Spiros Zodhiates

KELEMAHAN DAN SAKITNYA DIA, KESUNGGUHAN KEMANUSIAANNYA

Spiros “Kalau ada seorang diantara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.” (Yakobus 5:14).

 

Apakah orang Kristen pernah sakit?


Tentu saja pernah. Kenyataan ini membuktikan kepada kita bahwa penerimaan Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi sama sekali tidak mengecualikan seseorang dari kerentanan terhadap sakit penyakit jasmani. Sayangnya ada banyak orang yang salah informasi yang mencoba mengkhotbahkan sebaliknya, dan orang-orang seperti itu menimbulkan kebingungan besar yang bisa saja mendatangkan bencana. Kalau seseorang yakin bahwa ia tidak mungkin sakit, dan ia sakit, ia mengembangkan kompleks-kompleks (sistem ide yang tertekan atau dikuasai oleh emosi sehingga dapat menimbulkan tingkah laku yang tidak wajar) salah yang mungkin menjerumuskannya ke dalam kekacauan mental dan keruntuhan rohani. Oleh karenanya, pokok ini merupakan persoalah yang ekstrim dan mendasar karena merupakan pemaksaan masa kini terhadap ketidaktahuan hati nurani.
Di dalam teks asli Alkitab tidak terdapat tanda baca (versi Indonesia kita juga demikian, tapi dalam berbagai Versi bahasa Inggris ada dibubuhi tanda baca tanda tanya dibelakang kata “sakit”, Red). Tanda tanya ini bukan diinspirasikan. Dari segi tata bahasa, kalimat ini dapat diterima sebagai salah satu dari pernyataan atau pernyataan mengenai suatu fakta. Kita berpendapat bahwa baik dalam ayat 14 maupun ayat 15, Yakobus tidak hanya mengajukan pertanyaan tetapi juga pernyataan mengenai fakta yang ada. Kita juga harus ingat bahwa surat ini dialamatkan kepada orang Kristen dan membicarakan kekristenan. Kalau kita menerima bagian pertama dari ayat ini sebagai suatu pernyataan mengenai kenyataan yang ada ketimbang pertanyaan, maka kita sampai pada kesimpulan bahwa tentu ada seseorang yang sakit di antara orang-orang Kristen yang disurati Yakobus, “Seseorang di antaramu yang sakit.” Dan kalaupun itu diterima sebagai pernyataan, maka kenyataan akan adanya sakit penyakit diisyaratkan. Itu tidak diragukan. Selalu ada yang sakit di antara kita. Hanya, sedikit tergesa-gesa untuk menyimpulkan bahwa mereka sakit mereka tentunya penuh dosa dan karena itu mereka berada di luar kehendak Allah. Kadang-kadang bisa saja terjadi kasus begitu, tetapi tidak selalu.
Hal pertama yang kita lakukan dalam usaha kita untuk menjelaskan ayat ini ialah pengertian yang terang mengenai kata-kata kunci yang dipergunakan dalam teks asli Yunani . Di dalam pernyataan pertama yang diberikan oleh Yakobus kita membaca kata kerja athenelm, artinya “yang sakit”. ”. Seseorang yang sakit di antara kamu. Kata kerja Yunani asthene-oo berasal dari privatif a sebagai awalan yang artinya “tanpa” dan kata kerja stheno-oo dari kata benda sthenos, yang artinya “kekuatan, tenaga” dan terutama “kekuatan badaniah”.

Jadi kata kerja ini artinya “tanpa kekuatan, dan terutama secara fisik, tanpa kekuatan badaniah, menjadi lemah secara jasmaniah.”


Pasti ada beberapa orang di antara jemaat orang percaya pada zaman Yakobus yang menderita kelemahan badani. Kalau mereka menderita karena dosa pribadi, Yakobus akan mengatakannya dan menegur mereka atas dosatersebut, sebagaimana dilakukannya untuk dosa-dosa lain di sepanjang suratnya ini.


Tetapi ia tidak masuk ke dalam penyebab kelemahan fisik. Ini persoalan pemahaman umum bahwa semua penderitaan, badani dan sebaliknya, adalah akibat dari dosa mula-mula yang diwariskan Adam. Dan karena itu, kematian yaitu akhir dari kelemahan fisik pasti akan tiba.
Ada beberapa orang yang berpendapat bahwa Yesus Kristus melalui darah salibNya sepenuhnya telah memulihkan diri-Nya dalam diri manusia, termasuk memberikan kepada diri-Nya kekebalan dari kelemahan dan sakit penyakit fisik. Ayat utama yang dikedepankan untuk menyokong argumen ini ialah Matius 8:17, yang berbunyi: “Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” Tapi kita tahu bahwa ada kesalahpahaman besar mengenai ayat ini. Apa yang dimaksud ayat ini sebenarnya ialah bahwa Yesus Kristus yang telah berada di dalam kemanusiaan yang sesungguhnya, tunduk kepada semua kelemahan dan sakit penyakit yang menyerang tubuh kita. Benar, kelemahan-kelemahan dan sakit-penyakit ini adalah konsekwensi dari dosa di dalam kehidupan kita - - namun tidak selalu karena dosa pribadi kita, melainkan dosa asal, dosa Adam, Kristus di dalam penjelmaanNya tidak mengenakan kepada diriNya sendiri tabiat dan keikatan terhadap dosa, meskipun Ia mengembankan kepada diriNya sendiri konsekwensi-konsekwensi dosa Adam, yakni, kelemahan-kelemahan fisik.

 

DiembankanNya kepada diriNya sendiri konsekwensi-konsekwensi dosa, tapi bukan dosa. Dan tentu saja, konsekwensi akhir dari dosa adalah kematian.
Waktu menciptakannya, Allah bermaksud supaya manusia hidup kekal. Hukuman mati fisik telah dijatuhkan sebagai akibat dari ketidak-taatan, dari dosa. Akibat dosa manusia yang dipikulNya mestinya bukan konsekwensi dari dosaNya sendiri, karena Ia mutlak tidak berdosa. Namun Ia secara sukarela tunduk kepada kematian. Kristus, kalau Ia mau, bisa memilih tidak pernah bisa mati. Ia tidak mati karena memang harus mati.
Ia memilih mati meski seharusnya Ia tidak mati. Sebaliknya saya dan anda mati karena kita harus mati. Di dalam salib Kristus kita belum mendapatkan penebusan terhadap kelemahan kita seluruhnya dalam hidup ini, karena penebusan tubuh itu akan termasuk dalam penebusan akhir, yaitu setelah kematian tubuh. Kalau melalui pengorbanan kematian Kristus kita telah memperoleh seluruh kebebasan dari sakit penyakit atau kelemahan badani, mengapa tidak juga bebas dari kematian? Kalau Kritus memerdekakan kita dari konsekwensi akhir dosa, yaitu kematian, Ia mestinya juga memerdekakan kita dari konsekwensi akhir dosa, yaitu kematian, Ia mestinya juga memerdekakan kita dari penyebab yang mengakibatkan kematian, seperti sakit-penyakit dari kelemahan fisik. Kita orang Kristen, kemudian harus secara masuk akal dibebaskan dari kematian kalau kita telah dibebaskan dari kematian kalau kita telah dibebaskan dari kelemahan badani. Sebenarnya yang dimaksud oleh Matius 8:17 ini ialah bahwa Kristus telah dengan sukarela menanggungkan kepada diriNya sendiri konsekwensi-konsekwensi dosa warisan kita dari Adam, tanpa akibat-akibat itu menjadi konsekwensi dari dosa pribadiNya; karena kepada kita dikatakan bahwa Ia tidak mempunyai dosa pribadi.

Marilah kita berpikir logis tatkala kita mempelajari Alkitab. Kalau satu tambah satu sama dengan dua, maka dua tambah dua harus sama dengan empat. Kalau melalui kematian Kristus kita memperoleh pembebasan dari sakit-penyakit dan kelemahan fisik, kita juga memperoleh pembebasan dari kematian fisik; tetapi tidak demikian kenyataannya, setidak-tidaknya dalam hidup ini. Bahkan apa yang dinamakan penyembuhan-penyembuhan ilahi yang sangat fanatik tidak dapat memperoleh jaminan bebas dari kematian. Mengapa mereka tidak memasukkan kematian sebagai salah satu kelemahan jasmaniah, yang ekstrim, diantara yang sudah ditaklukan? Itu bukan yang tidak kita percaya mengenai kuasa Allah untuk menyembuhkan. Kita tentunya mempercayainya, kalau kita tidak meyakininya kita tidak bisa percaya bahwa Allah itu mahakuasa dan sanggup menyembuhkan semua jenis sakit penyakit, tetapi kita disini sedang membicarakan hubungan dosa pribadi dengan sakit-penyakit.
Ada inferensi/keterlibatan lain dalam keseluruhan persoalan kelemahan badan dan sakit-penyakit. Kalau, sebagaimana diklaim beberapa orang, kelemahan badani merupakan konsekwensi dosa pribadi, mengapa ada begitu banyak orang Kristen yang secara terbuka berbuat dosa namun hampir tidak pernah sakit; sementara di pihak saleh tapi sakit-sakitan terus. Rasul Paulus adalah salah satu di antara mereka. Ia mengalami kelemahan badani. Ada duri didalam dagingnya, apa pun adanya duri itu. Apakah itu karena dosa dalam hidupnya, disengaja, dosa pribadi? Dan karena duri itu terus-menerus tertanam dalam tubuhnya, apakah lantas karena ia terus-menerus berbuat dosa? Dapatkah seorang di antara kita, dapatkah seorang di antara penyembuh modern, benar-benar mengajukan tuduhan ini kepada rasul terbesar yang pernah hidup? Kalau orang-orang Kristen yang menderita sakit menderita karena dosa mereka, maka mereka yang tidak menderita sakit berarti bebas dari dosa.

Tetapi setiap orang yang jujur dan setia tahu bahwa hal ini tidak benar.
Pernahkah anda dalam hubungan ini memikirkan Ibrani 4:15, ayat yang sangat menghibur, penting, dan kerap dikutip: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan (dan tolong catat bahwa ini kata Yunani yang sama astheneias) kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Marilah kita menanyai diri kita sendiri dengan sebuah pertanyaan yang sangat tajam di sini. Mengapa harus Yesus Kristus sebagai Imam Besar kita menaruh perhatian kepada sesuatu yang dianggap menjadi konsekwensi dari dosa pribadi? Kalau melalui kematianNya Ia telah membebaskan kita secara sempurna dari kerentanan terhadap kelemahan badani, mengapa Ia jatuh kasihan kepada kita? Mestinya Ia malah menghukum kita dan menyerukan kepada kita untuk bertobat. Mengapa harus Ia sebagai Imam Besar menaruh simpati dan menggantikan kita dalam suatu hal yang apakah tidak ada atau mestinya tidak ada, bagi kita sebagai orang Kristen yang baik?
Karena itu, kita simpulkan bahwa asthenia yang artinya kelemahan badani, kelemahan fisik tidak selalu dapat dianggap sebagai konsekwensi dari dosa pribadi. Ia telah menanggung kepada diriNya sendiri, di dalam inkarnasi dan di kayu salib, konsekwensi-konsekwensi dari dosa Adam. Dalam hal yang sama, kita juga mengalami kelemahan badani, bukan karena suatu dosa pribadi dan khusus yang mungkin telah mengikat kita (meskipun kadang-kadang kita melakukannya), tetapi karena kerentanan umum kita kepada kelemahan fisik, yang diwariskan dari Adam. Mengapa Allah mengizinkan sakit penyakit dialami oleh beberapa orang, sementara yang lain tidak, merupakan suatu hal yang mustahil kita selaku manusia bisa mengertinya. Ia mengetahui yang terbaik. Sungguh menyakitkan buat Dia untuk memilih jalan salib,

Marilah kita berpikir logis tatkala kita mempelajari Alkitab. Kalau satu tambah satu sama dengan dua, maka dua tambah dua harus sama dengan empat. Kalau melalui kematian Kristus kita memperoleh pembebasan dari sakit-penyakit dan kelemahan fisik, kita juga memperoleh pembebasan dari kematian fisik; tetapi tidak demikian kenyataannya, setidak-tidaknya dalam hidup ini. Bahkan apa yang dinamakan penyembuhan-penyembuhan ilahi yang sangat fanatik tidak dapat memperoleh jaminan bebas dari kematian. Mengapa mereka tidak memasukkan kematian sebagai salah satu kelemahan jasmaniah, yang ekstrim, diantara yang sudah ditaklukan? Itu bukan yang tidak kita percaya mengenai kuasa Allah untuk menyembuhkan. Kita tentunya mempercayainya, kalau kita tidak meyakininya kita tidak bisa percaya bahwa Allah itu mahakuasa dan sanggup menyembuhkan semua jenis sakit penyakit, tetapi kita disini sedang membicarakan hubungan dosa pribadi dengan sakit-penyakit.
Ada inferensi/keterlibatan lain dalam keseluruhan persoalan kelemahan badan dan sakit-penyakit. Kalau, sebagaimana diklaim beberapa orang, kelemahan badani merupakan konsekwensi dosa pribadi, mengapa ada begitu banyak orang Kristen yang secara terbuka berbuat dosa namun hampir tidak pernah sakit; sementara di pihak saleh tapi sakit-sakitan terus. Rasul Paulus adalah salah satu di antara mereka. Ia mengalami kelemahan badani. Ada duri didalam dagingnya, apa pun adanya duri itu. Apakah itu karena dosa dalam hidupnya, disengaja, dosa pribadi? Dan karena duri itu terus-menerus tertanam dalam tubuhnya, apakah lantas karena ia terus-menerus berbuat dosa? Dapatkah seorang di antara kita, dapatkah seorang di antara penyembuh modern, benar-benar mengajukan tuduhan ini kepada rasul terbesar yang pernah hidup? Kalau orang-orang Kristen yang menderita sakit menderita karena dosa mereka, maka mereka yang tidak menderita sakit berarti bebas dari dosa.

Tetapi setiap orang yang jujur dan setia tahu bahwa hal ini tidak benar.
Pernahkah anda dalam hubungan ini memikirkan Ibrani 4:15, ayat yang sangat menghibur, penting, dan kerap dikutip: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan (dan tolong catat bahwa ini kata Yunani yang sama astheneias) kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Marilah kita menanyai diri kita sendiri dengan sebuah pertanyaan yang sangat tajam di sini. Mengapa harus Yesus Kristus sebagai Imam Besar kita menaruh perhatian kepada sesuatu yang dianggap menjadi konsekwensi dari dosa pribadi? Kalau melalui kematianNya Ia telah membebaskan kita secara sempurna dari kerentanan terhadap kelemahan badani, mengapa Ia jatuh kasihan kepada kita? Mestinya Ia malah menghukum kita dan menyerukan kepada kita untuk bertobat. Mengapa harus Ia sebagai Imam Besar menaruh simpati dan menggantikan kita dalam suatu hal yang apakah tidak ada atau mestinya tidak ada, bagi kita sebagai orang Kristen yang baik?
Karena itu, kita simpulkan bahwa asthenia yang artinya kelemahan badani, kelemahan fisik tidak selalu dapat dianggap sebagai konsekwensi dari dosa pribadi. Ia telah menanggung kepada diriNya sendiri, di dalam inkarnasi dan di kayu salib, konsekwensi-konsekwensi dari dosa Adam. Dalam hal yang sama, kita juga mengalami kelemahan badani, bukan karena suatu dosa pribadi dan khusus yang mungkin telah mengikat kita (meskipun kadang-kadang kita melakukannya), tetapi karena kerentanan umum kita kepada kelemahan fisik, yang diwariskan dari Adam. Mengapa Allah mengizinkan sakit penyakit dialami oleh beberapa orang, sementara yang lain tidak, merupakan suatu hal yang mustahil kita selaku manusia bisa mengertinya. Ia mengetahui yang terbaik. Sungguh menyakitkan buat Dia untuk memilih jalan salib,

Apa yang mesti diperbuat oleh orang Kristen kalau ia sakit?
Kita sudah membuktikan fakta bahwa ada orang Kristen yang sakit dan bahwa kelemahan badani itu tidak selamanya konsekwensi dan dosa pribadi.
Yakobus, sebagai seorang yang praktis, menghadapi aspek praktis dalam hidup ini. Apa yang kita perbuat kalau kita sakit? Hal pertama yang dilakukan sebagian besar orang ialah menghubungi dokter. Apakah tindakan itu Alkitabiah? Mari kita lihat apa yang Yakobus katakan kepada kita sehubungan dengan masalah ini: “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para pentua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.” Mungkin ayat ini merupakan salah satu ayat-ayat yang ada dalam Alkitab dan salah satu ayat yang menyebabkan banyak tukang obat (tabib) mengklaim diri mereka sendiri sebagai penyembuh penyakit yang memenuhi syarat.

Ada beberapa fakta mendasar yang dapat kita deduksikan dari ayat ini. Yang pertama ialah dari saudara yang sakit ini pasti sudah sangat letih. Sehingga tidak mampu lagi pergi ke pertemuan sesama orang percaya. Ia lantas menyuruh orang lain atau anggota keluarga lain untuk memanggil para penatua jemaat datang ke rumahnya. Kata asthenees yang diterjemahkan “sakit”, sebagaimana disebutkan di atas artinya “tanpa kekuatan”. Dan fakta bahwa ia tidak dapat pergi ke gereja merupakan bukti berikut dari makna kata ini. Pastilah orang percaya ini sudah untuk beberapa waktu absen dari pertemuan umat Allah. Ketidak hadirannya mungkin sudah diamat-amati tetapi adalah aneh bahwa prakarsa untuk mengunjungi dia tidak datang dari pihak penatua-penatua jemaat.

 

Dia lah yang menyuruh orang atau salah satu anggota keluarganya untuk memanggil mereka. Tentunya dia seorang yang benar-benar rendah hati. Dia tidak menjadi marah dan meloncat pada simpulan bahwa karena dia tidak dilihat maka dia sudah tidak diingat lagi. Merupakan sikap yang makin mirip dengan sikap Kristus untuk dapat memaklumi kealpaan orang Kristen lainnya daripada mengucapkan serapahan pedas. Para penatua dan pendeta kita mungkin begitu awas terhadap apa yang tengah terjadi. Mari kita jangan mengeritik mereka, tapi meminta mereka datang. Dan sesungguhnya ada dasar Alkitabiah untuk pelayanan mengunjungi orang sakit.
Bagi saya pemimpin gereja atau sinagoge yang bertanggung-jawab, mengunjungi orang sakit kelihatannya telah menjadi kebiasaan tetap. Westcott mengutip dari tulisan rabbinis memperlihatkan bahwa sudah merupakan kebiasaan untuk mengutus seorang rabbi kepada orang sakit, dan kadang kadang sampai mengunjungi empat orang sakit. Polikarus menyebutkan perkunjungan kepada orang sakit sebagai kewajiban para penatua.

 

Kata “penatua” di dalam bahasa Yunani adalah prebuteroi, dari mana kita mendapatkan kata “presbiter”. Mereka biasanya adalah orang-orang tua yang bertanggung-jawab untuk berbagai fungsi di sebuah jemaat atau gereja lokal. Tidak disebutkan di sini mengenai tabib profesional yang tidak mengerjakan apa-apa kecuali mengadakan kampanye penyembuhan. Berdoa untuk orang sakit dan mengunjungi mereka merupakan salah satu dari sekian banyak tugas dari para pendeta, dan penatua jemaat lokal kita, untuk mengunjungi kita tatkala kita sakit. Ini yang Allah rancangkan.
Sekarang kita sedang berada di dalam ruang si sakit (di rumah atau dirumah sakit). Para penatua baru saja tiba. Apa kira-kira yang mereka lakukan untuk orang yang baik? “baiklah ... mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.” Ada sementara orang yang menafsirkan bahwa para penatua itu membawa sebotol kecil minyak; meneteskannya sedikit diujung jari lalu mengoleskannya ke alis si sakit. Hal ini oleh orang tertentu disamakan dengan sebuah sakramen. Tanpa prasangka apa pun di dalam pikiran kita, kita harus maju untuk melihat apa sebenarnya yang dimaksudkan oleh Yakobus dengan resep untuk orang Kristen yang sakit ini.
Mari kita lihat pada penerjemahan literal ayat ini. Sebab dalam hal tertentu terjemahan yang ada tidak menyampaikan semua yang terkandung dalam teks Yunani. Rahasia pengertian ayat ini terletak pada tense (suatu bentuk yang diambil oleh sebuah kata kerja untuk memperlihatkan waktu dari suatu tindakan atau keadaan) partisip (kata sifat yang bersifat kata kerja) aleipsantes, yang artinya “melakukan pengolesan”. Itulah hal pertama yang mereka perbuat - - mereka mengoles dengan minyak kepada orang yang sakit. Tetapi apa arti dari kata kerja eleiphoo ini, yang di dalam versi Indonesia diterjemahkan “mengoles dengan minyak meminyaki/mengurapi”? Di dalam bahasa Yunani ada dua kata yang berbeda. Yaitu aleiphoop yang dipergunakan dalam nas kita ini dan chrioo. Perbedaan antara kedua kata ini bersifat mendasar dan akan menyediakan kunci yang sebenarnya bagi pemahaman akan ayat yang sulit ini. Kata yang dipergunakan dalam nas kita, eleiphoo, adalah kata biasa dan bersifat sekular, sedangkan chrio adalah kata yang kudus dan bersifat agamis. Mari kita ambil beberapa nas lain untuk menggambarkan apa yang kita maksudkan dengan hal ini. Di dalam Lukas 4:18, dituturkan Yesus masuk ke sinagog di Nazareth dan membaca salah satu bagian dalam Kitab Yesaya yang berbunyi begini: “Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin...” dan seterusnya. Kata mengurapi disini tidak sama dengan yang digunakan dalam Yakobus (aleiphoo) melainkan kata kerja chrioo. Dari kata kerja ini muncul kata Kristus. Tuhan Yesus adalah Kristus karena Ia telah diurapi oleh BapaNya untuk pekerjaan penebusan khusus. Karena itu, kata kerja chrioo ini secara eksklusif dipergunakan untuk menunjuk kepada maksud-maksud sakral. Kata ini juga dipergunakan dalam ayat-ayat berikut: KPR 4:27, 10:38, 2 Korintus 1:21, Ibrani 1:9. Hal yang sama juga terdapat dalam Septuaginta, terjemahan Yunani untuk kitab Perjanjian Lama. Kata chrisis, chrisma, dan chrioo yang semuanya merujuk pada pengurapan sakral, adalah kata-kata yang konstan dan berulang-ulang kali dipergunakan untuk semua pengurapan agamis dan simbolis.

Pdt. Wahyu Wahono

JERITAN YANG MENGGONCANG SORGA

Pdt. Wahyu Penderitaan hidup memang tampil dalam berbagai bentuk. Mungkin saja berupa perlawanan dari teman atau orang yang kita kasihi, bisa juga berupa pengalaman fisik atau mental yang menyakitkan, atau kegagalan yang menyebabkan rasa frustasi yang dalam. Namun semua itu harus dipandang berdasarkan perspektif yang tepat.

 

Gagasan dan makna apa yang dapat kita temukan dalam jeritan sebagaimana dituangkan dalam Mazmur 22: 2 di atas?
Jeritan Kesedihan
Kata-kata ini terus misterius, mengharukan, dan mengundang keheningan. Makna yang diungkapkan dalam kata-kata tersebut mengandung perasaan ketakutan. Kristus telah mengambil sikap diam sejenak permulaan kegelapan. Selama hampir tiga jam Ia tidak mengucapkan sepatah katapun. Konflik batin yang Ia hadapi terasa terlalu dalam dan menekan. Akhirnya, kesedihan-Nya meletus. Ia tidak lagi mampu menahan kesedihan hati-Nya. Dengan teriakan keras Dia menjebol dinding hati-Nya yag tertekan keras oleh kesedihan. Ia sampaikan kesedihan-Nya kepada telinga Bapa di Surga. Kata-kata yang Ia terikkan adalah kata-kata sebagai ungkapan kesedihan yang paling pahit di antara kata-kata kesedihan yang pernah Ia ucapkan. Itulah jeritan pribadi yang tiba-tiba terkelilingi oleh situasi yang tak pernah Ia alami.
Kristus telah terbebas dari dua mimbar pengadilan. Dalam pengadilan rohani Ia telah menantang pemeriksaan yang paling ketat. Kepada Kayafas Ia berkata, “Mengapakah engkau menanyai Aku ? Tanyailah mereka, yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan.” (Yohanes 18:21). 

Dalam pengadilan kejahatan, Ia tidak perlu mengucapkan sepatah katapun atas nama-Nya sendiri, bahkan saat hakim mendakwa-Nya tak bersalah, “Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan mulai membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini, itu urusan kamu sendiri” (Matius 27:24).
Tetapi, saat itu Penebus sedang menghadap pengadilan Bapa, atas tuduhan kesalahan manusia. Ia melihat wajah Bapa berpaling dari-Nya. Tak seorangpun dan tak satu malaikatpun mau menawarkan diri mereka untuk membela diri-nya. Itulah sebabnya Ia menjerit, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku.” Kenapa Ia
menjerit ?, karena Ia bersedih. Allah tidak menyertai Dia. Allah menjauhkan dari diri-Nya.
Ditinggalkan Bapa
Selama lebih dari tiga puluh tahun, saat Ia menyimpan perasaan senang pada kehadiran Bapa-Nya. Bahkan saat di taman Getsemani, kepahitan cawan menjadi reda, kegelapan malam pekat berubah menjadi terang, karena ada Dia yang kepada-Nya Penebus bisa datang dan berkata, “Bapa-Ku.” Tetapi, sekarang cahaya wajah Allah telah pudar. Oleh karena itulah, jiwa Yesus sakit dan tertekan. Bagi-Nya, bayangan rasa sakit penyalipan, penghindaran para sahabat, cemoohan banyak orang, dan serbuan roh-roh jahat yang pernah menimpa-Nya tak sesakit penolakan Bapa.


Jelaslah, bahwa Tuhan kita harus dengan kuat fisik dan moral menyelubungi diri-Nya. Tak seorangpun dan tak satu malaikatpun sanggup memberi Ia dukungan sekecilpun. Tidak heran bila Ia tak mengucapkan sapatah katapun mulai jam enam hingga jam sembilan pagi. Hati-Nya hancur karena ditinggalkan Allah. Hati-Nya hancur sehingga Ia tak mampu berbicara. Ia terancam serangan para musuh-Nya. Ia tertekan oleh kesengsaraan daging.

 

Ketika Kristus mengambil alih suatu beban yang seharusnya ia pikul. Dengan memarnya Kristus karena dosa manusia, Allah senang. Allah Bapa telah menempatkan Kristus dalam kesedihan. Sang Putra menderita karena pelanggaran dan kejahatan kita.

Kasih Anak Kepada Bapa
Dalam diri Kristus, kita bisa menemukan banyak perkara yang menarik perhatian. Kita akan merasa terharu saat merenungkan betapa kasih dan sikap hormat Anak meresap dalam setiap kata, pikiran, dan tindakan-Nya !. Tak pernah sekalipun Ia mengungkapkan keinginan hati-Nya sendiri. Yang Ia lakukan hanyalah suatu penghormatan untuk memuliakan nama Bapa. Kasih kepada Bapa merupakan air mancur rahasia yang menjadi sumber gerak kasih Kristus. Kasih seperti ini merupakan suatu prinsip yang secara utuh menggerakan Dia.
Selanjutnya, Allah Bapa berbagi kemuliaan dengan Allah Putra. Keajaiban-keajabian yang Ia lakukan menghasilkan kemuliaan bagi-Nya. Namun, di kayu salib Kristus mencapai kemuliaan tertinggi melalui kemenangan-Nya atas dunia yang tak terlihat. Saat yang kristis telah tiba. Selama tiga hari konflik berlangsung. Yesus mengalahkan saat-saat kritis. Kemenangan telah tercapai. “Sudah selesai.” Di saat kemenangan, Ia berteriak dengan keras, “Eli, Eli, lama Sabbakhtani---Allah-Ku, Allah-Ku.” Hanya dengan kekuatan dari Allah Bapa, Ia mampu bertahan.
Jika sudut pandang yang telah kita pakai benar, maka kebenaran tersebut akan memampukan kita untuk menilai hal-ikhwal penderitaan yang mengakibatkan Allah kita digembleng. Kebenaran tersebut juga akan menjelaskan kepahitan cawan misterius yang dituangkan bagi Dia untuk meminumnya. Kebenaran tersebut juga akan menjelaskan apa saja yang menjadi bahan doa-doa-Nya kepada Bapa.

Kerinduan inilah yang Ia perjuangkan di kayu salib. Terpisah dari kehadiran Allah merupakan penderitaan yang paling berat yang dirasakan Kristus. Keterpisahan ini merupakan unsur terpahit dalam cawan yang harus Ia minum. Tidak heran jika jiwanya dipenuhi kesedihan. Hampir saja Ia tidak bisa berpikir, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku.” Dengan melihat seluruh peristiwa yang Ia lakukan di taman Getsemani, Saudara bisa memperhitungkan seberapa besar penderitaan-Nya. Ia meninggalkan murid-murid-Nya untuk berdoa, lalu Ia bangklit dari lutut-Nya untuk mendatangi muri-murid-Nya. Ia naik lagi untuk berlutut dan berdoa. Kemudian Ia bangkit lagi dan turun mendatangi murid-murid-Nya. Sampai tiga kali Ia naik untuk berdoa. Ia merebahkan wajah-nya karena kesedihan yang mendalam. Dia berdoa dengan amat bersungguh-sungguh. Kerinduan-Nya bagaikan darah yang menetes jatuh ke tanah, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku.”

Fakta Yang Paling Hening Dalam Sejarah
Dalam rekaman sejarah dunia, kita telah merenungkan fakta yang paling hening. Berdoalah dengan begitu seriusnya sehingga kita secara layak merasakan pengaruh doa tersebut.

Biarlah renungan kita selalu tinggal tetap dalam apa yang ditanggung Juruselamat kita. Beban yang Ia pikul bukan karena ditusuk tombak dan dipaku, bukannya karena ditinggal teman-teman-Nya, bukannya karena dikelilingi para musuh-Nya. Beban yang Ia pikul bukanlah karena perkara-perkara yang sering kita lihat sebagai siksaan bagi Dia. Yang Ia pikul adalah beban oleh karena ditinggalkan oleh Bapa. Pertimbangan inilah yang merembes masuk ke dalam pikiran-Nya yang sedang dalam keadaan begitu lemahnya.
Allah Bapa telah meninggalkan Sang Putra menderita. Inilah misteri untuk dijelaskan. Bapa telah menyembunyikan wajah-Nya dari Putra-Nya karena Sang Putra menanggung beban dosa dunia. Bapa memandang dosa sebagai sesuatu yang menjijik-kan. Dia memalingkan wajah-Nya dari dosa yang merupakan serangan bagi-Nya. Sang Putra tidak meninggalkan Bapa-Nya karena Sang Putra memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan kepada Bapa-Nya dan kasih-Nya kepada Bapa lebih kuat dari kematian.

Penutup
Salib Kristus menampakkan keadilan dan kesucian Allah. Karena dosa itulah Kristus harus menanggung beban dan harus ditinggalkan oleh Bapa-Nya. Dosa menimpa Dia, bukan di dalam Dia. Betapa mengerikan malapetaka yang akan menimpa mereka yang tidak memperoleh pengampunan dan penebusan dosa. Namun, saat penghakiman belum tiba. Salib Kristus merupakan tanda kasih dan kemurahan Allah kepada manusia. Kristus mati sehingga kita beroleh hidup kekal. Kristus ditinggalkan Bapa supaya kita dipulihkan. Cahaya wajah Bapa-Nya tersembunyi supaya cahaya kedamaian dan kasih menyinari dunia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”.

 

TAKLUKNYA MASALAH

YANG PALING SULIT DI DUNIA
(oleh : May Gee)

“Maka firman TUHAN kepada Iblis: ‘Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya." Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN.’” (Ayub 1:12)
Dalam apa yang dialami Ayub, Iblis harus memperoleh ijin dari Tuhan sebelum dia bisa melakukan apapun terhadap Ayub atau terhadap kita.
Lebih dari itu, Ijin yang diberikan Tuhan itu ada batasnya, tidak boleh melebihi kesanggupan hamba-Nya yang dicobai. Boleh ambil harta benda dan anak-anaknya Ayub, tapi jangan istrinya apalagi nyawa Ayub itu sendiri.
Fakta ini membuktikan bahwa Tuhan mengasihi kita dan tahu kesanggupan kita “Berhubung kamu sanggup, maka Aku ijinkan engkau sakit menahun. Berhubungan kamu sanggup, Aku ijinkan engkau mengalami resah harian.
Sangat disayangkan jika ternyata sering kali kita lebih dekat dengan Iblis daripada dengan Tuhan. Kita berakhir dalam penderitaan karena kedekatan kita dengan Iblis. Melihat kenyataan seperti itu, Tuhan tidak kalah pedih hati dibanding kita..

KATA TUHAN BUKAN KATA HATI.
Banyak buku diterbitkan supaya kita percaya diri. Tetapi orang yang hampir tenggelam di sungai karena tidak bisa berenang tidak butuh percaya diri. Dia butuh orang lain atau sekedar pelampung untuk menyelamatkan diri dari ketertenggelaman. Orang yang tervonis hukuman mati sedang menghadapi kursi listrik tidak butuh percaya diri, melainkan butuh pengampunan. Orang yang tersesat di hutan tidak butuh percaya diri, dia butuh tahu jalan keluar dari hutan itu.

Alkitab bekata, “Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal, tetapi siapa berlaku dengan bijak akan selamat.” (Amsal 28:26). Seringkali kata hati menjadi suatu kesalahan. Kita perlu bijak dan perlu berhikmat. Firman Tuhan itu hikmat. Suara-Nya adalah kata Tuhan, bukan kata hati. Berdoalah dan pujilah Tuhan. Di sanalah hikmat.

MENGAKAR PADA TUHAN
Kita perlu lebih mengakar pada Tuhan jauh lebih dalam dan erat dari sebelumnya. Kita dapat melakukannya dengan memberi hidup dan hati kita kepada-Nya.
Setiap waktu Tuhan telah menyelamatkan kita dari keadaan kita. Kita masih diberi kesempatan, entah sampai kapan. Yang penting, selagi masih ada kesempatan. Di masa depan Dia tetap akan melakukan hal yang sama. Dia tidak bisa mengingkari hakekat-Nya yaitu menjadi penolong kita.
Kita berhak menggenggam masa depan. Tentang masa depan, jangan biarkan apapun membuat kita di persimpangan. Sayang sekali jika kita sendirilah yang merunyamkan masa depan kita.

IBLIS TERKECOH
Iblis itu ciptaan, bukan pencipta. Tuhan yang menjadi pemilik kita adalah pencipta segalanya. Tuhan-lah Pengendali segala sesuatu, bukan Iblis. Siapakah yang lebih misterius? Tuhan atau Iblis. Iblis itu mudah ditebak jalannya. Caranya murahan. Pengetahuannya terbatas karena dia hanyalah ciptaan.

Iblis mematikan kreatifitas kita. Daya pikir kita dilumpuhkan supaya kita tunduk kepadanya. ‘Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: "Engkaulah Anak Allah." (Markus 3:11). Sebaliknya, setiap kali kita bertemu Tuhan, kita bisa mengutarakan apa saja layaknya sahabat, layaknya seorang anak bercakap-cakap dengan ayahnya. Tidak selalu harus ada pemandangan orang tersungkur dalam perjumpaan keluarga.
Iblis tidak benar-benar tahu banyak hal. Iblis juga terbatas. Jika dia maha tahu maka dia tidak akan menginspirasi orang untuk menjadi sesat dengan menyalibkan Yesus karena itu adalah tindakan sia-sia. Jika Iblis serba tahu maka dia akan tahu sebelumnya bahwa dia akan kalah. Kalah ketika Kristus dibangkitkan. Kalah, ketika Kristus tidak selamanya mati. Iblis gigit jari melihat kenyataan bahwa usahanya sia-sia. Kristus datang ke dunia dalam kehidupan sebagai bayi. Dia kembali ke sorga tidak dalam keadaan sebagai mayat melainkan sebagai manusia yang diangkat ke sorga disaksikan ribuan orang.
Iblis tidak menyadari bahwa Ayub disertai Tuhan. Seandainya dia tahu maka dia tidak akan mencobai Ayub karena itu tindakan sia-sia.

KITA BERHAK ATAS MASA DEPAN

Mengapa menyerahkan hidup kita ke tangan Iblis ketika kita tahu bahwa dengan cara itu kita akan menjadi orang yang kalah? Ada situasi dimana kita harus mengalami penderitaan Kronis, menahun tidak hanya secara lahir/jasmani/kesehatan tapi juga secara psikis, ganjalan hati dan pikiran. Mengapa tidak menyerahkan kepada Tuhan? “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu.” (Mazmur 56:4). Jangan pindah ke lain hati. Temukan tempat favorit untuk menangis kepada Tuhan.

“Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang” (Amsal 23:18). Banyak orang mengidap penyakit kronis, menahun. Penyakit itu bisa berupa penjakit jasmani, secara lahir atau penyakit psikis, ganjalan hati, masalah yang mengganggu pikiran. Penyakit ini bisa merampas sukacita hari ini dan menggerogoti damai sejahtera masa depan kita. Penyebab dari penyakit itu bisa karena banyak hal. Salah satunya yang pasti karena Tuhan ijinkan jika hal itu harus terjadi. Mengapa Tuhan ijinkan hal itu terjadi? Kalau begitu apakah itu tidak berarti Tuhan justru menjadi sumber mala petaka bagi kita. Bisa jadi Iya. Memang faktanya begitu seperti yang dialami Ayub. Di balik itu, Tuhan bermaksud supaya kita tahu siapa yang lebih berkuasa. Kitakah atau Iblis yang mencobai kita. Atau supaya kita tahu bahwa Tuhan-lah yang Empunya segalanya di dunia ini?

BERSERAH KEPADA YANG MAMPU MENGALAHKAN MASALAH PALING SULIT DI DUNIA

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.” (Mazmur 46:2). Logika dari pengertian ini adalah “Tuhan mengijinkan kita mengalami kesesakan, agar supaya kita menemukan tempat berlindung dan sumber kekuatan serta mengenal siapa yang bisa menjadi Penolong kita.” Iblis tersungkur di hadapan Allah, mengapa kita malah membungkuk kepada Iblis? Mengapa kita tidak menyerahkan masalah kita kepada Pribadi yang sudah mengalahkan maut. Dia kalahkan maut, itu berarti Dia bisa mengalahkan masalah yang paling sulit di dunia ini, termasuk mengalahkan permasalahan hidup kita.

 

 

 

© Berita Hidup, Po Box 247 Solo 57102 GKAIinTrying

amg                                           Yayasan Berita Hidup