Building
home
fb icon
 

Spiros Zodhiates

KEMERDEKAAN UNTUK MENGUBAH SISA HIDUP

Spiros

Tidak ada seorang pun antara kita tahu apakah kita akan hidup sampai pada penghujung tahun atau tidak. Tidak diragukan lagi, masa depan kita tidak pasti dan ketidak-pastian masa depan itu merampas dari kita kesukacitaan masa kini.

Namun demikian, sesungguhnya persoalan masa depan ini tidak seluruhnya tidak kita ketahui. Allah, yang mahatahu, tahu masa depan. Dan karena kita, oleh sifat keterbatasan pengetahuan kita, kita sanggup memahami masa depan, maka Allah menyingkapkan sekilas kepada kita apa yang akan terjadi di kemudian hari. Karena diberitahu lebih dulu berarti siap, maka kita harus sungguh-sungguh arif mengindahkan wahyuNya tentang masa depan.
Pendapat apapun tentang masa depan yang diberikan oleh orang lain harus diragukan karena, bagaimana pun juga, orang-orang yang memberi pendapat itu adalah orang-orang biasa seperti kita juga. Hanya Allah yang mengetahui segala-galanya. Bagi Allah, sejarah bukan hanya masa lalu tetapi juga masa depan. Bagi Allah tidak ada bagian-bagian waktu, seperti masa lalu, masa kini atau masa depan. Manusia tidak dapat melarikan diri dari keterbatasan waktu yang mengelillinginya, sedangkan Allah tidak demikian.

Waktu Yesus Kristus turun kebumi ini, Ia datang untuk menyingkapkan kepada kita masa depan pribadi kita dan masa depan seluruh bumi.
Satu perkara dari sekian banyak perkara yang dapat kita pelajari dari Kristus ialah mengapa kita begitu menyedihkan. Nampaknya tidak ada satu orang pun diantara kita dapat melewatkan kehidupan ini dengan gembira tanpa pernah tersandung. Sebetulnya, terlalu sering kita terjerembab, dan terluka, terhina. Kepedihan kita bukan lantaran Yesus Kristus, tetapi lantaran pilihan yang dibuatkan untuk kita oleh bapak moyang kita, Adam. Melalui Adam, Allah mengizinkan menusia memilih, tetapi sekarang kita harus menuai akibat-akibat dari pilihan itu. Kendati umat manusia telah bersikap sebagai anak kecil yang tidak taat, namun Allah merasa kasihan kepada kita dan menyediakan sebuah jalan keluar dari kepedihan pilihan kita sendiri ini. Sungguh, didalam pribadi Yesus Kristus, Allah datang ke bumi ini untuk membuktikan kasihNya dan perhatianNya kepada kita.

Selama kedatanganNya yang pertama, Ia berkenan tinggal bersama umat dan berbicara dengan mereka. Ia berjalan-jalan diantara mereka dan makan bersama mereka; Ia menyembuhkan mereka dari sakit-penyakit dan membangkitkan mereka dari kematian,  dan kemudian Ia mati sebagaimana layaknya manusia. Kunjungan pertama ini sudah usai. Tinggal sejarah, tetapi itu merupakan sejarah penebusan. Tanpa kedatangan Yesus Kristus yang pertama, masa depan akan gelap dan tanpa harapan sama sekali.

Karena kedatangan Yesus Kristus pada kali pertama menggenapkan setiap nubuatan mengenai diriNya sendiri maka kita dapat bergantung pada kepastian kunjunganNya dimasa depan yang telah Ia katakan kepada kita.

Mari kita lihat sejenak apa yang akan terjadi pada kedatanganNya yang kedua kali kebumi. Pada kali pertama Allah datang kebumi ini dalam rupa manusia, Ia datang dalam daging dan kelemahan. Tetapi Ia akan datang untuk menjemput gerejaNya untuk tinggal bersama Dia.

Ada beberapa indikasi bahwa kedatanganNya untuk kali pertama tidak lama lagi. Sebagaimana kedatanganNya pada kali pertama membawa sukacita bagi beberapa orang( seperti para gembala) dan mengkhawatirkan orang lain ( seperti Herodes), demikian pula dengan kedatanganNya yang terakhir itu. Selama kunjunganNya yang pertama itu, Ia datang sebagai Anak Domba Allah yang dikorbankan untuk pengampunan dosa kita. Pada kunjunganNya yang terakhir ke bumi ini, Ia akan datang sebagai Singa dari Yehuda untuk melindungi umat kepunyaanNya, tetapi Ia juga akan datang untuk menghakimi bumi.

Waktu Ia datang pada kali pertama, Ia datang untuk menjadi Juruselamat, tetapi pada kedatanganNya yang terakhir, Ia akan datang untuk memberi pahala dan menghakimi umat manusia. Bagi mereka yang menantikan kedatanganNya yang kedua kali, peristiwa itu akan menjadi pengalaman yang menyukakan. Sedangkan bagi mereka yang tidak mengharapkan Dia, peristiwa itu akan menjadi kejutan yang menggoncangkan. Mereka yang menolak Yesus Kristus sekarang membanggakan ketidak-tergantungan mereka dan kebebasan mereka untuk melakukan apa saja yang menyenangkan mereka. Tapi, akan tiba saatnya, tatkala mereka akan menyesali pilihan mereka.

Kemerdekaan manusiawi akan digantikan dengan penyesalan dan dukacita karena tidak berserah kepada Kristus yang akan membuat masa depan menjadi suatu pengalaman penyatuan dengan Dia yang menyukakan, ketimbang sebagai pengalaman penghukuman paling akhir.

Supaya Yesus Kristus menjadi Juruselamat kita dan mengisi sisa hidup kita dengan damai sejahtera dan pengharapan yang menyukakan, kita harus membuat keputusan iman untuk menerima Dia sebagai Juruselamat dan Tuhan kita. Ia telah memutuskan kapan datang untuk kali pertama. Ia akan memutuskan kapan Ia menjemput saleh-salehNya, dan Ia akan memutuskan kapan Ia datang kembali bersama saleh-salehNya itu untuk menghakimi bumi. Kita tidak dapat berbuat apa-apa dengan penentuan waktu dari peristiwa-peristiwa ini.

Namun, kita dapat menentukan saat kedatanganNya kedalam hati kita untuk menjadi Juruselamat dan Tuhan kita. Ia akan datang dan Ia akan mengubah sisa hidup kita.

Ya,  kita tahu beberapa bagian masa depan, dan kita sebaiknya bijaksana menyiapkan diri untuk menyosongnya sebelum terlambat. Apakah anda siap? Apakah masa depan anda menjadi salah satu hal yang menakutkan dan mengerikan atau menjadi penantian yang menyuka-citakan?

Dari:  Trouble,  Trust,  and Triumph, oleh Spiros & Joan Zoadhiates.  AMG Publisher,  Chattanooga

Pdt. Wahyu Wahono A.K., M.Th

PANGGILAN UNTUK MEMERDEKAKAN

Pdt. Wahyu

 

 

“ Berfirmanlah Tuhan kepada Abram: “ Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu: Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar , dan memberkati engkau serta membuat namamu masyur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang  yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat,” Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya, (Kejadian 12: 1-4 a ).

Pendahuluan

Kisah Tuhan Allah memanggil Abram adalah sebagai bukti bahwa dalam penyelamatan secara personal dan komunal Dialah Sang Inisiator, artinya Dialah Tuhan yang selalu mengawali untuk kita dan bangsa-bangsa atau orang lain diselamatkan. Sehubungan dengan panggilan Abram yang mengarahkan kita sebagai tindakan iman. Ia adalah contoh yang terbaik dari iman yang hidup, dan dalam dia kita melihat tindakan yang nyata sebagai seorang yang beriman. Ia berharap kepada pimpinan Allah dan percaya pada janji-janji-Nya.
Panggilan Tuhan Allah kepada Abram bukan hanya untuk dimerdekakan, tetapi juga untuk memerdekakan. Ini berarti ada timbal balik dari panggilan yang diterimanya. Lebih lanjut panggilan itu bukan saja menyangkut negeri di bumi ini, tetapi juga negeri didepan yakni sorga. Ini adalah yang utama dari tujuan memerdekakan itu, tetapi panggilan itu juga meliputi kemerdekaan secara jasmani. Karena tujuan dari memerdekakan itu meliputi kemerdekaan secara rohani dan juga jasmani.
Allah yang bersabda untuk “membuat” dan “ menjadikan” kita merdeka dan memerdekakan baik secara rohani dan jasmani. Kata diberkati dan memberkati menunjuk pada berkat secara rohani dan jasmani.  Sekalipun demikian visi utama bukan perkara-perkara dibumi ini, tetapi di sorga. Makna lebih dalam dari panggilan Abram dan juga bagi kita orang percaya masa kini dan yang akan datang adalah;

Panggilan untuk memerdekakan didasarkan perjumpaan dengan “Sang Proklamator”

Dalam peristiwa panggilan Abram terlihat adanya kehadiran dan penugasan yang jelas dari “Sang Proklamator”, yakni Tuhan. Kehadiran-Nya diindentifikasikan sebagai bukti adanya perjumpaan pribadi utusan yakni Abram.
Perjumpaan pribadi dalam konteks Abram adalah pada Tuhan  yakni Allah Semesta alam. Peristiwa ini menjadi suatu manifestasi tampak objektif dari Allah dalam bentuk  manusia.  Dan “penampilan” Tuhan secara kelihatan disebut “theofani” yaitu manifestasi Allah.

Perjumpaan pribadi yaitu dalam wujud-Nya dan perkataan-Nya merupakan pengalaman yang terjadi pada Abram. Ini bukan pengamalan melihat dan mendengar yang hanya berhenti pada dirinya, tetapi lebih jauh untuk terlaksananya dari maksud atau “Rencana Agung”. Oleh karena itu mendengar atau menerima haruslah dibarengi dengan melaksanakan. Itulah maksud Tuhan Allah bagi Abram.
Melalui peristiwa perjumpaan pribadi yang di dalamnya tertangkap jelas panggilan untuk menerima berkat dan menjadi saluran berkat. Panggilan untuk merdeka dan memerdekakan, dengan mendengar perkataan-Nya, “ Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu…”. 

Di dalam Ulangan 28:1-2 dijelaskan bahwa jika kita mendengar dan melakukan apa yang Tuhan ucapkan, maka Tuhan akan mengangkat hidup kita. Kalau Tuhan yang mengangkat, berkat pasti akan mengikuti. Jadi mendengar (listen) dan melakukan (do) adalah kunci agar hidup diberkati.
Menjadi orang yang diberkati bukanlah menjadi orang yang sempurna dan hebat, tetapi orang-orang sederhana yang mendengar suara Tuhan dan melakukannya dalam kehidupannya. Orang-orang yang sederhana selalu melakukan segala sesuatu dengan iman. Karena Iman membuat kita berani mengambil keputusan yang beresiko dalam kehidupan kita. Tetapi iman juga membuat kita tidak harus menanggung resikonya, karena iman tersebut membuat kita cakap menanggung segala perkara.

Panggilan untuk memerdekakan sebagai bukti kewajiban

Perjanjian Tuhan Allah dengan Abraham dimulai dengan firman yang datang kepadanya, Perjanjian itu merupakan perjanjian antara Raja Agung dengan “raja taklukan”. Dalam perjanjian itu terkandung juga jaminan-jaminan yang begitu jelas yaitu, Ia akan menjadikan dirinya bangsa yang besar, Ia akan memberkati serta membuat namanya masyhur serta memberi janji penyertaan dan perlindungan penuh.

Panggilan Abram ini juga sejalan dengan Amanat Agung yang diterima setiap orang yang percaya pada Tuhan Yesus Kristus.  Sebagaimana panggilan Abraham bersifat mengikat yaitu kewajiban untuk melaksanakan, demikian  juga orang yang percaya kepada Tuhan Yesus juga terikat pada kewajiban oleh Amanat Agung  yang terimanya dengan jelas terbaca dan terdengar yaitu: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus….Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Matius 28:19-20) ... Selanjutnya

© Berita Hidup, Po Box 247 Solo 57102

amg                                                              Yayasan Berita Hidup