Building
home
fb icon
 

Spiros Zodhiates

DATANG DENGAN KEKUATAN BESAR UNTUK MEMPERTAHANKAN MILIKNYA

Spiros

 

Ahli-ahli agama pada masa Yesus yakin semua penyakit adalah akibat dari dosa, dan oleh karena itu adalah pekerjaan Setan.  Kita harus sangat berhati-hati terhadap penggunaan doktrin semacam itu.  Ada orang pada masa sekarang berpegang pada gagasan agamis purba ini: anda sakit, maka pasti karena dosa pribadi anda.
 
Jawaban negatif pertama: Tidak semua penyakit disebabkan oleh dosa pribadi.

Tetapi Yesus menentang gagasan ini di dalam Yohanes 9:2-3 yang merujuk kepada seorang lelaki yang buta yang Ia kemudian mulai sembuhkan.  “Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta? "Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.“

Anda ingat, segera setelah para murid melihat Dia keluar dari Bait, mereka bertanya, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri, atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Dan jawaban Tuhan adalah, “Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.”

     Sebagaimana dikatakan kepada kita, gagasan yang berlaku pada waktu itu ialah bahwa sakit-penyakit adalah akibat langsug dari dosa.  Memang, sakit-penyakit masuk kedalam dunia ini pertama kali karena dosa Alam.  Tetapi semua penyakit berikutnya tidak mesti disebabkan oleh dosa pribadi.  Setiap saat seseorang bisa menjadi sakit, tapi tidak berarti bahwa ia berbuat dosa.

Jawaban negatif kedua: “Jika Aku bekerja di dalam perserikatan dengan Setan Aku tidak akan menghancurkan pekerjaan jahatnya

     Di dalam Lukas 11:17-22 Tuhan menjawab oposisi lawan-lawanNya.  Ia berkata bahwa jika Ia melakukaNya di dalam perserikatan dengan Setan, Ia tidak akan meruntuhkan pekerjaan Setan. 

“ Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.  Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya.”

Mengapa harus saya mengganggu dan merusakkan hasil dari pekerjaannya membuat orang sakit dengan cara menyembuhkan orang yang sakit itu?  Tentunya kalau saya bekerja bersama Setan, saya pasti tidak mau menghancurkan pekerjaan Setan. 

     Suatu prinsip, entah ia dipegang oleh suatu masyarakat atau oleh pribadi, tidak bisa memelihara di dalam dirinya suatu pembelahan.  Sindiran “sebuah rumah yang terpecah melawan dirinya sendiri” akan menghancurkan keluarga, tentu saja. Permusuhan kesukuan membuat mustahil bagi keluarga apa saja untuk terus eksis kecuali kalau mereka hidup dalam kesatuan.  Jika seorang saudara atau sepupu atau sanak jauh disalahi atau dibunuh, menjadi kewajiban dari setiap anggota keluarga untuk menuntut bela atau membalas dendam buat sanaknya, bukan hanya atas orang yang betul-betul bersalah tetapi juga atas sembarang sanak dari yang bersalah itu.  Kasus ini merupakan bukti yang jelas betapa sangat pentingnya kesatuan keluarga demi penegakan eksistensinya. 
    
Tetapi, perlukah kita pergi ke dunia Timur pada masa Kristus untuk belajar betapa bernilainya kesatuan di dalam keluarga itu?  Seseorang yang menolak kesatuan keluarga menolak salah satu yang sangat berharga di dalam hidup.  Prinsip kesatuan, yang kemudian Tuhan Yesus kemukakan, merupakan esensi dari eksistensi, dan kecuali kalau kejahatan mempunyai beberapa prinsip kesatuan, ia akan hancur.

Jawaban ketiga dan positif: “Jika Aku menghancurkan pekerjaan Setan, Aku musti lebih kuat dari dia.”

     Faktor ketiga dalam perumpamaan itu positif.  “Jika kedua dalil terdahulu benar,” kata Tuhan kita sebenarnya, “ dan Aku tidak bekerja di dalam perserikatan dengan Setan, Aku harus bekerja melawan dia, menghancurkan pekerjaannya, Aku harus lebih kuat dari dia, sebab tidak seorangpun dapat menghancurkan milik orang lain kecuali kalau ia lebih kuat dari orang yang akan dihancurkan.  Setiap orang akan dijagai mengadakan suatu perkelahian untuk mempertahankan milik-miliknya dan hanya akan membiarkan milik-miliknya itu diambil jika ia tidak dapat lagi mempertahankan dirinya sendiri.”

     Ini merupakan perumpamaan yang Tuhan Yesus berikan sesudah itu didalam Lukas 11:22 dan 23 tentang sebuah tempat yang dikawal. “Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan."

Pengawal dari tempat yang berdosa adalah seseorang yang mengalahkan Setan, dan orang itu adalah Tuhan.  Apa yang Yesus katakan ialah “Tida.k, Aku tidak berserikat dengan Setan dalam melakukan mujizat ini; Aku mengalahkan Setan; Aku mengusir Setan keluar dari hati manusia; Aku membebaskan umat manusia dari kuasa Setan.” Dan justru itulah yang Tuhan Yesus Kristus perbuat, terpujilah namaNya!

     Kalau yang berkuasa dan ahli-ahli Taurat yang diutus untuk mendiskreditkan Dia ingin mencari kebenaran, mereka mempunyai banyak kesempatan.  Tetapi kenyataannya ialah bahwa mereka tidak mau mencari.  Mereka telah ditetapkan untuk menentang Dia, datang menguji kekuatan.  Meskipun mereka dengan sengaja memfitnah, Tuhan Yesus meneruskan dengan caraNya yang penuh kasih dari sabar untuk memperingatkan mereka akan akibat-akibat dari kebutaan yang mereka timpakan kepada diri mereka sendiri. 

     Kesimpulan dari perumpamaan yang ditamabahkan di dalam bagian dari Injil Yohanes, pasal 9 ini, merupakan suatu peringatan penting bagi para pemimpin agama terhadap berlanjutnya kampanye jahat yang penuh dusta mengenai Yesus (Lihat Yohanes 9:39-41).  Ayat-ayat penutup di Matius 12:31,32 dan Markus 3:28-30 mengajar kita suatu pelajaran tambahan bahwa kita harus meluangkan waktu untuk berhati-hati.

“Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.” (Matius 12:31-32)

“ku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal."  Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat. (Markus 3:28-30)

Hujat terhadap Roh Kudus adalah dosa yang tak terampuni.

      Catatan Matius terutama, sangat penting berkaitan dengan soal ini.  Tuhan tidak mengharap bebas dari kritik.  Kitapun diharap bersikap demikian, tetapi harus siap menjawab setiap kritik yang dilontarkan kepada kita.  Dia sendiri kuatir kritik yang dikatakan, dikerjakan, atau dihidupi tidak dapat menahan ujian kebenaran.  Tuhan tidak kuatir terhadap kritik karena hidupNya merupakan suatu contoh kebenaran yang cemerlang.  Adalah mungkin bagi Kristus untuk menjadi bebas dari kritik seperti itu, bahkan meskipun salah, dapat diampuni.  Tetapi para ahli
Taurat itu tidak tulus, dan ketidaktulusan ini digambarkan oleh Tuhan Yesus sebagai hujat Roh Kudus. 

     Kita takan melanjutkan hal ini dengan sangat hati-hati jika kita sampai pada topik ini kemudian.  Tetapi sekedar sebagai teguran permulaan, sepanjang perumpamaan itu utarakan, tidak ada didalamnya memberi kesan bahwa Roh Kudus pernah disebutkan, dan bahkan seperti yang Ia sebutkan, tidak diragukan lagi bahwa para pendengar dapat memahami Dia sebagaimana kita juga.  Orang-orang ini sama sekali tidak menghujat Dia.  Sebenarnya, sangat sulit mengatakan apakah kata “hujat terhadap Roh” akan sampai kepada pikiran para ahli Taurat.  Jika kita seorang Yahudi membaca Perjanjian Baru untuk kali pertama, kata “Roh Kudus” tidak akan menyampaikan makna tertentu.  Saya akan tahu kata itu dalam Mazmur 51:1, tetapi saya akan memahaminya sebagai roh kesucian Allah, seperti Sion adalah gunung kekudusanNya.  Roh Allah di dalam pikiran orang Yahudi adalah salah satu atribut Allah, seperti halnya atribut-atribut kasih, belas kasihan, rahmat.  Namun, roh ini dianggap sebagai atribut khusus dengan mana para nabi menerima pesan-pesan untuk mereka dan cahaya surgawi yang menerangi pikiran manusia.  Berdosa terhadapnya adalah berdosa terhadap cahaya pikiran yang telah Allah berikan kepada mahluk ciptaan.

Tidak ada orang yang begitu buta seperti mereka yang mau melihat.

     Kata-kata penutup Yohanes 9:41, “Jawab Yesus kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu,” merupakan komentar yang paling baik dalam bagian ini.  Dan di dalam catatan Matius yang pararel, seperti yang terdapat juga dalam Markus 3:28-30 ada peringatan berhubungan dengan hujat terhadap Roh Kudus.  Beberapa orang menjadi bingung dan bertanya, “Apa itu hujat terhadap Roh Kudus?” Baiklah, jika anda meneliti catatan itu, anda akan melihat bahwa mereka yang menentang Yesus Kristus sebenarnya tidak mengatakan sesuatu pun mengenai Roh Kudus.  Tetapi hujat terhadap Roh Kudus secara sederhana adalah menolak untuk percaya.  Sungguh me-nyedihkan untuk memikirkan orang yang menempatkan diri mereka sendiri di belakang pengampunan Allah, dan itulah yang dilakukan oleh para ahli Taurat dan orang-orang Parisi ini pada masa Kristus.  Marilah kita sungguh jelas dengan persoalan ini : membebankan diri sendiri dengan kebutaan (rohani) mendatangkan suatu keadaan di mana pengampunan menjadi mustahil.  Itu bukan bahwa Allah berhenti mengampuni, tetapi seseorang yang tidak mau melihat menghalangi cahaya Allah, yang merupakan hal yang esensial untuk menerima pengampunan Allah.  Dan karena itu meninggalkan jalan yang melaluinya pemahaman akan pengampunan mungkin mencapai dia atau cahaya kasihNya menerangi dia.
Pikirkanlah itu

1.  Apa perkataan Yesus yang membuktikan bahwa tidak semua penyakit adalah akibat dari dosa  pribadi?  ( Lihat Yohanes 9:2,3).
 2  Apa penerapan pribadi dari ujar-ujar yang Tuhan kita buat, “Sebuah rumah yang terpecah belah tidak dapat berdiri teguh”?
3.   yang Tuhan kita sebut sebagai 
      dosa yang tak terampun?
4.   Bagaimana seseorang melakukan
      dosa ini?

Pdt. Wahyu Wahono A.K., M.Th

MENATAP DAN MELANGKAH KE ARAH TUJUAN YANG DIKEHENDAKI TUHAN

Pdt. Wahyu

 

“Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu berkata kepada mereka: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai anak Manusia akan digenapi” (Lukas 18:31 TB LAI)

Sudah seharusnya hidup memiliki tujuan. Jika hidup tidak ada tujuan maka tidak akan ada gairah hidup. Tiap-tiap orang sudah seharusnya mengisi hidup dengan tujuan-tujuan yang memastikan bahwa itu akan dicapainya. Akhir dari setiap kehidupan Kristen yang hakiki adalah mencapai Yerusalem. Orang Kristen tidak dapat sungguh-sungguh dianggap tiba di kota suci itu, tempat segala pekerjaan manusia bermula dan berakhir, sampai ia mampu mulai untuk melukiskan makna kehidupan itu sendiri dan mulai mengetahui serta memiliki panggilan hidup. jika kita tidak merasakan adanya sebuah masa depan yang terbentang di hadapan kita, maka kita sama sekali tidak hidup secara lengkap di masa sekarang.

Setiap Kehidupan Kristen Memiliki Yerusalem
Setiap kehidupan Kristen sejati adalah mengarah kepada Yerusalem. Mungkin untuk pertama kota itu terasa jauh dan hanya nampak samar-samar, tetapi bertahanlah dalam tujuan dan keinginan Anda untuk mencapainya. Setapak demi setapak anda akan di bawa ke dalam kuasanya, keinginan untuk mempelajarinya, pikiran-pikiran yang terarah, pengubahan hubungan anda dengan orang lain, dan akhirnya menentukan siapakah diri kita dan yang akan anda lakukan. Demikianlah juga yang dialami Yesus. banyak orang Yerusalem, kota-Nya yang kudus, mengayun-ayunkan tangan memanggil Dia dari tempat mereka berdiri. Satu orang Yerusalem adalah tanggung jawab-Nya. Orang-orang Yerusalem adalah harta milik-Nya, keyakinan-Nya, karakter-Nya,gambaran tentang masyarakat yang murni dan kehidupan manusia yang mulia. Cobalah Anda menghentikan murid-murid Yesus Kristus.

 

yang mengiring Dia pada saat itu, para dermawan, para pendoa yang Anda temui dalam seluruh Alkitab dan bertanya kepada masing-masing mereka, “Apa arti semua ini? Apa yang sedang Anda lakukan? Apa manfaat semua ini?” Jawaban yang ditemukan di setiap tempat adalah sama: “Sekarang kita sedang pergi ke Yerusalem.” Bila kita sejenak melihat kebelakang, maka disetiap tempat kita akan melihat gambaran yang sama. Manusia yang tidak sedang melangkah ke Yerusalem adalah hantu dan mayat. Mereka ini tidak memiliki kesejatian dan kesempurnaan hidup manusia.

Kehidupan Kristen Adalah Teladan Sempurna
Tidak pernah ada suatu teladan yang begitu sempurna seperti yang ditunjukkan oleh Yesus. Pikirkanlah tentang kehidupan-Nya yang indah dan berkemenangan, yang selalu Ia tunjukkan sejak awal hingga akhir kehidupan-Nya di dunia ini. kecenderungan itu bermula pada waktu kelahiran-Nya dan tak berakhir hingga Ia tergantung di kayu salib. Kemudian Ia datang ke Yerusalem dan mengakhiri segala tugas-Nya. Para malaikat bernyanyi tentang Yerusalem ketika para gembala mendengarnya.
Pikiran Anak laki-laki itu hanya dipenuhi dengan Yerusalem ketika Ia bekerja di bengkel pertukangan. Kunjungan ke bait Allah pada usia 12 tahun adalah suatu pandangan sekejap yang terdekat tentang Kota Suci ini. meskipun kaki-Nya telah menginjak jalan-jalan di kota itu, tetapi Ia hanya menerimanya sebagai hal yang sepantas dalam kehidupan Dia. Ia telah mengalami pembaptisan selama perjalanan menuju Yerusalem. “Karena alasan itulah aku lahir, Aku datang ke dalam dunia. Waktu-Ku belum tiba.” Kata-kata yang diucapkan-Nya ini seperti jejak-jejak kaki yang mengarah kepada satu titik yaitu Yerusalem. Akhir kedatangan-Nya dalam peristiwa jumat Agung. Ia telah mencapai Yerusalem.
Tujuan terhebat dan terus diperjuangkan-Nya adalah supaya dunia melihat bahwa Ia telah mencapai penyelesaian yang sempurna.

Hidup Mengarah Kepada Yerusalem
Dengan menempatkan Kristus sebagai gambaran dan pola utama dari segala sesuatu, marilah kita bicara tentang Yerusalem dari setiap jiwa, yaitu kecenderungan utama bagi setiap jiwa untuk tiba pada tujuan yang telah ditentukan sebagai hasil pertumbuhan keyakinannya.
Pertama, kita tidak dapat berkata bahwa tujuan yang telah ditentukan bagi setiap orang akan dipengaruhi oleh sifatnya yang berkembang karena lingkungan.
Temukan akibat dari perkembangan itu dan tentu saja Anda dapat berkata bahwa manusia akan mencapainya. Kedua pola ini nampak kabur. Oleh karena itu Anda tidak dapat membaca sifat manusia secara sempurna, juga tidak berkata tentang apa yang akan terjadi. Akhir hidup masing-masing orang tidaklah jelas seluruhnya. Baik bagi kita untuk mengetahui kedua unsur tersebut sehingga dapat masuk ke dalam keputusan hidup manusia, dan keduanya haruslah dihapuskan.
Cobalah anda mengabaikan sifat seorang manusia dan berpikir bahwa kondisi-kondisi yang membentuk dia adalah satu-satunya pengendali tujuannya, maka anda telah menjadi seorang yang percaya pada takdir. Sebaliknya jika Anda mengabaikan kondisi-kondisi yang mempengaruhi kehidupan seseorang dan hanya berpikir tentang sifat-sifat yang ada, maka Anda telah menetapkan sebuah hadiah dengan sengaja. Pada waktu yang bersamaan manusia mengeluh bahwa kondisi yang tidak mereka perhitungkan tengah menghalangi mereka untuk menjadi apa yang sesuai dengan sifat-sifat mereka!
Demikianlah hubungan kondisi dan manusia dimana keduanya saling mengisi sehingga menciptakan sebuah kehidupan. Kondisi-kondisi tersebut adalah adalah batu bata dan semen, sedang sifat adalah seperti desain atau pola dari seorang arsitek… Keduanya sedang dibangun.
Dia yang akan mengenal Yerusalemnya harus mengetahui kedua unsur tersebut; sifat dan kondisi-kondisi luar. Ia harus mengenal dirinya sendiri dan kondisi yang ada disekelilingnya.
Siapakah mereka yang mampu melakukan hal ini
dengan sempurna dan yang telah mengerjakannya dengan baik selama hidupnya? Siapakah yang telah meninggalkan hidupnya sebagai monumen peringatan bagi inspirasi seluruh umat manusia? Mereka adalah manusia yang pada satu saat mengenal dirinya sendiri dan mengetahui kondisi-kondisi luar yang mengarah pada dirinya. Manusia sejati yakin akan kepribadiannya, yakin akan kekhususan dan perbedaan dirinya dari orang lain, yakni bahwa tidak pernah ada manusia yang sama sejak dunia dijadikan. Mereka adalah orang yang dihadapannya muncul sebuah mimpi yang bersatu dalam sebuah harapan dan kemudian menjadi padat dalam suatu hasil pemenuhan yang baik (prestasi).
Hal itu merupakan karya yang hanya mereka saja yang dapat melakukannya oleh karena kekhususan dan keunikan yang dimiliki. Karya yang tidak dapat orang lain perbuat dalam situasi apapun. Columbus dapat menemukan benua Amerika karena ia adalah Columbus, dan karena ia telah mempelajari geografi dan memiliki keberanian manusia untuk mencapai titik utama dalam hidupnya. Marthen Luther berhasil mengobarkan semangat roformasi sebab ia adalah Luther. Dan karena kertas kayu kepausan yang menyadarkan akan hak-hak yang menggelorakan jiwa kekristenan. Oleh anugerah Allah, Anda dan saya menjadi orang yang terjamin dan memiliki hati yang benar, memahami beberapa tujuan hidup dan menjadikannya nyata di hadapan kita. Ini adalah tempat bagi setiap orang muda menyadari siapa dirinya dan tempat dimana ia berada.

Hidup Mencapai Tujuannya Didalam Kristus
“Bagaimana saya dapat menyadari diri saya dan keadaan yang melingkupi saya?” Saya harap membuat Anda melihatnya sejelas yang saya tahu. Jawabnya adalah bahwa Anda menyadari keduanya di dalam Tuhan. Maka Yerusalem bercahaya melalui atmosfirnya kepada kita. Sekarang Allah adalah atmosfir dimana “Kita hidup, kita bergerak, dan kita ada.”Ia membuat karakter kita dan menciptakan keadaan yang melingkupi kita. Tangan-Nya membentuk keduanya secara bersamaan dan membuat mereka bekerja secara jelas mendekati tujuan hidup kita, menjadikan keduanya sehingga kita dapat ada dan berbuah.Anda diatur oleh kekuatan-kekuatan tertentu dalam diri sendiri dan kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam kelompok..
Akankah hal tersebut tidak akan membuat keduanya semakin lebih jelas jika disamping dua hal itu anda meletakkan pikiran dan kenyataan tentang Allah?
Biarkan kerendahan hati Anda menciptakan kebahagiaan selama Anda mendaki ke Yerusalem seperti yang Allah tetapkan bagi Anda.
Semua ini digambarkan dalam kehidupan-Nya, tentang siapa Ayah ini berbicara. Ia menyebut diri-Nya, “Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia.” Apakah artinya itu? Artinya, Allah menciptakan dunia dan Ia mengutus Yesus Kristus. Dunia membutuhkan Kristus sang Juruselamat dan Yesus Kristus sang Juruselamat telah lahir dalam kuasa misterius untuk menyelamatkan dunia. Keduanya telah bertemu dan ada di Yerusalem, kota Suci tempat pengorbanan disingkap dalam nubuatan selama bertahun-tahun. kota tempat Herodes dan Pilatus menjadi bersahabat kembali karena seseorang yang hendak mereka korbankan, tempat dimana suatu pengadilan besar tengah digelar, tempat hukum dilaksanakan, tempat pelaksanaan penyaliban, dan pagi kebangkitan sedang menanti saatnya. Yesus pergi ke Yerusalem karena Dia adalah Dia dan Yerusalem adalah Yerusalem. Dia dan Yerusalem ada dalam tangan Allah, dan karena Bapa telah menguduskan Dia dan mengutus-Nya ke dalam dunia. Ketika Ia tiba di dunia dan salib telah merampas dan menggenggam Dia, karakter dan keadaan disekitar-Nya bertemu secara sempurna dalam bentuk yang lengkap. Hubungan Juruselamat dan kebutuhan dunia akan keselamatan telah terpenuhi secara bersama dalam bentuk karya penyelamatan.
Akankah ini menjadi hal besar bagi kita jika kita menyadari lebih jauh lagi bahwa sekarang kita, sebagaimana Kristus yang Agung, harus mengarahkan hidup kita pada suatu tujuan? Kebenaran yang Yesus pertama kali nyatakan dalam kehidupan-Nya, lalu dituangkan dalam ajaran-Nya, kebenaran bahwa manusia adalah anak-anak Allah adalah kesadaran itu.kapanpun manusia mempelajari hal ini, maka ia bertumbuh dalam semangat dan hasrat yang kuat untuk mencapai Yerusalem.

Diperoleh Hanya Melalui Perjuangan
Untuk tiba dibagian kedua dari apa yang ingin saya katakan, kuasa atas tujuan kita dan daya tarik kita akan Yerusalem semakin dipertegas serta diperkuat manakala tabir disingkapkan. Hal ini menunjukkan secara jelas kepada kita bahwa tujuan kita dapat tercapai hanya dengan perjuangan, pengorbanan diri, dan kepedihan.Yesus berkata,”Sebab Ia akan diserahkan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, diolok-olokkan, dihina dan diludahi, dan mereka menyesah dan membunuh Dia” (Lukas 18:32-33 TB LAI).
Jika kita telah mendengar ucapan tersebut yang disampaikan berabad-abad yang lalu,

adakah nampak keraguan didalamnya karena kesengsaraan yang telah dinubuatkan? Apakah Anda tidak yakin kepada kaki yang sedang melangkah dengan kemantapan dari apapun itu?
Kita mendengarkan perkataan itu beberapa kali tentang hal-hal ajaib dari Yesus Kristus, yang melaksanakan karya penyelamatan dunia, dimana Ia telah mengundurkan diri setelah melihat salib yang ada dihadapan-Nya.
Dapatkah kita membayangkan hal itu sekarang? Janganlah kita berpikir,”Dia bukanlah Kristus yang saya bayangkan, atau berpikir bahwa salib dengan segala kengeriannya tidak pernah menakuti Dia.”
Saya berpikir tentang jiwa-jiwa sejati yang mengapdi yaitu semua jiwa yang sungguh-sungguh melihat Yerusalem dan mengarahkan wajah kepada-Nya. Saya tidak mengharapkan mereka kembali dengan kesulitan-kesulitan dan ketakutan-ketakutan yang menghadang. Janganlah mereka mengandalkan kekuatan diri sendiri. Keajaban-keajaiban hidup bukan dalam perbuatan, karena jika hanya perbuatan tidaklah membuat saya kagum.Jika Anda sedang melangkah ke Yerusalem dan sadar bahwa Anda dapat mencapainya, sebagai tujuan Anda, dengan melalui penderitaan, mungkin pula melalui kematian, lalu apa yangAnda lalukan?
Janganlah berdoa untuk kehidupan yang mudah. Berdoalah untuk menjadi kuat. Jangan berdoa supaya tugas Anda seimbang kekuatan Anda, tetapi berdoalah supaya kekuatan itu seimbang dengan tugas Anda. Dengan hal ini maka bukan pekerjaan Anda yang menjadi suatu keajaiban, tetapi Anda sendirilah yang menjadi keajaiban itu. Setiap hari Anda semakin heran dengan perubahan dalam diri Anda, pada kesempurnaan hidup yang datang oleh Anugerah Allah.
Saya tahu bahwa beberapa tujuan telah menjauh dari puncak kota Yerusalem. Anda harus mengembangkan karakter Anda kedalam kondisi-kondisi yang melingkupi dan melihat apa yang harus anda lakukan dengan hidup Anda. Saya beritahukan kepada Anda bahwa tidak mudah mewujudkan harapan. Karena hidup yang telah menjadi pilihan Anda adalah hidup yang benar-benar sesuai dengan Anda, maka hal itu juga akan membutuhkan pengorbanan dan penderitaan. Jika Yerusalem Anda secara nyata adalah kota yang kudus, maka ada sebuah salib tertentu yang terpancang di sana. Undanglah Allah diam di dalam diri Anda, kemudian arahkanlah pandang ke depan melangkah terus. Berjalanlah ke Yerusalem dan berharaplah bahwa segala sesuatu dapat dipenuhi.
Kiranya Allah memimpin kita, pertama untuk melihat Yerusalem kita dan kemudian mencapainya. Amin.


(AMG NEWS )

© Berita Hidup, Po Box 247 Solo 57102

amg                                                              Yayasan Berita Hidup