kepada kita untuk bertobat. Mengapa harus Ia sebagai Imam Besar menaruh simpati dan menggantikan kita dalam suatu hal yang apakah tidak ada atau mestinya tidak ada, bagi kita sebagai orang Kristen yang baik? 
Karena itu, kita simpulkan bahwa asthenia yang artinya kelemahan badani, kelemahan fisik tidak selalu dapat dianggap sebagai konsekwensi dari dosa pribadi. Ia telah menanggung kepada diriNya sendiri, di dalam inkarnasi dan di kayu salib, konsekwensi-konsekwensi dari dosa Adam. Dalam hal yang sama, kita juga mengalami kelemahan badani, bukan karena suatu dosa pribadi dan khusus yang mungkin telah mengikat kita (meskipun kadang-kadang kita melakukannya), tetapi karena kerentanan umum kita kepada kelemahan fisik, yang diwariskan dari Adam. Mengapa Allah mengizinkan sakit penyakit dialami oleh beberapa orang, sementara yang lain tidak, merupakan suatu hal yang mustahil kita selaku manusia bisa mengertinya. Ia mengetahui yang terbaik. Sungguh menyakitkan buat Dia untuk memilih jalan salib,

Apa yang mesti diperbuat oleh orang Kristen kalau ia sakit?
Kita sudah membuktikan fakta bahwa ada orang Kristen yang sakit dan bahwa kelemahan badani itu tidak selamanya konsekwensi dan dosa pribadi. 
Yakobus, sebagai seorang yang praktis, menghadapi aspek praktis dalam hidup ini. Apa yang kita perbuat kalau kita sakit? Hal pertama yang dilakukan sebagian besar orang ialah menghubungi dokter. Apakah tindakan itu Alkitabiah? Mari kita lihat apa yang Yakobus katakan kepada kita sehubungan dengan masalah ini: “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para pentua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.” Mungkin ayat ini merupakan salah satu ayat-ayat yang ada dalam Alkitab dan salah satu ayat yang menyebabkan banyak tukang obat (tabib) mengklaim diri mereka sendiri sebagai penyembuh penyakit yang memenuhi syarat.

Ada beberapa fakta mendasar yang dapat kita deduksikan dari ayat ini. Yang pertama ialah dari saudara yang sakit ini pasti sudah sangat letih. Sehingga tidak mampu lagi pergi ke pertemuan sesama orang percaya. Ia lantas menyuruh orang lain atau anggota keluarga lain untuk memanggil para penatua jemaat datang ke rumahnya. Kata asthenees yang diterjemahkan “sakit”, sebagaimana disebutkan di atas artinya “tanpa kekuatan”. Dan fakta bahwa ia tidak dapat pergi ke gereja merupakan bukti berikut dari makna kata ini. Pastilah orang percaya ini sudah untuk beberapa waktu absen dari pertemuan umat Allah. Ketidak hadirannya mungkin sudah diamat-amati tetapi adalah aneh bahwa prakarsa untuk mengunjungi dia tidak datang dari pihak penatua-penatua jemaat.

 

Dia lah yang menyuruh orang atau salah satu anggota keluarganya untuk memanggil mereka. Tentunya dia seorang yang benar-benar rendah hati. Dia tidak menjadi marah dan meloncat pada simpulan bahwa karena dia tidak dilihat maka dia sudah tidak diingat lagi. Merupakan sikap yang makin mirip dengan sikap Kristus untuk dapat memaklumi kealpaan orang Kristen lainnya daripada mengucapkan serapahan pedas. Para penatua dan pendeta kita mungkin begitu awas terhadap apa yang tengah terjadi. Mari kita jangan mengeritik mereka, tapi meminta mereka datang. Dan sesungguhnya ada dasar Alkitabiah untuk pelayanan mengunjungi orang sakit. 
Bagi saya pemimpin gereja atau sinagoge yang bertanggung-jawab, mengunjungi orang sakit kelihatannya telah menjadi kebiasaan tetap. Westcott mengutip dari tulisan rabbinis memperlihatkan bahwa sudah merupakan kebiasaan untuk mengutus seorang rabbi kepada orang sakit, dan kadang kadang sampai mengunjungi empat orang sakit. Polikarus menyebutkan perkunjungan kepada orang sakit sebagai kewajiban para penatua.

 

Kata “penatua” di dalam bahasa Yunani adalah prebuteroi, dari mana kita mendapatkan kata “presbiter”. Mereka biasanya adalah orang-orang tua yang bertanggung-jawab untuk berbagai fungsi di sebuah jemaat atau gereja lokal. Tidak disebutkan di sini mengenai tabib profesional yang tidak mengerjakan apa-apa kecuali mengadakan kampanye penyembuhan. Berdoa untuk orang sakit dan mengunjungi mereka merupakan salah satu dari sekian banyak tugas dari para pendeta, dan penatua jemaat lokal kita, untuk mengunjungi kita tatkala kita sakit. Ini yang Allah rancangkan. 
Sekarang kita sedang berada di dalam ruang si sakit (di rumah atau dirumah sakit). Para penatua baru saja tiba. Apa kira-kira yang mereka lakukan untuk orang yang baik? “baiklah ... mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.” Ada sementara orang yang menafsirkan bahwa para penatua itu membawa sebotol kecil minyak; meneteskannya sedikit diujung jari lalu mengoleskannya ke alis si sakit. Hal ini oleh orang tertentu disamakan dengan sebuah sakramen. Tanpa prasangka apa pun di dalam pikiran kita, kita harus maju untuk melihat apa sebenarnya yang dimaksudkan oleh Yakobus dengan resep untuk orang Kristen yang sakit ini. 
Mari kita lihat pada penerjemahan literal ayat ini. Sebab dalam hal tertentu terjemahan yang ada tidak menyampaikan semua yang terkandung dalam teks Yunani. Rahasia pengertian ayat ini terletak pada tense (suatu bentuk yang diambil oleh sebuah kata kerja untuk memperlihatkan waktu dari suatu tindakan atau keadaan) partisip (kata sifat yang bersifat kata kerja) aleipsantes, yang artinya “melakukan pengolesan”. Itulah hal pertama yang mereka perbuat - - mereka mengoles dengan minyak kepada orang yang sakit. Tetapi apa arti dari kata kerja eleiphoo ini, yang di dalam versi Indonesia diterjemahkan “mengoles dengan minyak meminyaki/mengurapi”? Di dalam bahasa Yunani ada dua kata yang berbeda. Yaitu aleiphoop yang dipergunakan dalam nas kita ini dan chrioo. Perbedaan antara kedua kata ini bersifat mendasar dan akan menyediakan kunci yang sebenarnya bagi pemahaman akan ayat yang sulit ini. Kata yang dipergunakan dalam nas kita, eleiphoo, adalah kata biasa dan bersifat sekular, sedangkan chrio adalah kata yang kudus dan bersifat agamis. Mari kita ambil beberapa nas lain untuk menggambarkan apa yang kita maksudkan dengan hal ini. Di dalam Lukas 4:18, dituturkan Yesus masuk ke sinagog di Nazareth dan membaca salah satu bagian dalam Kitab Yesaya yang berbunyi begini: “Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin...” dan seterusnya. Kata mengurapi disini tidak sama dengan yang digunakan dalam Yakobus (aleiphoo) melainkan kata kerja chrioo. Dari kata kerja ini muncul kata Kristus. Tuhan Yesus adalah Kristus karena Ia telah diurapi oleh BapaNya untuk pekerjaan penebusan khusus. Karena itu, kata kerja chrioo ini secara eksklusif dipergunakan untuk menunjuk kepada maksud-maksud sakral. Kata ini juga dipergunakan dalam ayat-ayat berikut: KPR 4:27, 10:38, 2 Korintus 1:21, Ibrani 1:9. Hal yang sama juga terdapat dalam Septuaginta, terjemahan Yunani untuk kitab Perjanjian Lama. Kata chrisis, chrisma, dan chrioo yang semuanya merujuk pada pengurapan sakral, adalah kata-kata yang konstan dan berulang-ulang kali dipergunakan untuk semua pengurapan agamis dan simbolis.

 

Spiros Zodhiates

KELEMAHAN DAN SAKITNYA DIA, KESUNGGUHAN KEMANUSIAANNYA

Spiros “Kalau ada seorang diantara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.” (Yakobus 5:14).

 

Apakah orang Kristen pernah sakit?


Tentu saja pernah. Kenyataan ini membuktikan kepada kita bahwa penerimaan Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi sama sekali tidak mengecualikan seseorang dari kerentanan terhadap sakit penyakit jasmani. Sayangnya ada banyak orang yang salah informasi yang mencoba mengkhotbahkan sebaliknya, dan orang-orang seperti itu menimbulkan kebingungan besar yang bisa saja mendatangkan bencana. Kalau seseorang yakin bahwa ia tidak mungkin sakit, dan ia sakit, ia mengembangkan kompleks-kompleks (sistem ide yang tertekan atau dikuasai oleh emosi sehingga dapat menimbulkan tingkah laku yang tidak wajar) salah yang mungkin menjerumuskannya ke dalam kekacauan mental dan keruntuhan rohani. Oleh karenanya, pokok ini merupakan persoalah yang ekstrim dan mendasar karena merupakan pemaksaan masa kini terhadap ketidaktahuan hati nurani. 
Di dalam teks asli Alkitab tidak terdapat tanda baca (versi Indonesia kita juga demikian, tapi dalam berbagai Versi bahasa Inggris ada dibubuhi tanda baca tanda tanya dibelakang kata “sakit”, Red). Tanda tanya ini bukan diinspirasikan. Dari segi tata bahasa, kalimat ini dapat diterima sebagai salah satu dari pernyataan atau pernyataan mengenai suatu fakta. Kita berpendapat bahwa baik dalam ayat 14 maupun ayat 15, Yakobus tidak hanya mengajukan pertanyaan tetapi juga pernyataan mengenai fakta yang ada. Kita juga harus ingat bahwa surat ini dialamatkan kepada orang Kristen dan membicarakan kekristenan. Kalau kita menerima bagian pertama dari ayat ini sebagai suatu pernyataan mengenai kenyataan yang ada ketimbang pertanyaan, maka kita sampai pada kesimpulan bahwa tentu ada seseorang yang sakit di antara orang-orang Kristen yang disurati Yakobus, “Seseorang di antaramu yang sakit.” Dan kalaupun itu diterima sebagai pernyataan, maka kenyataan akan adanya sakit penyakit diisyaratkan. Itu tidak diragukan. Selalu ada yang sakit di antara kita. Hanya, sedikit tergesa-gesa untuk menyimpulkan bahwa mereka sakit mereka tentunya penuh dosa dan karena itu mereka berada di luar kehendak Allah. Kadang-kadang bisa saja terjadi kasus begitu, tetapi tidak selalu. 
Hal pertama yang kita lakukan dalam usaha kita untuk menjelaskan ayat ini ialah pengertian yang terang mengenai kata-kata kunci yang dipergunakan dalam teks asli Yunani . Di dalam pernyataan pertama yang diberikan oleh Yakobus kita membaca kata kerja athenelm, artinya “yang sakit”. ”. Seseorang yang sakit di antara kamu. Kata kerja Yunani asthene-oo berasal dari privatif a sebagai awalan yang artinya “tanpa” dan kata kerja stheno-oo dari kata benda sthenos, yang artinya “kekuatan, tenaga” dan terutama “kekuatan badaniah”.

Jadi kata kerja ini artinya “tanpa kekuatan, dan terutama secara fisik, tanpa kekuatan badaniah, menjadi lemah secara jasmaniah.”


Pasti ada beberapa orang di antara jemaat orang percaya pada zaman Yakobus yang menderita kelemahan badani. Kalau mereka menderita karena dosa pribadi, Yakobus akan mengatakannya dan menegur mereka atas dosatersebut, sebagaimana dilakukannya untuk dosa-dosa lain di sepanjang suratnya ini.


Tetapi ia tidak masuk ke dalam penyebab kelemahan fisik. Ini persoalan pemahaman umum bahwa semua penderitaan, badani dan sebaliknya, adalah akibat dari dosa mula-mula yang diwariskan Adam. Dan karena itu, kematian yaitu akhir dari kelemahan fisik pasti akan tiba. 
Ada beberapa orang yang berpendapat bahwa Yesus Kristus melalui darah salibNya sepenuhnya telah memulihkan diri-Nya dalam diri manusia, termasuk memberikan kepada diri-Nya kekebalan dari kelemahan dan sakit penyakit fisik. Ayat utama yang dikedepankan untuk menyokong argumen ini ialah Matius 8:17, yang berbunyi: “Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” Tapi kita tahu bahwa ada kesalahpahaman besar mengenai ayat ini. Apa yang dimaksud ayat ini sebenarnya ialah bahwa Yesus Kristus yang telah berada di dalam kemanusiaan yang sesungguhnya, tunduk kepada semua kelemahan dan sakit penyakit yang menyerang tubuh kita. Benar, kelemahan-kelemahan dan sakit-penyakit ini adalah konsekwensi dari dosa di dalam kehidupan kita - - namun tidak selalu karena dosa pribadi kita, melainkan dosa asal, dosa Adam, Kristus di dalam penjelmaanNya tidak mengenakan kepada diriNya sendiri tabiat dan keikatan terhadap dosa, meskipun Ia mengembankan kepada diriNya sendiri konsekwensi-konsekwensi dosa Adam, yakni, kelemahan-kelemahan fisik.

 

DiembankanNya kepada diriNya sendiri konsekwensi-konsekwensi dosa, tapi bukan dosa. Dan tentu saja, konsekwensi akhir dari dosa adalah kematian. 
Waktu menciptakannya, Allah bermaksud supaya manusia hidup kekal. Hukuman mati fisik telah dijatuhkan sebagai akibat dari ketidak-taatan, dari dosa. Akibat dosa manusia yang dipikulNya mestinya bukan konsekwensi dari dosaNya sendiri, karena Ia mutlak tidak berdosa. Namun Ia secara sukarela tunduk kepada kematian. Kristus, kalau Ia mau, bisa memilih tidak pernah bisa mati. Ia tidak mati karena memang harus mati. 
Ia memilih mati meski seharusnya Ia tidak mati. Sebaliknya saya dan anda mati karena kita harus mati. Di dalam salib Kristus kita belum mendapatkan penebusan terhadap kelemahan kita seluruhnya dalam hidup ini, karena penebusan tubuh itu akan termasuk dalam penebusan akhir, yaitu setelah kematian tubuh. Kalau melalui pengorbanan kematian Kristus kita telah memperoleh seluruh kebebasan dari sakit penyakit atau kelemahan badani, mengapa tidak juga bebas dari kematian? Kalau Kritus memerdekakan kita dari konsekwensi akhir dosa, yaitu kematian, Ia mestinya juga memerdekakan kita dari konsekwensi akhir dosa, yaitu kematian, Ia mestinya juga memerdekakan kita dari penyebab yang mengakibatkan kematian, seperti sakit-penyakit dari kelemahan fisik. Kita orang Kristen, kemudian harus secara masuk akal dibebaskan dari kematian kalau kita telah dibebaskan dari kematian kalau kita telah dibebaskan dari kelemahan badani. Sebenarnya yang dimaksud oleh Matius 8:17 ini ialah bahwa Kristus telah dengan sukarela menanggungkan kepada diriNya sendiri konsekwensi-konsekwensi dosa warisan kita dari Adam, tanpa akibat-akibat itu menjadi konsekwensi dari dosa pribadiNya; karena kepada kita dikatakan bahwa Ia tidak mempunyai dosa pribadi. 

Marilah kita berpikir logis tatkala kita mempelajari Alkitab. Kalau satu tambah satu sama dengan dua, maka dua tambah dua harus sama dengan empat. Kalau melalui kematian Kristus kita memperoleh pembebasan dari sakit-penyakit dan kelemahan fisik, kita juga memperoleh pembebasan dari kematian fisik; tetapi tidak demikian kenyataannya, setidak-tidaknya dalam hidup ini. Bahkan apa yang dinamakan penyembuhan-penyembuhan ilahi yang sangat fanatik tidak dapat memperoleh jaminan bebas dari kematian. Mengapa mereka tidak memasukkan kematian sebagai salah satu kelemahan jasmaniah, yang ekstrim, diantara yang sudah ditaklukan? Itu bukan yang tidak kita percaya mengenai kuasa Allah untuk menyembuhkan. Kita tentunya mempercayainya, kalau kita tidak meyakininya kita tidak bisa percaya bahwa Allah itu mahakuasa dan sanggup menyembuhkan semua jenis sakit penyakit, tetapi kita disini sedang membicarakan hubungan dosa pribadi dengan sakit-penyakit. 
Ada inferensi/keterlibatan lain dalam keseluruhan persoalan kelemahan badan dan sakit-penyakit. Kalau, sebagaimana diklaim beberapa orang, kelemahan badani merupakan konsekwensi dosa pribadi, mengapa ada begitu banyak orang Kristen yang secara terbuka berbuat dosa namun hampir tidak pernah sakit; sementara di pihak saleh tapi sakit-sakitan terus. Rasul Paulus adalah salah satu di antara mereka. Ia mengalami kelemahan badani. Ada duri didalam dagingnya, apa pun adanya duri itu. Apakah itu karena dosa dalam hidupnya, disengaja, dosa pribadi? Dan karena duri itu terus-menerus tertanam dalam tubuhnya, apakah lantas karena ia terus-menerus berbuat dosa? Dapatkah seorang di antara kita, dapatkah seorang di antara penyembuh modern, benar-benar mengajukan tuduhan ini kepada rasul terbesar yang pernah hidup? Kalau orang-orang Kristen yang menderita sakit menderita karena dosa mereka, maka mereka yang tidak menderita sakit berarti bebas dari dosa.

Tetapi setiap orang yang jujur dan setia tahu bahwa hal ini tidak benar. 
Pernahkah anda dalam hubungan ini memikirkan Ibrani 4:15, ayat yang sangat menghibur, penting, dan kerap dikutip: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan (dan tolong catat bahwa ini kata Yunani yang sama astheneias) kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Marilah kita menanyai diri kita sendiri dengan sebuah pertanyaan yang sangat tajam di sini. Mengapa harus Yesus Kristus sebagai Imam Besar kita menaruh perhatian kepada sesuatu yang dianggap menjadi konsekwensi dari dosa pribadi? Kalau melalui kematianNya Ia telah membebaskan kita secara sempurna dari kerentanan terhadap kelemahan badani, mengapa Ia jatuh kasihan kepada kita? Mestinya Ia malah menghukum kita dan menyerukan kepada kita untuk bertobat. Mengapa harus Ia sebagai Imam Besar menaruh simpati dan menggantikan kita dalam suatu hal yang apakah tidak ada atau mestinya tidak ada, bagi kita sebagai orang Kristen yang baik? 
Karena itu, kita simpulkan bahwa asthenia yang artinya kelemahan badani, kelemahan fisik tidak selalu dapat dianggap sebagai konsekwensi dari dosa pribadi. Ia telah menanggung kepada diriNya sendiri, di dalam inkarnasi dan di kayu salib, konsekwensi-konsekwensi dari dosa Adam. Dalam hal yang sama, kita juga mengalami kelemahan badani, bukan karena suatu dosa pribadi dan khusus yang mungkin telah mengikat kita (meskipun kadang-kadang kita melakukannya), tetapi karena kerentanan umum kita kepada kelemahan fisik, yang diwariskan dari Adam. Mengapa Allah mengizinkan sakit penyakit dialami oleh beberapa orang, sementara yang lain tidak, merupakan suatu hal yang mustahil kita selaku manusia bisa mengertinya. Ia mengetahui yang terbaik. Sungguh menyakitkan buat Dia untuk memilih jalan salib, 

Marilah kita berpikir logis tatkala kita mempelajari Alkitab. Kalau satu tambah satu sama dengan dua, maka dua tambah dua harus sama dengan empat. Kalau melalui kematian Kristus kita memperoleh pembebasan dari sakit-penyakit dan kelemahan fisik, kita juga memperoleh pembebasan dari kematian fisik; tetapi tidak demikian kenyataannya, setidak-tidaknya dalam hidup ini. Bahkan apa yang dinamakan penyembuhan-penyembuhan ilahi yang sangat fanatik tidak dapat memperoleh jaminan bebas dari kematian. Mengapa mereka tidak memasukkan kematian sebagai salah satu kelemahan jasmaniah, yang ekstrim, diantara yang sudah ditaklukan? Itu bukan yang tidak kita percaya mengenai kuasa Allah untuk menyembuhkan. Kita tentunya mempercayainya, kalau kita tidak meyakininya kita tidak bisa percaya bahwa Allah itu mahakuasa dan sanggup menyembuhkan semua jenis sakit penyakit, tetapi kita disini sedang membicarakan hubungan dosa pribadi dengan sakit-penyakit. 
Ada inferensi/keterlibatan lain dalam keseluruhan persoalan kelemahan badan dan sakit-penyakit. Kalau, sebagaimana diklaim beberapa orang, kelemahan badani merupakan konsekwensi dosa pribadi, mengapa ada begitu banyak orang Kristen yang secara terbuka berbuat dosa namun hampir tidak pernah sakit; sementara di pihak saleh tapi sakit-sakitan terus. Rasul Paulus adalah salah satu di antara mereka. Ia mengalami kelemahan badani. Ada duri didalam dagingnya, apa pun adanya duri itu. Apakah itu karena dosa dalam hidupnya, disengaja, dosa pribadi? Dan karena duri itu terus-menerus tertanam dalam tubuhnya, apakah lantas karena ia terus-menerus berbuat dosa? Dapatkah seorang di antara kita, dapatkah seorang di antara penyembuh modern, benar-benar mengajukan tuduhan ini kepada rasul terbesar yang pernah hidup? Kalau orang-orang Kristen yang menderita sakit menderita karena dosa mereka, maka mereka yang tidak menderita sakit berarti bebas dari dosa.

Tetapi setiap orang yang jujur dan setia tahu bahwa hal ini tidak benar. 
Pernahkah anda dalam hubungan ini memikirkan Ibrani 4:15, ayat yang sangat menghibur, penting, dan kerap dikutip: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan (dan tolong catat bahwa ini kata Yunani yang sama astheneias) kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Marilah kita menanyai diri kita sendiri dengan sebuah pertanyaan yang sangat tajam di sini. Mengapa harus Yesus Kristus sebagai Imam Besar kita menaruh perhatian kepada sesuatu yang dianggap menjadi konsekwensi dari dosa pribadi? Kalau melalui kematianNya Ia telah membebaskan kita secara sempurna dari kerentanan terhadap kelemahan badani, mengapa Ia jatuh kasihan kepada kita? Mestinya Ia malah menghukum kita dan menyerukan kepada kita untuk bertobat. Mengapa harus Ia sebagai Imam Besar menaruh simpati dan menggantikan kita dalam suatu hal yang apakah tidak ada atau mestinya tidak ada, bagi kita sebagai orang Kristen yang baik? 
Karena itu, kita simpulkan bahwa asthenia yang artinya kelemahan badani, kelemahan fisik tidak selalu dapat dianggap sebagai konsekwensi dari dosa pribadi. Ia telah menanggung kepada diriNya sendiri, di dalam inkarnasi dan di kayu salib, konsekwensi-konsekwensi dari dosa Adam. Dalam hal yang sama, kita juga mengalami kelemahan badani, bukan karena suatu dosa pribadi dan khusus yang mungkin telah mengikat kita (meskipun kadang-kadang kita melakukannya), tetapi karena kerentanan umum kita kepada kelemahan fisik, yang diwariskan dari Adam. Mengapa Allah mengizinkan sakit penyakit dialami oleh beberapa orang, sementara yang lain tidak, merupakan suatu hal yang mustahil kita selaku manusia bisa mengertinya. Ia mengetahui yang terbaik. Sungguh menyakitkan buat Dia untuk memilih jalan salib,

Apa yang mesti diperbuat oleh orang Kristen kalau ia sakit?
Kita sudah membuktikan fakta bahwa ada orang Kristen yang sakit dan bahwa kelemahan badani itu tidak selamanya konsekwensi dan dosa pribadi. 
Yakobus, sebagai seorang yang praktis, menghadapi aspek praktis dalam hidup ini. Apa yang kita perbuat kalau kita sakit? Hal pertama yang dilakukan sebagian besar orang ialah menghubungi dokter. Apakah tindakan itu Alkitabiah? Mari kita lihat apa yang Yakobus katakan kepada kita sehubungan dengan masalah ini: “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para pentua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.” Mungkin ayat ini merupakan salah satu ayat-ayat yang ada dalam Alkitab dan salah satu ayat yang menyebabkan banyak tukang obat (tabib) mengklaim diri mereka sendiri sebagai penyembuh penyakit yang memenuhi syarat.

Ada beberapa fakta mendasar yang dapat kita deduksikan dari ayat ini. Yang pertama ialah dari saudara yang sakit ini pasti sudah sangat letih. Sehingga tidak mampu lagi pergi ke pertemuan sesama orang percaya. Ia lantas menyuruh orang lain atau anggota keluarga lain untuk memanggil para penatua jemaat datang ke rumahnya. Kata asthenees yang diterjemahkan “sakit”, sebagaimana disebutkan di atas artinya “tanpa kekuatan”. Dan fakta bahwa ia tidak dapat pergi ke gereja merupakan bukti berikut dari makna kata ini. Pastilah orang percaya ini sudah untuk beberapa waktu absen dari pertemuan umat Allah. Ketidak hadirannya mungkin sudah diamat-amati tetapi adalah aneh bahwa prakarsa untuk mengunjungi dia tidak datang dari pihak penatua-penatua jemaat.

 

Dia lah yang menyuruh orang atau salah satu anggota keluarganya untuk memanggil mereka. Tentunya dia seorang yang benar-benar rendah hati. Dia tidak menjadi marah dan meloncat pada simpulan bahwa karena dia tidak dilihat maka dia sudah tidak diingat lagi. Merupakan sikap yang makin mirip dengan sikap Kristus untuk dapat memaklumi kealpaan orang Kristen lainnya daripada mengucapkan serapahan pedas. Para penatua dan pendeta kita mungkin begitu awas terhadap apa yang tengah terjadi. Mari kita jangan mengeritik mereka, tapi meminta mereka datang. Dan sesungguhnya ada dasar Alkitabiah untuk pelayanan mengunjungi orang sakit. 
Bagi saya pemimpin gereja atau sinagoge yang bertanggung-jawab, mengunjungi orang sakit kelihatannya telah menjadi kebiasaan tetap. Westcott mengutip dari tulisan rabbinis memperlihatkan bahwa sudah merupakan kebiasaan untuk mengutus seorang rabbi kepada orang sakit, dan kadang kadang sampai mengunjungi empat orang sakit. Polikarus menyebutkan perkunjungan kepada orang sakit sebagai kewajiban para penatua.

 

Kata “penatua” di dalam bahasa Yunani adalah prebuteroi, dari mana kita mendapatkan kata “presbiter”. Mereka biasanya adalah orang-orang tua yang bertanggung-jawab untuk berbagai fungsi di sebuah jemaat atau gereja lokal. Tidak disebutkan di sini mengenai tabib profesional yang tidak mengerjakan apa-apa kecuali mengadakan kampanye penyembuhan. Berdoa untuk orang sakit dan mengunjungi mereka merupakan salah satu dari sekian banyak tugas dari para pendeta, dan penatua jemaat lokal kita, untuk mengunjungi kita tatkala kita sakit. Ini yang Allah rancangkan. 
Sekarang kita sedang berada di dalam ruang si sakit (di rumah atau dirumah sakit). Para penatua baru saja tiba. Apa kira-kira yang mereka lakukan untuk orang yang baik? “baiklah ... mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.” Ada sementara orang yang menafsirkan bahwa para penatua itu membawa sebotol kecil minyak; meneteskannya sedikit diujung jari lalu mengoleskannya ke alis si sakit. Hal ini oleh orang tertentu disamakan dengan sebuah sakramen. Tanpa prasangka apa pun di dalam pikiran kita, kita harus maju untuk melihat apa sebenarnya yang dimaksudkan oleh Yakobus dengan resep untuk orang Kristen yang sakit ini. 
Mari kita lihat pada penerjemahan literal ayat ini. Sebab dalam hal tertentu terjemahan yang ada tidak menyampaikan semua yang terkandung dalam teks Yunani. Rahasia pengertian ayat ini terletak pada tense (suatu bentuk yang diambil oleh sebuah kata kerja untuk memperlihatkan waktu dari suatu tindakan atau keadaan) partisip (kata sifat yang bersifat kata kerja) aleipsantes, yang artinya “melakukan pengolesan”. Itulah hal pertama yang mereka perbuat - - mereka mengoles dengan minyak kepada orang yang sakit. Tetapi apa arti dari kata kerja eleiphoo ini, yang di dalam versi Indonesia diterjemahkan “mengoles dengan minyak meminyaki/mengurapi”? Di dalam bahasa Yunani ada dua kata yang berbeda. Yaitu aleiphoop yang dipergunakan dalam nas kita ini dan chrioo. Perbedaan antara kedua kata ini bersifat mendasar dan akan menyediakan kunci yang sebenarnya bagi pemahaman akan ayat yang sulit ini. Kata yang dipergunakan dalam nas kita, eleiphoo, adalah kata biasa dan bersifat sekular, sedangkan chrio adalah kata yang kudus dan bersifat agamis. Mari kita ambil beberapa nas lain untuk menggambarkan apa yang kita maksudkan dengan hal ini. Di dalam Lukas 4:18, dituturkan Yesus masuk ke sinagog di Nazareth dan membaca salah satu bagian dalam Kitab Yesaya yang berbunyi begini: “Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin...” dan seterusnya. Kata mengurapi disini tidak sama dengan yang digunakan dalam Yakobus (aleiphoo) melainkan kata kerja chrioo. Dari kata kerja ini muncul kata Kristus. Tuhan Yesus adalah Kristus karena Ia telah diurapi oleh BapaNya untuk pekerjaan penebusan khusus. Karena itu, kata kerja chrioo ini secara eksklusif dipergunakan untuk menunjuk kepada maksud-maksud sakral. Kata ini juga dipergunakan dalam ayat-ayat berikut: KPR 4:27, 10:38, 2 Korintus 1:21, Ibrani 1:9. Hal yang sama juga terdapat dalam Septuaginta, terjemahan Yunani untuk kitab Perjanjian Lama. Kata chrisis, chrisma, dan chrioo yang semuanya merujuk pada pengurapan sakral, adalah kata-kata yang konstan dan berulang-ulang kali dipergunakan untuk semua pengurapan agamis dan simbolis.