Building
home
fb icon
 

Spiros Zodhiates

KEMERDEKAAN DI TENGAH

MASA GENTING

Spiros

 

Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Lukas 11:13 - TB LAI). Ayat ini menyebut tiga hal yaitu pemberian, Sang Pemberi, dan penerima.
Pemberian itu adalah Roh Kudus.  Akan tetapi ketika para murid meminta supaya Tuhan Yesus mengajar mereka berdoa, mereka kira Tuhan akan memberikan suatu seri doa yang masuk akal sesuai dengan permintaan mereka.  Tetapi ternyata Tuhan tidak melakukan hal tersebut.  Kekristenan bukan agama legalistik, tetapi agama yang didiami oleh Roh Kudus, yaitu roh yang menerangi hati kita untuk mengetahui apa yang menyenangkan Allah dan untuk hanya memohon apa yang menyenangkan Dia.  Kita pikir kita tahu apa yang terbaik bagi kita, tetapi seringkali kita salah.  Terkadang sifat alamiah kita muncul dan menuntut apa yang tidak menyenangkan Allah.  Tetapi, kita memiliki jaminan bahwa Allah tidak akan pernah mengabulkan permohonan seperti itu.

Janji Pertama Yesus—Mengapa Pemberian Ini Dibutuhkan Pada Saat Khusus Seperti Itu?
Ayat ini adalah janji pertama Yesus untuk memberikan Roh Kudus kepada para murid.  Sejak awal Ia telah membuat banyak janji berharga seperti Kerajaan Surga, penghiburan Ilahi, warisan di dunia, kebajikan, kemurahan, suatu tempat dalam hadirat Bapa dan keluarga Allah—dan banyak lagi berkat.  Tetapi sekarang, untuk pertama kalinya Ia menjanjikan kepada mereka Roh Kudus, suatu janji yang sejak saat diucapkan senantiasa diulang-ulang dan dibicarakan sampai saat kenaikan-Nya.  Janji ini adalah janji yang Ia usahakan menjadi penghiburan bagi hati mereka dan memenangkan mereka dari segala godaan dan ambisi dunia, yaitu janji kedatangan Roh Kudus.
Tuhan kita menyebut-Nya pemberian yang baik.  Ini berarti Tuhan Yesus memberikan penghormatan dan pujian kepada Roh Kudus di hadapan para murid, juga tidak saja mengajarkan mereka cara berdoa, tetapi tentang kegunaan doa.  Marilah kita perhatikan sebagian kecil dari pemberian yang baik ini.

Pengalaman Tuhan Kita Terhadap Roh Kudus Adalah Dasar Dia Merekomendasi Roh Kudus Kepada Para Pengikut-Nya.
Kita berkata bahwa Kristus telah merekomendasikan Roh Kudus kepada para murid.  Tetapi apa dasar dari perbuatan-Nya ini?  Ada banyak jawaban bervariasi yang dapat diberikan.  Tetapi, kita akan berfokus pada satu jawaban saja: Karena Kristus sendiri telah memiliki pengalaman dengan Roh Kudus, dan dengan dasar inilah Ia dapat merekomendasikan-Nya kepada para murid.  Roh Kudus telah menjadi pemberian yang baik bagi Kristus; oleh karena itu, Ia dapat berpikir apa yang paling baik bagi para murid-Nya.
Sekarang supaya kita dapat melihat apa yang Roh Kudus lakukan kepada Tuhan Yesus, kita akan melihat gaya cerita Lukas dan membatasinya hanya pada kitab Lukas saja.  Apa yang ingin Lukas katakan tentang hubungan Roh Kudus dengan kehidupan pribadi Tuhan Yesus?  Marilah kita kembali memperhatikan Injil Lukas?

Roh Kudus Sebagai Seekor Burung Merpati—Menyimbolkan Kelemahlembutan dan Damai Sejahtera
“...ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya.

 

Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Luk 3:21, 22 - TB LAI).  Roh Kudus turun dalam bentuk seekor burung merpati.  Kemudian, Ia muncul sebagai Roh lemah lembut dan damai sejahtera karena merpati adalah lambang dari kedua unsur ini. Kelemahlembutan dan damai sejahtera adalah bagian yang tentu dari segala berkat yang Ia bawa.  Semua kehidupan setelah kematian dan pelayanan dari Tuhan telah ....
Apapun yang telah Kristus alami, Ia tetap memiliki damai sejahtera di dalam hati.  Dengan salib yang senantiasa membayang di hadapan-Nya, berada di ambang pintu peperangan terakhir-Nya dengan kuasa-kuasa kegelapan, Ia tetap ada dalam damai sejahtera.  Sesungguhnya, Ia penuh dengan damai sejahtera sehingga Ia dapat memberikan damai itu kepada orang lain sembari tetap ada dalam kelimpahan damai sejahtera-Nya sendiri.  Lihatlah bagaimana Ia tetap berada dalam ketenangan yang luar biasa ketika berhadapan dengan Pilatus; ketika berada di jalan menuju penyaliban Ia berbalik kepada para wanita yang mengikuti dan meratapi Dia serta berkata, “Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!” (Luk 23:28 - TB LAI); ketika Ia berada di atas kayu salib, memperhatikan ibu-Nya, menyelamatkan penjahat yang ada di samping-Nya, dan menanggung celaan yang menimpa diri-Nya.  Apakah dengan semua ini tidak menunjukkan bahwa Ia adalah Raja Damai Sejahtera?  Sesungguhnya, Roh Damai Sejahtera telah dicurahkan atas Dia.

Kita Juga Dapat Memiliki Damai Sejahtera Di Dalam Jiwa Dalam Segala Keadaan, Melalui Roh Kudus. Kemerdekaan di tengah-tengah kegentigan.
Tentu saja, sekarang Roh Kudus inilah yang direkomendasikan kepada para murid..... Oleh karena itu, jika kita memohon Roh Kudus Allah, maka kita akan memiliki damai sejahtera dan menjadi lemah lembut. Melalui Roh Kudus kita memiliki kemerdekaan di tengah masa genting

Roh Kudus Memberi Kemenangan Di Tengah Pencobaan
Kita membaca sekali lagi, “Yesus, yang

penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun.” (Luk 4:1 - TB LAI). Sungai Yordan dengan dengan kota Yerikho dan di sanalah Tuhan kita dibaptis .  Dan keangkeran padang gurun Yudea tidaklah jauh dari sungai ini.
Sekarang perhatikan bagaimana kadang kala Roh Kudus dapat memimpin kita masuk dalam padang gurun untuk suatu tujuan.  Jika ia memimpin, maka kita tidak perlu takut; Ia juga akan memberi kemenangan.  Bukankah pengalaman seperti ini ada dalam kehidupan Tuhan kita?  Jika Ia menuntun kita masuk dalam tempat yang sulit, ini supaya Ia dapat membuat kita menang atas pencobaan tersebut.
Sekarang perhatikan apa yang terjadi di padang gurun.  Selama 40 hari Tuhan Yesus dicobai oleh Iblis—digoda, tetapi Iblis tidak berhasil menguasai Dia.  Ia tidak takluk, tetapi menjadi Penakluk.
Dapatkah Anda membayangkan hidup tanpa berkemenangan? Hidup ini bukan kehidupan yang layak.  Janganlah kita merasakan beratnya pertempuran selama kita tahu Tuhan berserta kita.  Tuhan yang memimpin kita dan Ia juga yang memberi kemenangan kepada kita.
Apakah Roh Kudus senantiasa bersama Tuhan kita saat-saat pertempuran? Ya, pasti! Ketika Tuhan tergantung di kayu salib, Ia beteriak, “...Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mrk 15:34-TB LAI). Tetapi, Ia sama sekali tidak menangis ketika di padang gurun, sebab memang Ia tidak perlu menangis.  Roh Kuduslah yang membawa Dia ke padang gurun, dan ketika peperangan telah berakhir, para malaikat pun datang dan melayani Dia.  Tetapi, kita juga diberi tahu tentang Roh yang melayani Dia yaitu Roh yang membawa Yesus kembali ke Galilea (Luk 4:14). Roh Kudus tidak pernah meninggalkan Dia sesaat saja. Kita menggenggam Kemerdekaan di tegah-tengah masa genting.
Dalam saat-saat genting, hal terpenting yang dapat kita miliki bukanlah uang atau dokter yang baik atau teman-teman yang baik, tetapi yang terpenting adalah kehadiran Roh Kudus.  Yesus dibawa kembali dalam kuasa Roh Kudus ke Galilea.  Tetapi tidak dikatakan bahwa Roh Kudus datang kepada-Nya, sebagaimana para malaikat.  Tidak, Roh Kudus tidak datang karena sejak Ia turun ke atas Tuhan kita, maka Roh Kudus itu tetap tinggal bersama Dia.  Roh Kudus tidak pernah meninggalkan Tuhan kita sesaat pun.

Karakter Roh Kudus Yang Tinggal Di Dalam Hidup Kita
Adalah sifat Roh Kudus untuk tinggal tetap.  “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,  yaitu Roh Kebenaran.” (Yoh 14:16, 17). Betapa bahagianya mengetahui bahwa Roh Kudus tetap tinggal dengan kita dalam saat yang sangat dibutuhkan.  Jika kita menyadari hal ini, maka kita akan menjadi orang-orang Kristen yang berkemenangan.  Tentu saja, seandainya kita sendiri menuntun diri kita ke adalam pencobaan, maka mungkin saja kita tidak pernah dapat ke luar dari padanya.  Tetapi, jika Roh Kudus memimpin kita ke dalam pencobaan, sebagaimana yang Ia buat kepada Tuhan Yesus Kristus, Ia akan membawa kita ke luar menjadi orang yang lebih kuat dan berkemenangan dibanding ketika Ia memimpin kita masuk dalam pencobaan.
Tentu saja, kita dapat merasa takut.  Itulah sebabnya Tuhan mengajar kita untuk berdoa, “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” (Luk 11:4 - TB LAI). Kita takut akan pencobaan dan itu tidak mengapa.  Tetapi kita lupa bahwa Ia berjalan bersama kita, maka pencobaan bukanlah masalah, tetapi kesempatan untuk menaklukan.  Jika Ia bersama kita, penyakit yang kita derita adalah kesempatan untuk memiliki sukacita Ilahi yang tidak pernah dapat diberikan oleh keadaan sehat sekalipun.  Semua selalu benar adanya.  Ketika Roh Kudus membawa kita masuk ke dalam pencobaan, maka semua itu adalah untuk kebaikan kita.  Ia tidak meninggalkan kita di dalam pencobaan tersebut, tetapi menjadikan kita kuat untuk melayani atau dimurnikan di hadapan Allah dan sesama.
Bukankah Roh Kudus ini yang kita butuhkan sekarang lebih dari apapun juga?  Ia adalah penyempurnaan dan kumpulan dari semua yang baik yang ada dalam tangan Allah.  Roh tidak akan menghindar untuk membawa kita ke dalam segala disiplin yang perlu, tetapi Ia akan membawa kita melampaui semua itu. Ia dapat membawa kita masuk dalam kesukaran karena Dia adalah Juruselamat; tetapi Ia dapat membawa kita keluar menjadi orang yang kuat dan kudus. 

 

Ia dapat membawa kita masuk ke dalam tungku perapian, tetapi Ia akan berjalan melalui kobaran api bersama dengan kita dan membawa kita keluar perlahan-lahan tanpa satu helai pun rambut yang terbakar.  Keadaan kita semua akan lebih baik, lebih murni, dan lebih manis sebagai orang-orang Kristen yang sudah melampaui panasnya api.  Ia dapat menempatkan atas kita banyak beban dan membuat kita memikul begitu banyak salib, tetapi Ia akan memberi sayap pada segala beban kita; sayap yang menerbangkan kita masuk dalam surga.  Ia akan memberi tangga pada masing-masing salib; tangga yang mengarah ke tahta Allah.  Marilah kita memohon akan hadiah yang baik ini supaya kita dapat menang atas segala godaan dan siap melakukan seluruh kehendak Allah yang sempurna.

Penggenapan Yesaya 61:1, 2 Dalam Hidup Tuhan Yesus
Sekarang marilah kita melihat satu adegan lagu dalam kehidupan Sang Juruselamat.  Marilah kita pergi, bukan ke padang gurun, tetapi ke sinagogedi Nazaret.  Sebagaimana tercatat dalam Lukas 4:18, 19 kita temukan Yesus sedang membaca Kitab Nabi Yesaya: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (TB LAI). Ia duduk dan berkata bahwa Alkitab telah digenapi.
Kepada Dia kata “digenapi” memiliki dua makna.  Nubuatan telah digenapi kepada umat manusia, yang kepada mereka Ia sedang memulai pelayanan mulia sebagaimana telah dinubuatkan.  Tetapi, nubuatan itu juga dipenuhi dengan cara lain yaitu digenapi kepada-Nya.  Nubuatan iti menggambarkan hamba Yehova yang memiliki Roh Tuhan pada diri-Nya, dan ada Tuhan Yesus yang sadar bahwa nubuatan merupakan fakta yang telah diselesaikan di dalam pengalaman hidup-Nya sendiri.  Ia diurapi untuk pelayanan-Nya membagi berkat bagi orang-orang miskin, terluka, terbelenggu, buta, tertindas, dan Roh Tuhan ada pada-Nya. Demikian yang terjadi selama masa kerja-Nya didunia ini, “Roh Tuhan ada pada-Ku.” 

Tidak pernah sesaat pun Kristus kehilangan penghiburan dari pada-Nya dan bahwa ; suatu penghiburan yang ada pada-Nya! Manusia tidak memahami akan dia, tetapi Roh tahu.  Manusia tidak mengasihi Dia, tetapi Roh sangat mengasihi Dia.  Banyak orang yang mengikuti Dia, tetapi akhirnya berpaling daripada-Nya-Roh Kudus tidak pernah melakukan hal itu.  Tidak heran Ia bicara tentang Roh Tuhan sebagai rangkuman dari semua hadiah yang baik dan merekomendasinya kepada para murid.  Kemudian pekerjaan Tuhan Yesus yang sudah dimulai dilanjutkan oleh para murid-Nya, dan untuk melakukan semua itu secara efektif mereka perlu Roh yang sama. ==============================================

 

 

KEMERDEKAAN UNTUK MENG-AKSES HADIRAT ALLAH
(Soerjan)

Kejadian 28:20-22
“Lalu bernazarlah  Yakub: "Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai,  sehingga aku selamat  kembali ke rumah ayahku,  maka TUHAN akan menjadi Allahku.  Dan batu yang kudirikan sebagai tugu  ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh  kepada-Mu."

 

Singkat cerita, Tuhan berkenan untuk memenuhi permintaan Yakub, YAKNI: Allah menyertai DIA, Allah melindungi dia di jalan yang ditempuh, Allah memberikan kepadanya roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, Allah memberi keselamatan kepadanya sehingga dapat  kembali ke rumah ayahnya

Tawar menawar dengan Allah ternyata dimungkinkan. Kitapun  bisa menyampaikan tawaran kepada Allah seperti yang Yakub sudah lakukan. Keterhubungan Yakub dengan Allah menunjukkan kenyataan bahwa  Allah begitu dekat dengan setiap orang. Allah memiliki kepribadian yang luwes (demokratis). Allah Bukanlah “Tukang Paksa” Bertangan Besi

 

Cukup mudah meng-akses hadirat Tuhan, semudah membuka mulut dengan memuji nama-Nya dan mengucap syukur kepadaNya.

Kita sebagai orang percaya justru sering tidak sabaran, panik, menyuramkan masadepan kita sendiri. Kita sering berangggapan bahwa masa depan ada di tangan kita sendiri. Kita sering tidak sadar bahwa “Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini,” (Kej 28:16).

 

 

Tanpa Roh Kudus, Kerja Kita Sia-Sia
Dan bagaimana dengan diri kita?  Betapa mulianya mereka yang dipanggil untuk pekerjaan yang sama pekerjaan yang telah dilakukan Tuhan kita maupun oleh para rasul sesudah Dia.  Karena pekerjaan yang harus kita lanjutkan adalah sama, maka kita pun butuh Roh yang sama.  Tanpa Roh Tuhan kita akan bekerja dalam kesia-siaan.  Ya, kita dapat berkhotbah kepada orang miskin, berusaha untuk memulihkan hati yang hancur, membebaskan jiwa-jiwa yang terbelenggu dan tersakiti,  tetapi jikalau tanpa Roh Tuhan atas kita mak akita akan menjadi pengkhotbah dan tabib yang buruk.  Tanpa Roh Tuhan setiap pelayanan adalah sia-sia dan tidak efektif.

Roh Kudus Sendiri Membuat Semua Pelayanan Kita Efektif
Tetapi dengan Roh Tuhan, semua pelayanan akan menjadi efektif, berharga, dan membawa berkat bagi kita maupun orang yang kita layani.  Marilah kita memohon dan mendapatkan hadiah bagus ini yang Yesus janjikan dan sungguh-sungguh akan diberikan-Nya, hadiah yang diberikan dengan kuasa, antusiasme, hikmat, kehangatan kasih yang menyentuh—pendeknya, dengan segala sesuatu yang akan membuat pelayanan kita bagi Kristus menjadi suatu berkat bagi manusia dan yang akan membuat para malaikat bersukacita.  Semoga kita semua memiliki hadiah yang Tuhan ingin berikan kepada kita yaitu Roh Kudus Allah.   (“Why Pray” sebuah Eksposisi Eksegetikal Lukas 11:5-13/ojw)   

================================================

Pdt. Wahyu Wahono A.K., M.Th

BERTEMPUR UNTUK MEMERDEKAKAN

Pdt. Wahyu

Pendahuluan

            Pemahaman Kristen yang benar adalah  sebagaimana dinyatakan dalam kesaksian Alkitab yaitu; Tuhan Yesus Kristus menderita kesedihan dan kesakitan jasmani karena Ia menawarkan diri-Nya kepada Bapa-Nya sebagai korban untuk membawa kita kembali kepada Allah.  Hal itu dimaksudkan untuk menebus kita dari dosa, ini berarti membebaskan kita dari suatu macam kedukaan karena suara-hati merasa terasing dari Allah, kesakitan karena kuman yang tidak mati dan api neraka menyala-nyala.  Kristus menderita untuk membawa kita kepada Allah, agar saat kita dibawah dekat Allah, kita berada di tempat dan waktu masing-masing dan juga mengalami penderitaan seperti Ia menderita.  Kristus menderita, bukan berarti kita ( umat tebusan-Nya) tidak perlu menderita.  Penderitaan Kristus dimaksud agar kita juga ikut menderita, tetapi dalam penderitaan itu kita boleh menderita dengan penuh kebijakan dengan menikmati harapan baru, dengan tujuan penebusan yang segar.

            Sebelum kita memperhatikan dan memahami secara benar tentang pertempuran yang maha dasyat yaitu; “Pertempuran Golgota”, hal yang juga perlu diperhatikan adalah pertempuran sebelumnya yaitu “Pertempuran Padang gurun”. Pertempuran ini dapat kita lihat kisahnya dalam Injil Matius 4 yaitu tentang Tuhan Yesus Kristus dicobai oleh Iblis. Kisah ini adalah babak awal pertempuran Tuhan Yesus yang tentunya untuk memerdekakan manusia dari dosa. Kisah ini menunjukan suatu pelajaran yang sangat penting dan berharga bagi kita, pengikut-pengikut Kristus

Senjata pertama yang Tuhan kita gunakan adalah Firman Allah
Kita mesti tahu bahwa Tuhan kita banyak kali menghadapi si jahat sepanjang hidup-Nya di dunia ini.  Yang paling terkenal di antaranya adalah peristiwa yang terjadi di padang gurun.  Dengan tiga macam pencobaan Setan mencoba membujuk Dia untuk bertindak lepas dari kehendak Bapa-Nya, sehingga berbuat dosa.  Satu hal yang harus kita pahami ialah bahwa dalam pertempuran ini Tuhan Yesus tidak menghadapi Setan atas dasar ke-ilahian-Nya, melainkan atas dasar ke-manusia-an-Nya.  Ia tidak menggunakan sumber daya atau senjata-senjata yang tidak tersedia dengan mudah bagi anak-anak Allah yang paling lemah.
Karena hal ini, maka penting bagi kita untuk mengetahui sumber daya dan senjata apa saja yang Ia gunakan supaya kita juga dapat menggunakannya dengan berhasil-guna.  Senjata pertama yang Tuhan kita gunakan adalah Firman Allah.  Ia melawan setiap cobaan yang dicatat dalam Injil, bukan dengan uraian penjelasan atau berdebat dengan si pencoba, tetapi mengutip dari Perjanjian Lama, di mana setiap ayat didahului dengan anak kalimat, “Ada tertulis.”
Jika kita mau menang menolak Setan dan kuasa-kuasa jahat, kita perlu mengetahui Firman Allah dan trampil mempergunakannya.  Kalau seseorang mencobai kita untuk menyimpangkan kita dari jalan yang benar, mengapa tidak mengutip ayat-ayat Alkitab yang berkaitan dengan jenis pencobaan mereka, ketimbang mencoba berdebat dengan mereka berdasarkan hikmat kita sendiri, atau menolaknya atas dasar kekuatan kita sendiri?  Mereka mungkin bahkan akan bertobat melalui ayat-ayat yang kita sampaikan kepada mereka.

Kita diperintahkan bukan hanya membaca dan mempelajari Firman Allah, tetapi juga menyimpannya di dalam hati kita melalui menghafalnya.  Kalau kita melakukan hal ini, kita memperkuat diri kita dengan “amunisi” yang akan sangat bermanfaat dalam menghadapi si jahat pada masa-masa kemudian.  Pemazmur mengatakan dalam Mazmur 119:11, “Dalam hatiku aku menyimpan janji_Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.”
Kedua, Tuhan kita menggunakan senjata doa. 

Kita tahu bahwa hidup-Nya diresapi dan dipenuhi dengan doa.  Kehidupan doa-Nya sangat terkemuka sehingga menimbulkan kesan yang dalam kepada murid-murid-Nya, yang mempunyai kesempatan untuk mengamatinya.  Ia bangun tidur pagi-pagi benar sehingga Ia bisa mempunyai banyak waktu untuk menyendiri bersama Bapa-Nya di dalam dia.  Ia berdoa sebelum membuat keputusan penting atau sebelum menghadapi peristiwa besar dalam hidup-Nya, dan Ia berdoa terus-menerus setiap kali Ia berada dan bergerak di antara banyak orang.  Ia selalu “menengadah ke atas” setiap kali melayani dan memenuhi kebutuhan orang banyak.  Ia mencurahkan sebagian besar pengajaran-Nya pada pokok seputar doa, terus menerus menguatkan dan menasihati mereka yang letih-lesu dan berbeban berat serta mereka yang memerlukan pertolongan untuk membawa permohonan mereka kepada Ia yang berjanji mendengar dan menjawab.  Salah satu gambaran favorit-Nya tentang Bapa, melalui pengajaran-Nya dan perumpamaan-Nya adalah Seseorang yang kesukaannya adalah menjawab doa, dan yang telah berikrar pada Diri-Nya Sendiri untuk melakukannya kalau kita memenuhi syarat-syarat-Nya.  Bahkan ketika berada di salib, ketika Ia berada dalam penderitaan yang sangat dalam, Ia mendoakan mereka yang bertanggungjawab memakukan Dia pada kayu salib itu.  Betapa doa sangat berarti bagi Dia!

Jika Anak Allah, yang sempurna dan tanpa dosa itu, dan yang mempunyai Roh Kudus tanpa batas, merasa perlu meluangkan banyak waktu menyendiri bersama Bapa-Nya, bukankah kita yang sangat lemah, penuh dosa, dan sangat menyadari ketidak-pentingan diri, jauh lebih membutuhkan banyak waktu untuk berdoa?

Saat-saat ketika kita dapati sukar untuk berdoa, dan saat-saat ketika kita dapati kita kurang menikmati dan menyukai doa, adalah saat-saat di mana kita benar-benar sangat membutuhkannya.  Namun sering kali kita menjadi patah semangat tatkala semuanya menjadi serba sukar, dan kehidupan doa kita menjadi mundur, ketimbang makin mempergiatnya.  Pada saat-saat pencobaan datang, tatkala kita diserang oleh si jahat, doa merupakan sumber kekuatan kita yang paling besar dan merupakan senjata kita yang paling ampuh.  Di sinilah kunci kemenangan atau kekalahan kita dalam memerangi si jahat.

Hal ketiga yang memampukan Tuhan kita menahan serangan gencar si jahat adalah penglihatan-Nya pada apa yang terbentang di balik penderitaan-Nya di kayu salib.  Ibrani 12:2: “... yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.”  Ia memandang ke depan dan melihat milyaran jiwa yang akan ditebus melalui penderitaan-Nya.  Ia melihat kemenangan akhir dari maksud-maksud Allah, dan pembentukan kerajaan-Nya di bumi ini.  Ia melihat, melampaui kehinaan dan derita kayu salib, kemuliaan kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya dan akhirnya penahbisan-Nya sebagai Raja atas segala raja dan Tuhan atas segala tuan di seluruh alam ciptaan Allah.

Ketiga adalah, penglihatan pada kemuliaanAllah.

Kita juga dapat dikuatkan melawan si jahat dengan memandang kemuliaan yang terletak di depan kita.  Atlit lari tahu persis bahwa dalam setiap perlombaan apa pun, menoleh sejenak ke belakang dapat berarti kekalahan.  Para pelari harus selalu melihat ke depan, dan bukan ke belakang.

Seorang anak petani belajar membajak ladang.  Ini merupakan pengalaman pertamanya membajak.  Ia sudah sering mengamati ayahnya membajak dan melihat bahwa alur bajakan ayahnya selalu benar-benar lurus.  Ia pikir mudah melakukannya, tetapi dengan menyesal ia dapati bahwa dia tidak dapat membajak alur bajakan yang lurus.  Ia selalu menoleh ke belakang lewat pundaknya ke alur bajakan berliku-liku yang berantakan, yang ia buat.  Akhirnya ia menyerah dan menemui ayahnya. .  “Ayah,” ujarnya, “Saya sudah sering mengamati ayah membajak, dan kelihatannya sangat gampang sehingga saya tidak dapat menunggu untuk mencobanya.  .  Saya sangat yakin saya dapat membajak seperti itu juga,

tetapi ternyata saya tidak dapat melakukannya.  Apa rahasianya ‘yah?”
“Nak,” kata si petani, “rahasianya adalah ini – jangan pernah menoleh ke belakang.  Kalau ayah membajak, ayah menetapkan sebuah titik tanda, bisa sebuah pohon, atau batu atau apa saja, kemudian membajak ke arah penanda tersebut.  Ayah tidak menguatirkan alur bajakan di belakang ayah, sebab ayah tahu bahwa jika ayah terus memandang pada tanda sasaran di depan ayah, dan membajak lurus ke arah sasaran itu, maka alur bajakan ayah akan lurus.  Tetapi engkau tidak boleh menoleh ke belakang.”
Demikian juga, kita harus menetapkan pandangan kita pada apa yang terbentang di depan kita, dan tidak menoleh ke belakang pada apa yang telah berada di belakang kita.  Arahkanlah penglihatan kita pada hari tatkala kita akan bertemu Allah dan berada selama-lamanya di hadirat-Nya.  Arahkanlah pandangan kita pada saat di mana kita akan menerima tubuh kemuliaan “yang seperti tubuh kemuliaan-Nya,” ketika tubuh yang penuh kelemahan dan menyedihkan serta letih-lesu ini, akan berlalu selama-lamanya.  Pandanglah ke masa depan dengan mata pengharapan hingga kita menangkap berkas cahaya dari gerbang keemasan Yerusalem Baru.  Bahkan kalau kita menghadapi kematian pun, sebab kematian justru adalah pelayan yang akan mengantarkan kita ke hadirat Allah, jika kita adalah milik-Nya.  Jadi, kematian justru menjadi keuntungan kita, bukan kerugian.

Kesimpulan

Sumber daya yang Tuhan kita pakai adalah Firman Allah, doa, dan penglihatan pada kemuliaan masa depan yang menantikan Dia.  Melalui ketiga sumber ini Ia menang melawan si jahat, dan melalui ketiga sumber tersebut. Kita pengikut-pengikut Tuhan Yesus Kristus yang ingin memperoleh kemenangan dan kemerdekaan atas pencobaan, sudah semestinya mengikuti jejak-Nya.

==============================================

Sering kita tidak mengimani dan mengamini apa yang sudah kita dengar dari-Nya. Hal ini menjauhkan kita dari hadirat Tuhan

Kita sendiri sering menjadi pencetus konflik / konfrontasi kita dengan orang lain. Kitalah perusak kedamaian itu.

Kita lupa bahwa Dia pernah menjadi penolong kita di masa lalu. Nantinya kita masih tetap membutuhkan dia.

Kita menjadi orang yang tertekan karena melupakan kemerdekaan yang Tuhan sudah berikan kepada kita yaitu kemerdekaan untuk mengakses hadirat-Nya, kuasa-Nya, dan pertolonganNya. Pengabaian kita menjadikan kita terpuruk. Kita terpuruk oleh karena ketinggihatian kita sendiri. Selama ini kita menjadi penonton mujizat yang terjadi atas orang lain tanpa mengalami sendiri. Itu bukan yang dikehendaki Tuhan. Yang Dia kehendaki adalah setiap orang mengalaminya. 

Kita bisa berada di situasi yang seolah-olah tidak mungkin menghadirkan Tuhan di sana. Kita terlalu berkecil hati untuk menciptakanlah situasi yang mendekatkan kita kepada hadirat Tuhan.

Kita sering berburu banyak hal tapi lupa untuk sekali saja memburu hadirat Tuhan. Kesibukan, kecemasan, ketidakpastian dan banyak hal lain telah menumpulkan kepekaan kita pada hadirat Tuhan. Kepekaan kita atas hadirat Tuhan sesungguhnya jauh melebihi kepekaan indera kita, entah indera ke berapa. “Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.” (2Kor. 3:17).

Kesempatan meng-akses hadirat Tuhan itu sudah diberikan dan masih ada. Ya, itu adalah kesempatan untuk mengakses kemerdekaan hati yang dibebaskan oleh rasa bersalah dan berbagai wujud ketertekanan. Itu adalah kemerdekaan itu menikmati kelegaan hidup. Hadirat Allah, disanalah kita mengarahkan perhatian kita kepada signal yang Dia pancarkan.

© Berita Hidup, Po Box 247 Solo 57102

amg                                                              Yayasan Berita Hidup