Building
home
fb icon
 

Spiros Zodhiates

YANG MUNGKIN KITA TIDAK LAGI
SEMPAT MENCARINYA

Spiros

“Ingatlah baik-baik, sekarang inilah waktu yang diperkenankan itu.
Sekarang inilah hari untuk diselamatkan” (2Kor 6:2, BIS).

Masa kini terletak di antara masa lalu dan masa depan. Masa kini merupakan saat yang sangat penting di antara apa yang telah terjadi pada kita dan apa yang akan terjadi. Masa kini merupakan masa peralihan yang penting.
Harta kita yang terbesar adalah bukan yang kita mampu kumpulkan pada masa lalu atau warisan yang akan kita terima, atau kemungkinan masa depan yang lebih cerah. Harta kita yang terbesar yang dapat kita peroleh adalah kesempatan saat ini juga, saat sekarang ini juga. Apa yang dapat ditawarkan oleh masa kini kepada kita? Jangan biarkan masa lalu, atau mimpi masa depan memperbudak kita. Di sini dan kini merupakan saat yang sangat penting dalam hidup kita. Dengan tangan yang satu kita memegang masa lalu dan dengan tangan yang lain kita menggapai masa depan.
Seorang penulis Perancis suatu kali menulis, “Jangan terima abu tapi terimalah api dari masa lalu.” Kalau yang Anda peroleh dari masa lalu adalah sesuatu yang sudah mati, maka itu adalah abu Namun, kalau itu sesutu yang hidup, maka Anda harus menggunakannya pada masa kini. Apakah agama Anda abu atau api?

Dilain pihak, jangan menjadi pemimpi sampai merisaukan masa depan. Jangan katakan, “Saya belum butuh Allah sekarang, tapi pada masa yang akan datang mungkin akan saya pertimbangkan.” Anda mungkin beranggapan bahwa Anda akan mempunyai kesempatan pada masa depan, tetapi masa depan mungkin tidak pernah menjadi kenyataan. Setiap saat Allah memang siap memberi keselamatan kalau kita mencarinya, tetapi mungkin kita tidak sempat lagi mencarinya. Dan ada satu hal yang tidak akan Allah lakukan, yaitu memaksa Anda menerima sesuatu yang Anda tidak mau- bahkan sekalipun itu untuk keselamatan Anda. Allah bukan diktator yang mendesakkan kehendakNya kepada sasaranNya.

Suatu hari seorang pencinta hikmat menanyai seseorang didekatnya, “Anda mau jadi apa kalau Anda dapat memilih? Menjadi orang kaya yang kejam, atau menjadi orang yang baik hati tapi tidak punya apa-apa?

Orang lewat itu berpikir sejenak dan kemudian menjawab, “Saya ingin menjadi orang kaya dalam kehidupan masa kini dan menjadi orang baik hati pada kehidupan yang akan datang.” Ini yang sering menjadi pandangan hidup orang-orang masa kini. Mereka mau hidup untuk diri mereka sendiri di bumi ini tetapi mau juga menikmati sorga sesudah mati. Tetapi yang benar adalah, tidak bisa begitu.

Setiap saat Allah memang siap memberi keselamatan kalau kita mencarinya, tetapi mungkin kita tidak sempat lagi mencarinya. Waspadalah supaya Anda tidak diperdayai oleh pendapat yang mengatakan kepada Anda bahwa Anda dapat hidup dengan cara apa pun yang Anda inginkan dan bahwa Allah adalah Allah yang baik yang tidak akan pernah menolak siapapun yang mau menikmati sukacita sorga. Pendapat demikian tidak punya makna, hanya impian. Pendapat seperti itu hanya angan-angan yang tidak dapat memperoleh hidup kekal bersama Allah kalau kita menolak Dia sementara kita masih hidup didunia ini. Kita sama sekali tidak dibenarkan menyalahkan Allah atas pilihan yang kita buat ketika Ia masih memberi nafas kepada kita. Tak pelak lagi, kitalah yang menentukan masa depan kita. Kita akan tidur di ranjang yang kita siapkan untuk diri kita sendiri. Rasul Paulus benar tatkala ia mengatakan bahwa masa kini adalah masa yang paling gelap, karena masa depan hanyalah merupakan sambungan masa kini.

Masa depan tergantung pada apa yang Anda perbuat pada masa kini. Kita tidak dapat memperoleh hidup kekal bersama Allah kalau kita menolak Dia sementara kita masih hidup didunia ini.

Namun, sekaranglah, pada saat ini juga, Anda mempunyai kesempatan yang mungkin tidak akan pernah Anda jumpai lagi. Kesempatan ini bukan hanya merupakan kesempatan yang berharga, tetapi istimewa. Jam kehidupan kita hanya berputar satu arah. Jam kehidupan kita secara perlahan akan tidak berputar dan akhirnya dihentikan secara mendadak dan tak terduga oleh kekuasaan yang besar. Akankah Anda siap saat itu terjadi?

Sekali Esau menjual hak kesulungannya, hak itu lenyap untuk selamanya. Demikian juga, sekali kita kehilangan kesempatan untuk bertobat, tidak ada garansi kita akan mendapat kesempatan yang lain “Siapa menunda keselamatan sampai pukul 11.00 kehidupannya, ia akan mati pada pukul 10.30.” Kalau Anda menunggu sampai Anda mendapat kesempatan yang lebih baik daripada sekarang, Anda akan dapati bahwa kesempatan itu tidak pernah muncul lagi.

Khotbah apa yang pertama kali Kristus sampaikan? Waktu itu Ia berkhotbah di sinagoge (rumah sembahyang agama Yahudi) di Nazareth. Setelah membaca satu bagian kitab Yesaya, Ia menutupnya dan mengatakan, “Pada hari ini, genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (Lukas 4:21). Dengan kala lain, Ia hendak mengatakan, “Percayailah Alkitab bahwa sekarang juga Juruselamat berada di antara kamu.”

Khotbah apa yang terakhir kali Kristus sampaikan? Yaitu perumpamaan tentang sepuluh anak dara. Yang lima orang waspada dan berjaga-jaga Yang lima orang lainnya tidak begitu siaga. Mereka semua menantikan kedatangan mempelai pria. Lima dara bersikap bijak, sebelum pergi, mengisi lampu mereka dengan minyak cadangan. Tetapi lima dara yang lain tidak membawa minyak cukup. Tak terpikirkan oleh mereka bahwa bisa saja mempelai pria itu datang terlambat. Karena kedatangannya terlambat, lampu lima dara yang bodoh itu padam. Mereka pergi membeli minyak, tapi pada waktu itu mempelai pria tiba dan mereka kehilangan kesempatan mengikuti pesta.

Wasapadalah supaya Anda tidak dipedayai oleh pendapat yang mengatakan kepada Anda bahwa Anda dapat hidup dengan cara apa pun yang Anda inginkan dan bahwa Allah adalah Allah yang baik yang tidak akan pernah menolak siapa pun yang mau menikmati sukacita sorga.

Waspadalah jangan-jangan kita pun kehilangan kesempatan itu. Kedatangan mempelai pria dalam perumpamaan ini melambangkan kedatangan Kristus untuk kali yang kedua, Anda mungkin menunda pertobatan Anda sampai pada suatu waktu di masa depan, dan Anda merasa bahwa kesempatan itu pasti masih aka nada sebelum mempelai itu, yaitu Yesus Kristus, datang. Tapi Anda tidak tahu kapan Kristus datang kembali untuk kali kedua. Allah tidak memberitahukan semua rencanaNya kepada kita. Ia telah katakan kepada kita bahwa Kristus akan datang secara tiba-tiba . Ia hanya akan menjemput mereka yang adalah milik kepunyaanNya dan meninggalkan yang lain melewati suatu masa sengsara besar yang belum pernah dialami dunia sebelumnya. Dengan membaca Wahyu pasal 6-19, maka pasti Anda menyadari bahwa untuk menjadi salah seorang yang dijemput dan diangkat ke sorga adalah dengan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat Anda. Biarkan dia lahir, hadir dalam hati dan hidup Anda. Keselamatan bukan hanya untuk masa depan. Keselamatan itu juga untuk masa kini. Keselamatan itu sudah tersedia sekarang juga.

Mengapa menunda bergaul akrab dengan kebaikan Allah? Rasul Paulus mengatakan kepada jemaat Korintus: “Ingatlah baik-baik, sekarang inilah waktu yang diperkenankan itu. Sekarang inilah hari untuk diselamatkan.” (Majalah Berita Mimbar).

Pdt. Wahyu Wahono A.K., M.Th

NATAL DAN KEBENCIAN

Pdt. Wahyu

 

Tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran Natal yang hakekatnya adalah kesukaan sorga mengalir kedunia disambut oleh sebagian orang dengan baik dan senada yang artinya sukacita dan disatu sisi disambut dengan kebencian disertai dengan kemarahan. Kenyataan itu telah disingkapkan oleh Injil Matius 2 dan maknanya dapat kita temukan dalam Injil Lukas bahwa dalam kitab nabi-nabi juga memuatnya. Mari kita perhatikan apa yang terjadi saat Natal tiba dan orang-orang Majus dari Timur bergegas untuk menyambutnya, tapi “Sang Penguasa” yakni Herodes menaruh kebencian dan kemarahan.

Dalam perkembangannya kini dapat ditemukan bahwa Natal adalah saat pesta-pora atau bersenang-senang dibarengi dengan “kerakusan” dilaksanakan. Sebagian orang Natal cuma sekedar saat mengunjungi keluarga dan teman-teman, saling bertukar salam dan hadiah, saling bertukar salam dan hadiah. Tapi apa sebenarnya makna Natal dan bagaimana reaksi dunia tentang Natal?

Natal adalah Kesukaan

Pertama, Natal artinya sukacita. Malaikat memproklamasikan kepada para gembala: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitahukan kepadamua kesukaan besar untuk seluruh bangsa.” (Lukas 2:10). Bahwa kesukaan besar itu tidak dimiliki oleh setiap orang di dunia ini sangat jelas. Pernyataan malaikat diatas harus ditafsirkan dalam terang Tulisan Kudus yang lain.

Ayat berikut (Lukas 2:11) membicarakan seorang “Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan.” Mereka yang mau menikmati kesukaan besar itu harus percaya kepada Juruselamat itu. Kesukaan yang diberikan oleh suasana Natal kepada orang Kristen adalah kesukaan yang sama sekali tidak dikenal dunia. Alkitab bilang kesukaan itu adalah “sukacita yang mulia dan tidak terkatakan.” ( 1 Petrus 1:8).

Kesukaan itu merupakan kesukaan sekarang karena kehadiran Roh Kudus di dalam hati setiap orang Kristen. Alkitab mengajarkan bahwa Roh Kudus tinggal di dalam orang percaya, dan membawakan mereka damai sejahtera dan sukacita ( Roma 14:17). Kesukaan itu merupakan kesukaan yang akan datang karena janji-janji hidup kekal dengan Allah Bapa, yang kehadiranNya merupakan “sukacita berlimpah-limpah” (Mazmur 16:11). Kesukaan itu adalah kesukaan yang tak-bersyarat, karena kesukaan itu tidak dipengaruhi oleh keadaan-keadaan, tempat atau teman.

Perhatikan hidup Rasul Paulus. Ia telah dipenjarakan secara tidak adil di Filipi, dirantai laksana kriminal dan nampaknya ditinggalkan oleh Allah dan manusia (KPR 16:24-25). Keadaannya buruk, tempatnya sangat menyedihkan, dan di tengah-tengah musuh bukan di antara teman, apalagi teman baik. Kendati demikian, di tengah keadaan buruk, di tempat yang sangat menyedihkan dan diantara musuh-musuh, sukacita tetap berlimpah. Sukacita itu mengungkapkan diri dalam pujian dan nyanyian. Bagaimana mungkin bisa begitu? Paulus telah berjumpa secara pribadi dengan Kristus pada Natalnya yang pertama dan hidupnya serta nasibnya sudah diubah selama-lamanya.

Natal adalah Harapan

.
Kedua, Natal artinya harapan. Maksud kedatangan Yesus ialah membawa harapan kepada umat manusia yang berada dalam keputus-asaan. Melalui dosa Adam, seluruh umat manusia telah tercemplung ke dalam rawa paya dosa keputus-asaan. Tetapi kedatangan Kristus pada hari Natal tidak hanya untuk lahir sebagai manusia sempurna, tetapi juga untuk menghidupi suatu kehidupan yang sempurna, kehidupan yang menggenapkan hukum-hukum kesempurnaan Allah, dan untuk mati sebagai korban yang sempurna bagi semua macam dosa manusia.

Dengan berbuat begitu, Ia menyelamatkan manusia dari kesalahan dan hukuman dosa, dan membawa cahaya pengharapan kepada dunia yang gelap dengan dosa itu. Alkitab mengatakan, “Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.” (Roma 8:24,25). Harapan ini menopang orang Kristen dalam kehidupan ini dan menghiburnya ketika menghadapi keadaan berat. Lantaran kedatangan Kristus yang pertama, kita mempunyai harapan pengampunan dosa dan pemulihan hubungan dengan Allah. Lantaran janji Kristus untuk datang ulang ( 1 Tesalonika 4:13-18), kita mempunyai harapan dan hiburan dalam menghadapi keadaan genting, yaitu pengharapan pada kekekalan.

Natal adalah Damai Sejahtera.

Ketiga, Natal artinya damai sejahtera, Malaikat menyatakan, “Damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya.” (Lukas 2:14b). G. Chambell Morgan mengatakan bahwa pernyataan ini secara literal berarti damai sejahtera untuk orang yang Dia sungguh-sungguh suka.” Damai sejahtera sejati dari Natal, pada dasarnya dibatasi hanya untuk orang Kristen saja, Yesus mengatakan dalam Yohanes 14:27, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu.

Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu, dan apa yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Manusia di seantero dunia mengimpikan dan mengupayakan damai sejahtera. Tetapi damai sejahtera yang nyata sudah ada di dalam hati orang Kristen, dan ini terpelihara oleh kehadiran Raja Damai, yaitu Kristus Sang Natal.

(Selanjutnya)

 

 

© Berita Hidup, Po Box 247 Solo 57102

amg                                                              Yayasan Berita Hidup