amg
home
fb icon

Ahok: SKB 2 Menteri Harus Dicabut

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan bahwa Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2006 dan Nomor 8 Tahun 2006 harus dihapus. Menurutnya surat itu sering dipakai segelintir kelompok untuk melakukan tindak intoleransi.

Gubernur yang akrab disapa Ahok ini menyatakan hal itu terkait dengan masalah perizinan GKPI di Jatinegara yang terkendala izin lingkungan sekitar. Seperti diketahui, salah satu aturan utama di SKB 2 Menteri tersebut menuliskan bahwa pembangunan rumah ibadah harus mendapat persetujuan dari warga setempat.

"Kalau kasus ini, (GKPI Jatinegara) memang kita harus akui negara ini ada masalah. Bagaimana bisa SKB dua menteri mengalahkan UUD 1945 ? Saya enggak tahu ya, prinsipnya harus dicabut ini (SKB dua menteri). Karena itu yang suka dipakai oleh sekelompok kecil orang yang intoleransi. Bagaimana bisa rumah ibadah mendapatkan izin dari mayoritas?" ujar Ahok di Balai Kota DKI, Jumat (24/7/2015).

Ahok menambahkan bahwa terdapat rumah ibadah lainnya di Jakarta juga tidak berizin. Namun karena faktor persetujuan warga yang mayoritas maka rumah ibadah itu dapat berdiri. "Sekarang yang jadi masalah di Jatinegara. Itu gereja sudah 30 tahun memang tidak ada izin. Ya, sama kok, banyak sekali masjid tidak ada izinnya kok. Banyak wihara, klenteng juga enggak punya izin. Kamu bisa temukan ratusan masjid yang tidak punya IMB," ujar Basuki

Untuk itu Ahok meminta agar SKB dua menteri dihapuskan terlebih dahulu. Karena menurutnya jika tidak kejadian seperti gereja di Jatinegara yang tidak dapat dibangun karena tidak mendapat persetujuan warga akan kembali terulang.

Sumber : kompas
http://www.jawaban.com/read/article/id/2015/07/24/90/150724165526/Ahok%3A-SKB-2-Menteri-Harus-Dicabut


-     Tanpa kita sadari bahwa dunia membutuhkan keterlibatan kita dalam permasalahan mereka. Mereka mengganggap kita sebagai orang-orang yang dibutuhkan Tuhan dan sangat terlindungi olehNya. Mereka juga ingin mengalami hal yang sama dengan yang kita alami. Mengapa kita tidak menunjukkan kepada mereka siapa Allah kita?

1:7
 “Lalu berkatalah mereka satu sama lain: "Marilah kita buang undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini."Mereka membuang undi dan Yunuslah yang kena undi.” (1:7)

- Karena ketidakwaspadaan hati, kita diijinkan oleh Tuhan “kena undi”, menjadi biang masalah di lingkungan kita. Pengalaman itu mempermalukan kita dan tidak memuliakan namaNya. Tuhanpun prihatin atas hal itu. Namun Dia tidak berhenti di sana. Dia bukanlah Allah yang jemu untuk mendatangkan kebaikan di tengah ketidakbaikan kita.

1:8-9
 “8  Berkatalah mereka kepadanya: "Beritahukan kepada kami, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini. Apa pekerjaanmu dan dari mana engkau datang, apa negerimu dan dari bangsa manakah engkau?"  9  Sahutnya kepada mereka: "Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan." (1:8-9)

-  Yang Yunus takutkan adalah Tuhan yang empunya langit dan lautan serta daratan, bukannya laut yang sedang mengamuk atau kapal yang akan karam.  Yang harus kita takutkan bukanlah permasalahan melainkan sejauh mana atau masihkan kita berada di jangkauanNya.

1:10
“10. Orang-orang itu menjadi sangat takut, lalu berkata kepadanya: "Apa yang telah kauperbuat?" --sebab orang-orang itu mengetahui, bahwa ia melarikan diri, jauh dari hadapan TUHAN. Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka.” (1:10)

-  Pengakuan Yunus menimbulkan ketakutan. Mereka takut kena dampak dari ulah Yunus. Kekristenan sering menakutkan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Seringkali kebencian kepada Kekristenan bukanlah karena mereka membenci Tuhan kita, melainkan karena karena ulah atau kesaksian kita yang tidak mengindahkan Tuhan.

1:11-13
“11  Bertanyalah mereka: "Akan kami apakan engkau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi, sebab laut semakin bergelora." 12  Sahutnya kepada mereka: "Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu." 13  Lalu berdayunglah orang-orang itu dengan sekuat tenaga untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora menyerang mereka.” (1:11-13)

-  Urusan Tuhan dengan awak kapal dan Yunus belum berakhir sebelum Yunus beralih ke tempat yang semestinya, yang Dia kehendaki. Tak ada “perubahan nasib” bagi setiap orang sebelum segala sesuatu termasuk kita berada di tempat semestinya yang Dia kehendaki yakni di jalan yang Dia tunjukkan.

1:14-17
“14  Lalu berserulah mereka kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, TUHAN, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki. 15  Kemudian mereka mengangkat Yunus, lalu mencampakkannya ke dalam laut, dan laut berhenti mengamuk. 16  Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada TUHAN, lalu mempersembahkan korban sembelihan bagi TUHAN serta mengikrarkan nazar. 17  Maka atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya. (1:14-17)

- Klimaks dari kisah ini adalah Yunus dicampakkan ke dalam laut dan sebagai anti klimaks adalah laut berhenti mengamuk. Pencampakan Yunus ke dalam laut menyakitkan bagi semua orang di kapal itu termasuk bagi Yunus. Namun hal itu tidak hanya meredakan badai besar tetapi juga meredakan amarah Tuhan. Ya, apapun akan Tuhan lakukan untuk mengembalikan anakNya untuk kembali melakukan tugas panggilanNya. Tidak mustahil bahwa sedemikian besar hasrat Tuhan untuk menghargai kita bukan?
-  Peristiwa Yunus di kapal akan berlanjut ke peristiwa di perut ikan dan selanjutnya berakhir dengan pengalamannya di Niniwe. Semua peristiwa dan pengalaman hidup bisa kita alami. Yang penting adalah kita mengalaminya bersama Tuhan yang selalu berkehendak menemui kita.

 

APAPUN AKAN TUHAN LAKUKAN UNTUK MENGEMBALIKAN ANAK-ANAKNYA PADA PANGGILANNYA
(Yunus 1:1-17)

Kisah Yunus adalah kisah tentang anak manis yang berubah menjadi orang yang berbahaya. Yunus yang dikasihi Allah dan dipercayai untuk melakukan perintahNya malah berdoa dan berharap supaya bangsa Niniwe ditunggangbalikkan saja. Seandainya Tuhan menjawab sesuai harapan Yunus maka hanguslah lebih dari seratus duapuluh ribu orang. Berbalik kembali menjadi anak manis seolah-olah adalah kemustahilan karena konsekuensi dari ketidakpatuhan sudah menghadang. Namun bersukur bahwa Allah yang kita miliki selama ini adalah Allah yang tak pernah jemu mengusahakan kebaikan bagi anak-anakNya.

1:2
“1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian: 2  "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku." (1:-2)

-     Yang sampai ke telinga Tuhan, tidak hanya hal yang baik dalam kehidupan kita, tetapi juga yang sebaliknya, mendukakan Tuhan, membuat Tuhan murka

1:3
 “Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.” (1:3)

-     Yunus adalah satu-satunya nabi yang pernah melarikan diri dari panggilan Tuhan.  Dia menjauh dari Tuhan sebagai pelampiasan atas kekesalannya kepada Tuhan yang seolah-olah lebih mengasihi bangsa yang justru tidak mengenal Tuhan. Kekesalan kepada Tuhan sering menjauhkan kita dari hadapan Tuhan. Berapapun harga yang yang harus kita bayar sering kita merasa bahwa kekesalan itu harus terlampiaskan

1:4
 “Dalam perjalanan ke Tarsis TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur”. (Yunus 1:4)

-     Angin ribut bahkan badai besar adalah perkara kecil untuk Tuhan datangkan karena perkara besar yang merepotkan bagi Tuhan adalah mencari dan menemukan kembali para hambaNya untuk kembali padaNya demi melaksanakan panggilan yang dipercayakan kepada mereka. Masihkah kita bersedia untuk Dia temui?

1:5
“Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak.” (1:5)

-     Di luar sana masih banyak orang ketakutan yang berteriak-teriak kepada yang mereka anggap sebagai allah mereka. Bersyukur jika kita memiliki kepercayaan seperti Yunus bahwa Allah-lah yang mencari kita.

1:6
“Datanglah nakhoda mendapatkannya sambil berkata: "Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa." (1:6)

 
                                                                  
Yayasan Berita Hidup