amg
home
fb icon

SALIB

( Spiros Zodhiates,  Th.D)

Logika Salib

“Sebab pemberitaan tentang salib adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa,  tetapi bagi kita yang diselamatkan peberitaab itu adalah kekuatan Allah.”

(1 Korintus 1:18).Suatu hari saya coba menjelaskan sesuatu kepada kucing saya.  Itu mungkin kelihatan bodoh,  tetapi saya sangat kasihan kepadanya karena saya harus mengeluarkannya dari rumah.  Anda perlu mengetahui bahwa salah satu anak saya yang tidak dapat dijejaki apakah karena sebab fisik atau psikologi,  walaupun sudah menjalani tes lengkap,  yang sekarang kita anggap disebabkan oleh alergi.  “Kucing,”  saya berkata bersamaan dengan saya mengangkatnya dengan tangan saya.  “Saya ingin membuat kamu mengerti mengapa saya melakukan hal ini.”  Tetapi ia kekurangan kemampuan untuk membuat ia mengerti penalaran manusia, walaupun seandainya saya menjadi kucing,  saya ragu saya dapat menjelaskan kepadanya logika perbuatan saya,  sebab kucing tidak mempunyai logika.  Kalau ia punya saya bisa menjelsakan kepadanya. Allah menjadi manusia,  melalui inkarnasiNya di dalam diri Tuhan Yesus Kristus,  sehingga ia dapat menyingkapkan kepada kita pikiraNya dan karakterNya.  Ia melimpahi kita dengan nalar yang logis sehingga kita dapat mengerti Dia,  melalui Kristus yang disebut Logos (Kata,  Intelegensi).  Namun,  seperti yang saya temukan dalan diri saya sendiri,  saya sangat terbatas dalam kemampuan saya untuk menjelaskan sesuatu kepada kucing saya karena ia tidak mempunyai pikiran seperti pikiran kita,  demikian pula Allah benar-benar membatasi diri dalam hal seberapa banyak yang dapat Ia singkapkan kepada kita lantaran keterbatasan pikiran  dan keterkaitannya pada lingkungannya.   

Sebagai contoh Allah tidak menggambarkan secara mendetail alasan Ia mengizinkan duka dan derita masuk ke dalam hidup kita – pasti karena kita tidak dapat memahami secara menyeluruh,  seluruh maksud-maksudNya atau melihat akhir dari sesuatu sejak dari semula,  seperti yang Ia pahami dan lihat.  Pun Ia tidak menjelaskan secara penuh tentang hidup sesudah mati itu sangat berbeda dengan apa yang kita ketahui,  kendati pun Ia melakukannya,  kita tidak mempunyai kepastian untuk memahaminya.


Ini membawah kita pada pertimbangan terhadap pernyataan Rasul Paulus dalam
I Korintus 1:18,  “Sebab pemberitaan tentang salib adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa,  tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.”  Orang percaya dan orang tidak percaya sama-sama menerima kematian Kristus di kayu salib sebagai makna historis,  tetapi pandangan mereka tentang kematian itu beroposisi secara dramatis.  Bagi mereka  “yang terhilang,” yaitu mereka yang tidak mempunyai “pemikiran”  Allah,  yang tanggap terhadap fakta itu,  salib adalah penjelasan logis.  Sama seperti orang buta warna tidak dapat membedakan corak warna pelangi,  demikianlah orang “yang terhilang,”  (akan didiskusikan belakangan pada arti istilah ini) tidak dapat mengidentifikasi logika kematian Allah inkarnasi di kayu salib secara memalukan.

Mengapa Paulus mengatakan salib mempunyai logika,  sebagai perbuatan Allah yang tidak memperlihatkan kebodohanNya melainkan mempertunjukan kebijaksanaanNya?   Sebelum berusaha menjawab pertanyaan itu,  saya ingin menari perhatian anda pada fakta bahwa di sini Paulus tidak berusaha membuktikan fakta kebangkitan.  Ia melakukan usaha membuktikan kebangkitan nanti pada pasal 15.  tetapi mengapa ia tidak mencoba membuktikan fakta penyaliban itu dan juga kebangkitan?    Itu karena alasan bahwa kematian Kristus di kayu salib merupakan fakta yang hina menurut anggapan musuh-musuhNya.  Tetapi kebangkitanNya adalah peristiwa yang sangat mulia dalam sejarah.  Bagi musuh-musuhNya,  penyaliban Kristus merupakan peristiwa historis yang sudah terbuktikan,  tetapi kebangkitanNya tidak.  Mereka tidak pernah ragu pada fakta penyaliban yang nyata itu tetapi hanya dalam pengertian hubungan dengan manusia. Mereka mengakui bahwa Kristus mati di kayu salib,  tetapi kematianNya harus diproklamirkan sebagai kabar baik kelihatannya sama sekali omong kosong,  tidak masuk akal.  Kebangkitan adalah khabar baik,  dan mereka tidak dapat mengtolerirnya mengingat “kuasa” –Nya,  mereka mencoba menyangkal sebagai fakta-fakta yang disesalkan tentu saja sejauh berkenaan dengan Kristus,  tetapi tentu bukan khabar baik bagi orang yang baik.  Berita itu adalah salah satu berita dari sekian banyak berita yang tidak masuk akal,   yang pernah mereka dengar.

Salib,  salib apa saja pada masa itu,  berarti kematian secara tidak terhormat,  hina.  Salib adalah akhir dari kehidupan yang bodoh,  akibat dosa.  Tetapi Paulus tidak merujuk pada salib-salib seperti itu,  melainkan pada salib khusus,  yaitu salib Kristus  (ay 7).  Ia tidak merujuk pada objek yang terbuat dari kayu yang menjadi tempat menggantuk para kriminal,  melainkan pada Kristus yang menggantung di atas objek seperti itu.  Ada tiga salib di Golgota,  tetapi hanya satu salib yang menjadi sentral,  yang selalu ada dalam pikiran Paulus.
“Kami memberitakan Kristus yang di salibkan,”  katanya dalam ayat 23.  dan di Golgota 6:14 ia berseru,  “Tetapi aku sekali-kali  tidak mau bermega,  selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus.”  Salib itu bukan sekedar sebuah salib yang olehnya ia dimuliakan,   salib itu adalah sang salib—salibAnak Allah.
Karena Kristus adalah Allah—firman  (Logos) yang menjadi daging—maka Allah yang tersalib yang Paulus sedang bicarakan.  Adalah masuk akal untuk Allah yang mati di atas kayu salib?  Benar, kalau kematian di kayu salib Cuma sekedar akting manusia,  maka kematian itu menjadi kebodohan,  tetapi kalau kita mengerti bahwa Ia yang mati di kayu salib adalah inkarnasi Allah,  maka kematian itu masuk akal,  kematian itu logis karena perbuatan itu sesuai dengan sifat Allah.
Di dalam gereja-gereja Katholik Roma Anda akan melihat salib ditempelkan di sisi mimbar.  Salib itu ditenpelkan terbalik bukan menghadap umat,  tetapi menghadap Pastor.  Salib itu adalah benda pertama yang ia lihat ketika menaiki mimbar,  dan salib itu selalu mengingatkan dia apa pokok utama pemberitaannya. Ukiran ini menggambarkan Tuhan,  kepalaNya dimahkotai duri,  kaki dan tanganNya dan lambungNya yang kena tombak,  semuanya menghadirkan pertimbangan pada sang Pastor untuk mengedepankan Kristus yang tersalib.  Kalau ada kegunaan salib yang kita rasa mungkin akan membantu,  inilah kegunaan itu,  dalam hal itu mengingatkan pastor atau pendeta pada pokok beritanya yang paling patut,  seolah-olah Krsitus berkata,  “Ingat Aku;  katakan kepada mereka tentang Aku.  Jangan Khotbahkan dirimu sendiri.  Ceritakan kasihKu kepada mereka,  dan bagaimana Aku datang ke dunia dan mati,  menderita sampai mati untuk mereka.  Ceritakan Aku kepada mereka.” Salib dengan Kristus di atasnya sangat penting;  salib tampa Dia,  sama sekali tidak penting.
Sebelum mengatakan salib Kristus adalah kebodohan,  baiklah pandang dengan cermat pada Dia yang tersalib.  Pertama Ia adalag Pribadi yang sempurna tampa dosa.  “Ia tidak berbuat dosa dan tipu tidak ada pada mulutNya” (I Prt 2:22).  “Ia tak salah,  tampa noda,  yang terpisah dari orang-orang berdosa”  (Ibr 7:26),  dan karena itu Ia tidak seharusnya mati.  Kedua Ia adalah representatif umat manusia,  Adam kedua,  yang oleh kematianNya menghapus dosa yang turunkam kepada kita oleh Adam pertama.  Di salib kita melihat kasih Allah yang melimpah- ruah bagi orang berdosa : “Inilah kasih itu:  Bukan yang telah mengasihi Allah,  tetapi Allah yang telah mengasihi kitadan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita”  (1 Yoh 4:10).

Salib sebagai pengungkapan kasih Allah

Di bawah kehidupan moderen,  dapat di maafkan jika seseorang kadang-kadang heran apakah dunia telah menjadi gila.  Tetapi sejauh ia mampu berpikir dan bertindak secara logis,  dan menanggulangi keadaan sekitarnya dengan cara realistis,  ia mungkin menganggap dirinya waras.
Kapan seseorang tidak logis?  Ketika ia bertindak dengan cara yang bertentangan dengan realitas situasinya.  Makhluk manusia waras kalau ia bertindaksebagaimana harusnya seseorang manusia bertindak.  Kewarasn adalah memerankan siapa adanya Anda dalam seluruh kesadaran atas relitas lingkungan dan keadaan sekitar Anda.  Kalau Anda menerjunkan diri  Anda dari pesawat terbang tampa menyadari bahwa Anda akan terbunuh,  Anda sakit pikiran.  Tetapi kalu Anda melompat dari pesawat dengan memakai parasut,  dan anda tahu bagaimana menggunakannya,  Anda bertindak secara waras.  Kita katakan orang yang memerlukan perawatan di sebuh institusi psikiatrik sebagai seseorang yang kehilangan sentuhan dengan realitas.
Mari kita terapkan ini pada klaim Kristus bahwa Ia adalah Anak Allah,  Mesias dan penebus manusia yang dijanjikan.  Bagi manusia biasa,  kalim seperti itu dan mati di kayu salib dengan anggapan ia mampu menebus semua mansuia,  merupakan perbuatan yang bukan-bukan,  tidak masuk akal.  Itu sebabnya salib kelihatan begitu bodoh bagi orang yang terhilang;  pertama,  karena mereka tidak percaya bahwa yang mati di kayu salib itu adalah Kristus,  inkarnasi Allah;  kedua,  karena mereka tidak mempunyai Roh Allah di dalam mereka yang akan memampukan mereka untuk mengerti makna salib.
Tetapi bagi orang percaya salib masuk akal,  sebab di dalamnya ia menemukan kesesuaian  penuh antara perbuatan sukarela penyaliban dan karakter Kristus.  Kalau Anda melihat Yesus sekedar manusia biasa yang mati di kayu salib,  Anda tidak mengerti kematianNya yang secara sukarela itu,  tetapi Anda hanya melihatnya sebagai eksekusi paksa.  Namun Ia sendiri mengklaim bahwa tidak ada seorangpun yang dapat membunuh Dia kecuali kalau secara sukarela Ia menyerahkan hidupNya.  Dengar Kristus sendiri berbicara tentang sifat sukarela pengorbananNya itu,   “Aku memberikan nyawaKu bagi domba-dombaKu …   Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanaya kembali.  Tidak seorangpun mengambil dari padaKu,  melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri.  Aku berkuasa memberikannya dan mengambilnya kembali”  (Yoh 10:15. 17, 18).
Ini bisa perkataan orang sakit mental atau Allah.  Fakta kebangkitan membuktikan bahwa perkataan itu adalah perkataan Allah.  Karena itu perkataan itu tidak bodoh melainkan logis menurut pengertian pokok.  Angkat keilahian Yang Tersalib,  dan penyalibanNya menjadi contoh orang yang mati gila sama sekali.  Keculai kalau Anda melihat penyaliban itu sebagai perbuatan Allah yang bijaksana demi kepentingan anda,  pengorbananNya yang sukarela itu berguna bagi penyucian semua yang menerima dengan iman,  Anda tidak akan pernah diselamatkan.  Anda diantara orang-orang yang Paulus nyatakan,  “Pemberitaan tentang kayu salib memang kebodohan bagi mereka yang akan binasa.”
Lantas bagaiman kita dapat memandang kematian Kristus di kayu salib sebagai perbuatan yang masuk akal?  Dengan menyadari bahwa Ia adalah Allah,  yang memindahkan sifatNya,  yang paling pertama adalah sifat kasih.

“Allah adalah kasih”  (1 Yoh 4:8),  cara dan tempat yang paling mutlak untuk membuktikannya adalah salib.  Anda mungkin mencari bukti-bukti kasih Allah di dalam alam semesta,  tetapi walaupun perbuatan tangaNya menakjubkan,  dan mendebarkan,   dan menyatakan kemahakuasaan Pencipta,  namun tidak mesti mengungkapkan Allah yang mengasihi.
Kajilah hukum-hukum alam dan Anda tidak dapat menolong mencapai simpulan bahwa  ia yang menempatkan semua itu bersama-sama dan membuatnya berfungsi secara sangat sempurna,  tentu adalah maha bijaksana.  Saya pikir Dra  A Cressy Morrison,  di dalam bukunya Man Does Not Stand Alone  (Manusia tidak dapat sendirian  sungguh-sungguh benar tatkala ia menunjukan bahwa salah satu alasan ia percaya pada eksistensi Allah ialah,  dengan ketaguhan hukum matematik.  Kita dapat membuktikan bahwa alam semesta kita di desain dan dijalankan oleh Intelegensi Insinyur yang maha pintar—Logos.

“Andaikan,”  katanya,  “Anda menempatkan sepuluh koin yang ditandai dari satu sampai sepuluh di dalam saku Anda dan kocok dengan baik sekarang coba keluarkan  koin-koin itu dari satu sampai sepuluh kembalikan koin itu setiap waktu dan kocok lagi.  Secara matematik kita tahu bahwa kesempatan Anda untuk menaruk koin nomor satu adalah satu dalam kesepuluh;  menarik koin satu adalah satu dalam sepuluh;  menarik koin satu dan dua menurut urutannya adalah satu dalam seratus;  menarik koin satu dua dan tiga   menurut urutannya adalah satu dalam seribu,  kesempatan Anda dalam menarik semuanya  dari nomor satu sampai nomor sepuluh menurut urutannya,  akan mencapai bilangan yang luar biasa,  yaitu satu dalam sepuluh juta.

“Dengan penalaran yang sama ada begitu banyak kondisi menarik yang penting untuk hidup di dunia ini yang tidak mungkin ada karena relasi kebetulan yang tepat.  Bumi berotasi pada sumbunya 1000 min perjam pada khatulistiwa;  kalau orentasi itu beralih menjadi 100 mil per jam,  siang dan malam hari akan menjadi sepuluh kali lebih lama dari yang karang,  dan panas matahari akan membakar tumbuh-tumbuhan di siang hari,  sementara di malam hari yang panjang,  kecamba yang mau hidup akan membeku.”  (disarikan dari reader Digest,  “New York: Fleming H.  Revell Co,  1944).

Dengan memandang kepada alam dan mengkaji hukum-hukum di bawah mana alam beroperasi dan ditunjang,  kita tergerak untuk berseru,  “Sungguh Allah maha besar!”  Tetapi dengan memandang kepada salib Kristus, kita tergerak untuk mengaku,  “Sungguh Allah Maha Kasih!”

Ada orang yang mendapati sukar memikirkan Allah sebagai Allah yang Maha Kasih.  Kalau Anda memikirkan dosa dan penderitaan dan kesedian hiudup,  pernahkah anda berkata,  “apa yang Allah pikirkan tentang semua ini? Apakah Ia melihatnya? Apkah Ia peduli denganNya?”  Anda masuk ke dalam ruang gelap di mana kematian memukul roboh pencari nafkah atau anak kecil,  atau ibu,  dan anda dapati jiwa-jiwa terpuruk dalam kepedihan.  Dapatkah Anda menyadari kebaikan Allah pada saat seperti itu?  Atau kalau Anda menghadapi misteri penderitaan tatkala Anda berjalan menyelusuri rumah sakit,  apakah anda heran,  “Mengapa terjadi,  di dalam dunia Allah?  Kalau Ia adalah kasih mengapa kita melihat penderitaan seperti ini – pemandangan yang menyedihkan dan kenyerian yang tidak berhenti-henti?” Pergi ke daerah kumuh.  Lihat kekerasan dan horor yang menimpah para ibu yang kembung dengan bayi-bayi kecil;  anak-anak bertumbuh ditengah-tegah kutukan sejak masa bayi.  Dengar bahasa mereka;  lihat pemandangan itu,  kemelaratan,  horor.  Tatkala Anda menangkap pemandangan langit biru,  tidakkah Anda akan terpaksa berkata,  “Oh Allah yang hidup,  apakah Engkau melihat semua ini?  Bagaimana dosa dan penderitaan ini Engkau izinkan terjadi dalam alam semestaMu yang teratur secara matematis?”

Anda akan mendengar penjelasan seperti,  “Baiklah,  ini bukan perbuatan Allah;  ini adalah akibat dosa,  “tetapi ini tidak benar-benar memuaskan Anda.  Anda ingin tahu apa perasan Allah.  Maka dari itu Anda harus memandang kepada Yesus Kristus di kayu salib.  Anda tidak dapat melihat wajah itu dan berkata,  “Aku tidak yakin apakah Engkasu peduli atau tidak.  Aku tidak yakin apakah tidak apa-apa bagi Engkau kalau aku menjadi saleh atau orang jahat.  Aku tidak yakin apakah Engkau mengerti penderitaanku,  lukaku,  dan dosaku.”   Tidak pandanglah wajah Tuhan Anda dan Anda tidak perlu meragikan kasihNya.  Apapun yang benar,  Ia tahu semua ini,  Ia merasakan melebihi siapa pun juga.  Ia peduli.  Ia memberikan diriNya sendiri untuk pembebasan kita.  Jadi kalau setiap kali Anda mulai bertanya-tanya pandanglah di sana dan jangan lagi ragu.  Di kayu salib,  ada hati Allah,  salib diungkapkan terhadap dunia kita yang penuh dosa,  penuh penderitaan.  Apa lagi yang dapat dilakukan Allah untuk buktikan kasihNya kepada umat manusia selain menunjukan  “kasihNya kepada kita oleh karena Kristus telah mati untuk kita,  ketika kita masih berdosa”  (Rm 5:8)?

Salib adalah proposal yang dapat diterima atau tidak,  untuk mengubah luka dan derita menjadi tidak lebih dari pada kapital moral yang mulia, untuk membuatnya menjadi  suatu instrumen bagi kemurnian spiritual tinggi.  Terlepas dari salib sabagai indentifikasi Allah dengan penderitaan umat manusia,  seperti kita jumpai dalam Ibrani 12,  penderian akan menjadi sekedar penghinaan dari musuh-musuh kita.  Merupakan kebodohan untuk mencoba melihat berkat dalam penderitaan,  jika kita tidak mempunyai Kristus di salib sebagai Allah  dan Juruselamat kita.  Tetapi kalau sebagai orang Kristen kita mengingat Dia yang menanggung penyangkalan orang-orang berdosa terhadap diriNya, dan yang menanggung salib dan kehinaan berkaitan dengan salib itu,  kita mengerti bahwa penderitaan untuk menggapai kemenangan,  kalau kita ingin mendapatkannya.  Yesus Kristus yang tersalib telah menaruh kemuliaan seperti itu atas penderitaan manusia.  Ia telah diinfus ke dalam kebajikan sorgawi seperti itu,  sehingga penderitaan bukan lagi musuh bagi orang Kristen;  penderitaan telah menjadi kawan.  Kerajaan atas hidup tidak lagi kegelapan melainkan terang. (bm)

 
                                                                  
Yayasan Berita Hidup