amg
home
fb icon
tweetlogo

MENGAPA KITA PERLU MENGAKU DOSA PADA SESAMA?
( Spiros Zodhiates,  Th.D)

Rasul Yakobus dengan jelas mengatakan,  “Hendaklah kamu saling mengaku dosamu.”  Setelah membaca ayat ini, kita segera sampai pada simpulan bahawa Yakobus tidak sedang membicarakan tentang pengkuan dosa-dosa kita, tetapi tentang kesalahan-kesalahan kita.  Ada dua macam dalam ayat ini,  yang pertama mempergunakan kata hamartias, yang biasanya di terjemahkan “dosa,” dan berikut adalah paraptoomata, yang artinya” keluar garis atau keluar jalur.”  Sama sekali tidak ada perbedaan mana yang  dapat kita pilih  di antara kedua kata ini di pakai sebagai yang pailing tepat, yang \pertama hamartias, artinya dosa dalam pengertian kehilangan tanda yang di berikan kepada kita oleh Allah; dan yang kedua paraptoomata artinya dosa dalam pengertian keluar dari tilas yang telah di tinggalkan oleh Tuhan  untuk kita tapak-tilasi.  Yang kedua menyiratkan yang pertama, karena kalau kita keluar dari jalan yang seharusnya kita lalui, kita tidak pernah sampai ketempat yang kita tuju.  Kalau dari Solo kita hendak ke Jakarta, kita tidak akan pernah tiba di Surabaya.  Kita harus mengambil jalan yang tepat untuk tiba di tempat tujuan yang kita tetapkan sebelumnya.  Karena itu, apapun arti dari kata itu, kata itu menunjuk pada menjadi atau berbuat sesuatu yang asing baik untuk jalan maupun tujuan.

Tak pelak lagi bahwa Yakobus di sini sedang membicarakan orang Kristen.  Ia harus saja mengakhiri cerita tentang seorang saudara yang sakit yang di kunjungi oleh para penatua gereja lokal yang mengurutnya dengan minyak dan mendoakan dia  supaya sembuh.  Yakobus mengatakan keppada kita bahawa  walaupun orang itu berdosa, Tuhan akan mengampuni dia.  Dari perkataan ini, sangat mungkin bahawa orang itu sakit karena dosa, kendatipun kasus ini tidak selalu terkenak pada setiap orang yang sakit.
Ada suatu hubungan yang nyata antara ayat sebelumnya dan ayat ini.  Hubungan ini terlihat dengan di gunakan kata oun, yang artinya, “karena itu.” Mengapa “karena itu”?  Ini merupakan prinsip umum bagi suatu kondisi khusus.  Maka, dalam ayat ini kita mengerti bahawa harus ada pengakuan dosa dalam dua ayat sebelumnya dalam kasus saudara yang sakit.  Ia harus mnengaku dosanya kepada para penatua gereja yang ia panggil untuk datang dan mengunjungi dia.  Dalam prinsip umum ini, Yakobus menyerukan kita  untuk melakukan apa yang di lakukan oleh saudara yang sakit dan berdosa itu.

Tetapi ia kuatir kalau-kalau penatua gereja lokal  itu merasa bahawa  mereka dapat menggolongkan diri mereka sebagai “bapa pengakuan,” Seperti yang di perbuat orang pada akhir-akhir ini.  Kita harus ingat di sini Yakobus tidak mengatakan, “karena itu, akuilah dosamu kepada para penatua.”  Melainkan, “hendaklah kamu saling mengakui dosamu.”  Ini sungguh menarik, Yakobus sedang berbicara kepada orang Kristen secara umum tatkala  ia berkata, “Hendaklah kamu saling mengakui dosa.”
Kalau benar bahawa umat awam, orang biasa yang berdosa, harus mengakui dosa-dosa mereka kepada para penatua gereja  mereka, maka sama benarnya pula para penatua itu harus mengakui dosa-dosa mereka.  Tidak harus kepada sesama penatua, tapi bisa kepada sesama saudaranya di dalam Kristus, saudara mereka secara rohani.  Setelah penyembuhannya, saudara yang sakit ini tidak dapat lagi menyimpan rahasia dosa di dalam dirinya yang membuat dia mengalami penyakit jasmani , sehingga ia menceritakannya kepada tamu-tamu Kristennya itu.  Bahkan seandainya tamu-tamunya itu bukan penatua yang mengemban tanggung jawab tertentu, kita yakin bahawa saudara yang sakit akan tetap mengakui dosa-dosanya kepada mereka.  Dan siapa yang tahu apakah para penatua ini, pada saat ketika saudara yang sudah di sembuhkan membuka hatinya dan mengakui dosanya kepada mereka,  berbalik mengakui dosa-dosa mereka juga kepadanya?
Kata alleelois yang di terjemahkan “saling” sangat menarik. Kata itu berasal dari kata Yunani allos,  “lain.”  Namun masih ada kata Yunani yang lain yang juga mempunyai arti yang sama, yaitu heteros.  Dari kata inilah asal kata “heterogen.”  Alos mengungkap suatu perbedaan menurut angka dan menunjuk pada sesuatu yang lain dari jenis yang sama,  sementara heteros mengungkapkan suatu perbedaan sifat dan menunjuk pada sesuatu yang lain dari jenis yang berbeda.   Ada sesuatu yang Roh Kudus hendak ajarkan kepada kita.  Kata allelois yang di gunakan Yakobus di sini menunjuk pada “orang lain dari kelompok atau golongan yang sama,”  dan berdasarkan sifat kata ini kita tiba pada simpulan bahawa Yakobus menganggap para penatua itu sekualitas dan sederajad  dengan sudara mereka yang mereka doakan itu.

Saudara itu tidak lebih rendah dari mereka, atau mereka lebih tinggi dari dia.  Ia mengakui dosa-dosanya kepada mereka, dan mereka dapat mengakui dosa-dosa mereka kepadanya.  Kenyataan bahawa mereka tidak sakit tidak berarti bahawa mereka bukan orang-orang berdosa, sebaliknya bahawa seseorang sakit tidak selalu karena ia orang berdosa.  Jadi arti mutlak dari ayat ini ialah sebagai orang kristen kita semua pada dasarnya sma, sejauh yang menyangkut kerentanan terhadap dosa, dan dalam mengakui dosa satu terhadap yang lain tanpa membedakan derajad, bahkan pun antara umat awam dan imam.  Seorang imam setelah mendengarkan pengakuan dosa  anggota jemaatnya yang menyesal harus mempunyai keberanian dan daya tahan moral untuk berbalik mengaku dosa-dosanya kepada anggota jemaatnya.  Itulah yang di ajarkan oleh rasul Yakobus.

Tetapi belum aman mendasarkan suatu doktrin pokok yang penting seperti ini pada satu ayat Alkitab saja.  Mari kita selidiki bagian-bagian lain dari Alkitab untuk melihat apakah pada zaman rasuli ada praktek tertentu dari apa yang di kenal sebagai pengakuan dosa.  Dapatkah kita menemukan di dalam Perjsanjian Baru ayat atau kisah yang menunjukan bahawa ada rasul yang menunggu di sebuah ruang kecil.  Menunggu orang yang akan mendatangi mereka dan mengakui dosa-dosa mereka?  Alkitab sama sekali sepi dari persolan ini.  Baik Petrus maupun Yohanes atau Paulus dan tulisan-tulisan mereka tidak pernah menceritakan bahawa da orang yang menghadap mereka untuk mengakui dosa-dosa merreka dan mereka di ampuni.  Apakah itu karena mereka yang bertobat dalam pelayanan mereka menjadi tanpa dosa?  Tidak. Karena mereka terus menyalahkan anak-anak rohani mereka karena keseiringan mereka berbuat dosa. Tidak, tidak ada pengakuan-pengakuan seperti ini di dalam Perjanjian Baru.

Pengakuan dosa pada masa rasul-rasul merupakan sesuatu yang insidental yang tidak di sokong oleh kewajiban dan peraturan rasuli, tetapi yang berasal dari paksaan sengaja dari jiwa pribadi yang membuat pengakuan itu.  Kalau orang tidak mengakui dosanya kepada Paulus, tidak berarti bahawa orang itu akan masuk kedalam nereka.  Pencuri yang di salibkan di sebelah Tuhan Yesus tidak mengakui dosa kepada rasul, karena tidak ada rasul pada waktu itu.  Tetapi ia menangis kepada Kristus, dan puji Tuhan, Kristus siap untuk setiap orang!  Maka kita dapati bahawa tidak ada satu contoh pun di mana ada murid-murid Kristus atau rasul-rasul tertentu  mengajak seseorang untuk datang dan mengakui dosanya kepada mereka.
Ingat perselisihan antara Petrus dengan seseorang yang bernama Simon, yang mencoba menawarkan uang kepadanya untuk mendapatkan karunia Roh Kudus? Petrus menyuruh dia bertobat, tetapi tidak memintanya mengakui dosa-dosanya kepadanya,  melainkan mengakui dosa-dosanya kepada Allah dan menerima pengampunan dari Dia.  “Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengamouni niat hatimu ini.” (Kis. 8:22).  Petrus, tidak seperti mereka yang mengklaim menjadi penerusnya menurut suksesi rasuli, tidak pernah menyuruh Simon mengakui dosa kepadanya, atau memberikan pengampunan dosa kepadanya.

Seluruh dunia kristen mengulangi ucapan doa Bapa kami, setiap kali kita mengulangi doa-doa itu, kita menyatakan bahawa pengakuan dosa itu di tujukan kepada Allah saja dan bahwa pengampunan juga hanya berasal dari Dia dan bukan dari orang biasa.  Kita ucapkan, “Bapa kami di sorga…..ampunilah kesalahan kami” (mat.6 :9,12).

Seorang pemungut cukai mencari belas kasihan, bukan dari manusia melainkan dari Allah, tatkala Ia berkata, “ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini,” (Luk. 18:13).  Justru wajar dan logis bahawa pengakuan dosa harus di sampaikan kepada pribadai yang mampu mengampuni dosa; dan hanya Allah yang mmampu melakukannya, seperti yang di nyatakan oleh Yohanes dalam suratnya yang pertama, pasal satu, ayat sembilan,”Jika kita mengaku dosa kita , maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kta dan menyucikan kita dari segala kejahatan,”  sama sekali tidak masuk akal pergi ke seorang tukang daging untuk membeli buku theologia.  Sama tidak masuk akal pergi kepada seseorang yang tidak sanggup mengampuni dosa kita untuk meminta pengampunan dosa.  Kita benar-benar akan kecewa.  Marilah kita datang kepada Yesus Kristus, karena “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1 Yoh. 2:2).

Tetapi apakah pengakuan dosa kita kepada sesama saudara berbeda dari pengakuan dosa kita kepada Allah?  Kalau kita mengakui dosa-dosa kita kepada Allah saja, karena hanya Dia yang sanggup mengampuni kita, yang telah melunasi hutang hukuman terhadap dosa kita, mengapa kita di suruh Yakobus  untuk saling mengakui dosa-dosa kita satu terhadap yang lain?
(Majalah Berita Mimbar Edisi 288)

 

                                                                  
Profil Majalah Berita Mimbar
BERITA HIDUP PO BOX 247 SOLO 57102