Building
home
fb icon
 

Spiros Zodhiates

MATI ATAS KEMAUAN-NYA SENDIRI

Dalam teks aslinya,  ayat ke 14 dari pasal pertama Injil Yohanes dimulai dengan kata sambung  “dan”.  Di sini “dan” menghubungkan dua gagasan.  Bagaimanapun,  kita tidak yakin bahwa kata ini menghubungkan ayat 13 dengan ayat 14,  tetapi lebih tepat menghubungkan ayat 1 dengan ayat 14.  seperti yang kita lihat.  Ayat 1 berhubungan dengan kekekalan Logos,  atau Yesus Kristus,  dan ayat 14 dengan kesejajaran Anak Manusia.  Lebih tegasnya,  kata sambung ini menunjukan klausa  (anak kalimat) pertama dari ayat pertama dengan anak kalimat pertama dari ayat 14.  “Pada mulanya adalah Firman … Firman itu telah menjadi daging.”  Antara ayat 1 dan ayat 14 ada kesenjangan yang besar.
Tetapi mengapa Yohanes mempergunakan istilah  “daging”,  dan bukan istilah-istilah yang lain?  Mengapa ia tidak mengatakan,  “Dan Logos itu telah menjadi tubuh,”  sebab konsep yang nyata bahwa dia berusaha menyampaikan yang rohaniah telah menjadi jasmaniah,  Allah yang tak nampak telah menjadi manusia yang tampak?
Pertama-tama,  kita yakin alasan kata sarx,  “daging” dipergunakan di sini oleh Yohanes merupakan sesuatu yang khas.  Apa tujuan utama Yesus Kristus datang ke dalam dunia? Kata “datang ke dalam dunia” dengan tujuan untuk hidup.  Sesungguhnya Dia datang tidak untuk tujuan yang sama.  Dia datang untuk mati.  Dan ada maksud bagi kematianNya. Yaitu menebus umat manusia dari dosa.  Dia datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang telah hilang.  HidupNya semata-mata jembatan menuju kematianNya.  Dengan hidup secara adikodrati,  Dia ingin mendemonstrasikan  bahwa Dia akan mati secara adikodrati pula,  atas kemauanNya sendiri,  bahkan sepertti sebagaimana Dia datang ke dalam dunia.
Ibrani 9:2 menyatakan kepada kita bahwa “tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.’ Untuk tujuan Allah,  darah Yesus Kristus-lah yang memenuhi syarat bagi pengampunan seluruh dunia.  Darah itu harus darah manusia yang sempurna dan tanpa dosa,  dan Yesus Kristus satu-satunya manusia yang dapat memenuhi persyaratan ini.  Itulah sebabnya dalam suratnya yang pertama Yohanes (1:7) menyatakan bahwa,  “darah Yesus Kristus,  AnakNya itu,  menyucikan kita dari segala dosa.”  Darah mestinya berada di dalam daging.  Saya yakin bahwa Yohanes sedang mempetunjukkan dari semua,  maksud dan tujuan Allah untuk apa Yesus Kristus menjadi manusia,  yaitu mencurahkan darahnya untuk mengampuni dosa kita.  “Anak Manusia datang … untuk memberikan nyawaNya untuk tebusan bagi banyak orang.” (Mat 20:28).
Banyak orang membicarakan hidup Tuhan Yesus Kristus ketika Ia tinggal di dunia ini secara menghormat,  namun  mereka tidak membicarakan kematianNya dan darahNya yang Ia curahkan di salib Golgota.  Kita tidak dapat hidup sebagaimana Ia hidup,  hingga kita menerima kematianNya sebagai hukuman terhadap dosa-dosa kita dan kita diselamtkan oleh darahNya.  Kemudian,  barulah hidupnya bermakna bagi kita,  dan Ia menjadi penutan bagi kita.
Kata “sarx” ini jarang dimengerti secara harafiah  saja sebagai sekedar wadah yang berisi darah,  tetapi juga lebih bermakna umum.  Sarx atau “daging” di dalam Alkitab juga menunjukkan kepada tabiat manusia di dalam manifestasi jasmaniah.  Hal itu menunjukkan bahwa Kristus menjadi benar-benar manusia yang sempurna,  sama dengan manusia,  kecuali untuk dosa.  Sebab jika Ia berdosa,  tidak mungkin Ia menebus dosa.  Secara umum istilah ini bermakna bahwa Yesus Kristus di dalam wujud manusiawiNya  memiliki tubuh manusia sejati dan jiwa manusia sejati.  Canon H.P. Liddon mencatat dalam bukunya, The Divinty of our Lord Jesus Christ: Dia,  Yesus Kristus dikandung dalam rahim ibu manusia (Luk 1:31; Mat. 1:18).  Dia,  oleh ibunya dibawah masuk ke dalam dunia (Mat 1:25;  Luk 2:7, 11; Gal 4:4).  Dia disusui oleh ibunya selama masih bayi (Luk 11:27). Sebagai seorang bayi  Dia mengalami kesakitan kesakitan upacara penyunatan (Luk 2:21).   Dai adalah bayi yang dibungkus dengan kain bekas dan terbaring dalam palungan (Luk 2:12).  Dai dibuai oleh tangan seorang tua,  Simon (Luk 2L28).  Pertumbuhan jesmaniahNya ditandai oleh penginisiasiannya pada usia 12 tahun (Luk 2:40),  sampai saat dewasa (Luk 5:52).  KehadiranNya di pesta kawin Kanna (Yoh 2:2),  diperjemuan di rumah Lewi (Luk 5:29) dan makan di rumah Simon orang Farisi (Luk 7:36);  makan malam yang diikuti di Betani dengan teman yang  Ia telah di bagkitkan dari kubur (Yoh 12:2),  pesta paska yang Ia inginkan begitu sungguh-sungguh,  untuk makna sebelum Ia menderita (Luk 22:8, 15),  roti dan ikan yang dimakanNya dihadapan para muridNya pada awal turun ke pantai danau Galilea,  bahkan setelah kebangkitanNya (Yoh 2:12,13), -- membutikan bahwa Dia telah datang,  seperti kita, “makan dan minum” (Luk 7:34).  Jika Ia dicatat tidak makan selama 40 hari masa pencobaan,  ini menyiratkan penampakan yang bertentangan dari kebiasaan normalNya (Luk 4:2).  Memang,  Ia nampak kepada orang banyak di zamanNya,  begitu bergantung pada pendukung kehidupan yang bersifat jasmaniah yang ketimbang seperti Yohanes pembaptis si pertapa besar yang mendahului Dia (Luk 7:34).  Pembuktian ini,  dan pembuktian-pembuktian yang lain yang masih banyak,  seperti penderitaan jasmaniahNya,  kematianNya,  penguburanNya,  luka-luka ditanganNya dan di kakiNya serta dilambungNya setelah kebangkitanNya,  membuktikan, di balik kekelaman keragu-raguan,  bahwa Dia secara utuh ikut serta di dalam sisi jasmaniah dari tabiat umumnya kita.” (London, Longmans,  Greenm  and Co, 1890, pp. 19-21).
Logos selaku manusia,  selaku daging, juga memiliki jiwa manusiawi yang dipunyai Yesus ketika tinggal di bumi.  Dia dapat mengasihi, Dia bisa terguncang dengan hebat,  Dia bias menderita batain.  Kesemuanya menunjukkan emosi jiwa manusia.  Jadi kita dapat mengatakan dengan jelas bahwa Logos,  yang kekal,  menjadi manusia secara utuh,  sempurna,  menjadi mempunyai tubuh jasmaniah manusia dan jiwa manusia.
Selain itu,  kita yakin bahwa istilah sarx,  “daging” ini dipergunakan oleh Yohanes untuk menentukan betapa dalamnya kerendahan hati Allah dalam menjadi manusia,  demi kita, supaya kita dapat menjadi anak-anak Allah.  “Daging” di dalam tulisan kudus biasanya menunjukkan keadaan keberdosaan tabiat manusiawi kita. Ia (daging itu) berdiri bertentangan dengan Roh manusia.
Daging menyeret kita ke arah dosa,  dan roh ke arah Allah.  Yohanes mempergunakan kata itu untuk menunjukkan kepada kita betapa rendahnya Tuhan Yesus telah turun demi untuk menyelamatkan kita dari dosa.  Demikian rendah sehingga tidak seorangpun dapat berkilah bahwa dia tidak dijangkau oleh Juruselamat dunia.
Perendahan Yesus ini dengan ini dengan jelas digambarkan oleh rasul Paulus  di dalam suratnya kepada jemaat di Filipi (2:6,7): “yang walupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,  melainkan telah mengosongkan dirinya sendiri,  dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. “Hal ini memang merupakan misteri terbesar sepanjang abad  -- Allah dengan suka rela menaruhkan kepada diriNya sendiri suatu bentuk,  rupa dan wujud manusia tanpa dosa .  :Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: Dia (Alalh) telah menyatakan diriNya dalam rupa manusia (I Tim 3:16).
Kata kerja egeneto,  “menjadi” dalam kelompok kata  “dan Firman itu telah menjadi daging”  diungkapkan dalam bentuk second aorist tense,  yang menandakan suatu peristiwa sejarah di masa lalu.  Kita kembali ke Betlehem, ketika Anak Allah lahir di antara mahluk-mahluk rendah, di dalam sebauh palungan.  Dan bahkan ke suatu hal yang ajaib,  peristiwa inkarnasi Logos ini telah dinubuatkan beratus-ratus tahun sebelumnya oleh Nabi Mikha,  yang mengatakan:  “Tetapi engakau hai Betlehem Efrata,  hai yang terkecil diantara kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagiku seorang yang akan memerintah Israel,  yang permulaannya sudah sejak purbakala,  sejak dahulu kala.” (5:1).  Di dalam Versi Septuaginta Yunani,  kata yang diterjemahkan dengan purbakala,  disebut ap archees,  archee,  kata yang pertama kali digunakan dalam Yohanes 1:1,  “pada mulanya.” Di sini,  kemudian,  dalam pribadi Yesus Kristus,  kita punya seseorang yang kekal  dan tak terbatas telah memasuki dunia kenyataan yang fana dan terbatas supaya mempengaruhi kita manusia untuk memasuki dunia kenyataan yang fana dan terbatas supaya memperbaharui kita manusia untuk bersekutu dengan Allah Bapa melalui pencurahan darahNya  di salib.
Bagaimanapun,  kita mesti mengatakannya lagi,  bahwa Dia,  Logos,  yang abadi,  bahkan ketika menjadi daging dan berjalan-jalan di bumi pada saat yang sama masih terus sebagai Allah yang kekal.  Hal ini merupakan simpulan yang sulit dicerna akal budi kita yang harus kita terima begitu kita membaca riwayat hidupNya ataupun kelahiranNya.
Bertentangan dengan kaidah kehidupan.  KematianNya bertentangan  dengan kaidah kematian.  Ia tidak mempunyai ladang gandum atau peralatan mengail,  tetapi Ia dapat membagi-bagikan makanan kepada 5.000 orang bahkan mempunyai roti dan ikan kelebihan.  Ia berejalan bukan di atas karpet yang indah atau permadani yang tebal,  tetapi Ia berjalan di atas air danau Galilea dan para murid ditolongNya di sana.  Tiga tahun Ia memberitakan Kabar Baik.  Ia tidak menulis buku,  tidak membangun gedung gereja,  tetapi mempunyai dukungan keuangan.  Tetapi,  setelah 2.000 tahun,  Ia merupakan Tokoh sentral sejarah manusia,  poros di sekitar mana peristiwa-peristiwa abad demi abad berputar, dan hanya satu-satunya penghidup kembali umat manusia.  Apakah Dia semata-mata Anak Yusuf dan Maria yang disalibkan dunia 2.000 tahun yang lalu?  apakah Dia sekedar manusia berdarah yang darahNya tercecer  di Golgota untuk menebus para pendosa?  Apa yang dapat dipekikkan oleh manusia,  mahluk berakal itu hanyalah “ TUHANku ALLAHku!”  

TAK BANYAK YANG BERPIHAK PADANYA

Kebangkitan Kristus didahului oleh ketakutan-Nya yang luar biasa.  "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah." (Markus 14:34) “Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” (Lukas 22:44). Dan akhirnya Dia Mati juga. Situasi yang menakutkan bagi-Nya rupanya tidak disadari oleh orang-orang terdekatNya. Tak banyak yang berpihak pada-Nya. Yakobus dan Yohanes tergoda oleh apa yang dilakukan Petrus yang diharapkan memahami curhatan-Nya tapi mereka malah tidur.

Tak berselang lama setelah membangkitkan Lazarus yang telah mati, Dia berharap “supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." (Yohanes 11:42). Namun diantara mereka yang telah membuktikan mujizatNya, sebagian malah “pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu.” (Yohanes 11:46). Itu menjadi pengantar bagi kematian-Nya. Mengapa mereka malah “pergi kepada orang-orang Farisi”.  Bukankah “banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya”, (Yohanes 11:45), tidak percaya kepada pihak lain selain komunitas mereka sendiri.

Dia tetap saja datang ke dunia ini meskipun tak banyak pihak akan berada di pihakNya. Dia tahu persis hanya kematianNya yang bisa menyelamatkan umat manusia. Dia sangat mengasihi kita. Dia menghargai setiap jiwa yaitu jiwa kita. Peristiwa di Gerasa membuktikan itu. Satu jiwa lebih berharga dari dua ribu ekor babi. “Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya.” (Markus 5:13)

Ia Dibunuh Dalam Keadaan-Nya Sebagai Manusia,”

Ada banyak peristiwa heroik  oleh para superhero yang menyelamatkan sesamanya. Namun tidak semua penyelamatan itu kelak mengembalikan korban selamat kepada penciptanya. Untuk bisa kembali bersatu dengan penciptanya, setiap orang harus mempercayai Yesus yang diutus Allah untuk menyelamatkan umat manusia.  Pembunuhan badaniah atas Juru Selamat gagal menghapus predikat Yesus sebagai Juru Selamat. Justru Yesus-lah  yang berhasil mengalahkan maut.  

Sebelum memperoleh tawaran anggur asam, Kristus-pun sempa memperoleh ciuman beracun dari salah satu murid-Nya. Yah, seorang murid yang menjual gurunya. Ciuman itu pertanda bahwa yang dicium itulah orang yang harus ditangkap dan disalibkan oleh orang banyak melalui para serdadu Romawi. Dia mengalami itu semua ketika masih berperasaan sebagai manusia yang berperasaan. Sama halnya, mereka yang “pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu.” adalah orang-orang yang mengkhianati Dia dan tentu saja melukai perasaanNya sebagai manusia.

Karena keberadaan kita sebagai orang berdosa, kitalah penyebab dari penderitaanNya. Kitapun tidak berpihak padaNya. Kita juga mempunyai andil atas terbunuhnya Dia. Bersyukur, dalam semua kesalahan kita, dengan legawa Dia malah berucap   "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas  23:34). Betapa mencengangkan, Dia tetap berpihak kepada kita.

Untuk menjadi terkenal orang-orang tertentu akan terlebih dahulu membuat sensasi. Sensasi itu bisa memenuhi hasrat hati sekaligus mendongkrak perolehan materi.  Sebaliknya keputusan Kristus untuk mengorbankan diri bukanlah demi sensasi. Yang Dia putuskan berakibat menyakiti dan merugikan diri-Nya sendiri. Itu hitung-hitungan manusia karena Dia tak merasa tersakiti dan tak merasa menderita kerugian. Hasrat manusiawi memang masih melekat dalam ragaNya itulah sebabnya Dia berharao cawan itu lalu daripadaNya.  Rasa takut-Nya sebagai manusia menjadikan “Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” Ya, Dia menerima semua itu bukan sedang dalam rangka mencari untuk mendapatkan sensasi sebagai selebriti. Banyak pihak malah menjadikan Dia sebagai musuh bersama untuk dimusuhi. Perangai manusia untuk memerangi buah pikiran Kristus tersulut untuk membenarkan diri mereka dan mewujudkan tuduhan rekaan mereka yang mengantar kematian jasmaniah-Nya. Bersyukur, Dia mengakhiri hidupNya dengan berucap “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku."  Berbahagialah setiap orang yang tidak menggadaikan kemuliaan jiwanya kepada penguasa dunia orang mati melainkan kepada siapa yang menciptakan mereka. Dia-lah yang paling berhak atas nyawa kita. Apapun keberadaan kita, Dia tetap berpihak kepada kita.  

 

Oleh: -Soerjan

© Berita Hidup, Po Box 247 Solo 57102 GKAI

amg                                                              Yayasan Berita Hidup
I